Mereka menunggu hampir dua puluh menit sebelum negosiator mencoba lagi. Kelly meminta semua petugas menjaga posisi dan memastikan kendaraan darurat tidak menutup akses ambulans. Ia tahu setiap gerakan yang tampak tergesa dapat dianggap sebagai ancaman oleh orang yang tidak mereka lihat. Tidak ada yang berbicara tentang kamera yang terus merekam dari kejauhan.
Naya berdiri di samping mobil komando dengan lembar catatan di tangan. Ia telah menuliskan tiga hal yang bisa disampaikan dengan jujur: nama Idris telah dipastikan; belum ada tuduhan resmi yang dibuat; dan mereka ingin tahu apakah ia atau orang lain membutuhkan bantuan medis. Ia mencoret kalimat keempat yang menyebut kemungkinan staf lain berada di dalam. Mereka belum tahu itu benar.
Flak memeriksa kembali foto identitas. “Apa atasannya sudah menerima kabar?”
“Kelly sudah menghubunginya. Kantor itu menyebut Idris pekerja teliti dan tidak pernah menimbulkan masalah,” kata Naya. “Itu tidak membuktikan apa pun, tapi setidaknya kita tahu dia punya kehidupan dan orang-orang yang akan mendengar setiap kata yang kita ucapkan.”
“Kadang kita lupa itu,” ujar Flak.
Kelly mendekat. “Kita dapat balasan dari kantor. Idris punya seorang anak laki-laki, tinggal bersama mantan istrinya. Jangan gunakan itu untuk menekannya.”
“Tidak akan,” kata Naya. Ia menutup map. “Keluarganya bukan alat negosiasi.”
Kelly mengangguk, lalu menerima panggilan dari tim negosiator. Ia mendengar, menanyakan satu hal, lalu menutup telepon. “Ada suara dari dalam. Mereka belum bisa membedakan siapa yang berbicara. Negosiator meminta kita menyampaikan bahwa tak seorang pun akan memasuki ruangan selama mereka bisa bicara.”
“Kalimat itu hanya boleh disampaikan kalau memang benar,” kata Flak.
“Benar. Selama tidak ada ancaman langsung kepada orang lain.” Kelly menyampaikan ketentuan itu kepada negosiator, yang menyusun ulang pesannya tanpa membuat janji mutlak.
Suara itu kembali terdengar melalui pengeras. Kali ini tirai bergerak. Seorang pria muncul dalam celah sempit, tidak cukup lama untuk dikenali. Lalu suara dari pengeras suara gedung terdengar, terputus-putus. “Saya tidak meminta siapa pun datang.”
Kelly mengangkat mikrofon. “Kami mendengar Anda, Idris. Saya Kelly Burke dari FBI. Kami tidak akan mendekat. Apakah ada orang lain bersama Anda?”
Kesunyian merentang. Satu menit. Dua menit. Naya ingin bertanya apakah ia terluka, tetapi Kelly memberi tanda menunggu. Akhirnya jawaban datang, lemah namun dapat dimengerti. “Ada seorang staf. Dia ketakutan.”
Kelly menoleh kepada tim negosiator. Mereka mengatur pertanyaan berikutnya: apakah staf itu membutuhkan dokter. Jawaban Idris terdengar samar, kemudian ia berkata, “Tidak. Dia hanya ingin pulang.”
“Apakah ia bisa berbicara sendiri?” tanya Kelly.
Tak ada jawaban. Flak mengamati Naya yang mencengkeram pena di tangannya. Ia tampak ingin memastikan nada mereka tidak berubah menjadi perintah. Kelly tidak mengisi kesunyian. Ia membiarkan Idris memilih kapan menjawab.
Akhirnya pria itu berkata, “Jangan panggil saya pengkhianat.”
Naya mengangkat matanya. Kelly melihatnya, lalu menjawab, “Saya tidak akan menyebut Anda begitu. Saya belum tahu apa yang terjadi. Kami ingin semua orang keluar dengan selamat, lalu kita bicara.”
Sebuah helikopter berita berputar jauh di atas kota. Suaranya mengganggu percakapan dan Kelly meminta petugas pers menyampaikan kepada stasiun bahwa mereka menghalangi negosiasi. Permintaan itu tidak menghentikan siaran, tetapi helikopter menjauh beberapa blok.
Flak mendekat setengah langkah kepada mikrofon. “Idris, nama saya Robert Flak. Saya tidak akan menanyakan apa pun tentang penyelidikan sekarang. Saya hanya ingin Anda tahu tidak ada seorang pun di luar yang mendapat manfaat bila Anda atau staf itu terluka.”
Kelly menatapnya, tetapi tidak memotong. Flak melanjutkan dengan suara rendah, “Anda tidak harus memercayai saya. Anda hanya perlu memberi kesempatan kepada staf itu untuk pergi.”
Lama tak ada jawaban. Kemudian suara Idris kembali. “Mereka akan menembak saya.”
“Tidak ada yang ingin itu terjadi,” kata Kelly. “Saya tidak bisa menjanjikan apa yang akan diputuskan nanti oleh pengadilan. Saya bisa mengatakan kami ingin Anda keluar hidup-hidup dan ditangani sesuai hukum.”
Naya menghela napas pelan. Jawaban Kelly tidak menjual kebebasan palsu. Kejujuran itu bisa terasa berat, tetapi setidaknya Idris tidak sedang ditipu.
“Suruh staf itu keluar dulu,” kata Kelly. “Kami akan memberi ruang. Ia akan diperiksa dokter dan dibawa ke tempat aman.”
Pengeras suara kembali sunyi. Flak melihat bayangan bergerak di balik kaca. Beberapa menit kemudian, pintu darurat di sisi gedung terbuka. Seorang perempuan muda berjalan keluar dengan tangan terlihat, dikawal petugas yang menjaga jarak. Ia gemetar hebat. Petugas medis menyambutnya, menyelimuti bahunya, dan membawanya menjauh dari kerumunan.
Dari tempatnya berdiri, Naya tidak bisa melihat wajahnya jelas. Ia hanya melihat perempuan itu menoleh ke pintu sebelum pintu tertutup kembali.
Kelly mengonfirmasi bahwa staf tersebut aman. “Kita masih menunggu Idris.”
Naya menatap jendela. “Dia baru saja mengambil keputusan yang menolong orang lain. Jangan biarkan itu hilang di antara semua dugaan.”
“Tidak akan,” kata Kelly. Ia meminta negosiator menyampaikan bahwa staf itu selamat dan sedang mendapat pertolongan. Tidak ada tepuk tangan atau sorak-sorai. Mereka semua tahu percakapan belum selesai.
Telepon Naya kembali bergetar. Maggie menanyakan apakah mereka menerima pembaruan CIA. Naya menjawab singkat bahwa jalur komunikasi sudah disepakati, lalu meminta Maggie tidak mengirim nama staf itu ke siapa pun sebelum FBI memberi izin. Ia menutup panggilan tanpa menunggu pujian.
Di seberang jalan, reporter menyiarkan berita bahwa seorang sandera telah dibebaskan. Ada yang menyebutnya kemenangan; ada yang mengulang kata pengkhianat. Naya menunduk, merasa muak pada betapa mudahnya orang membuat kesimpulan dari jarak aman.
Flak memandangnya. “Kau melakukan hal yang benar.”
“Belum tahu,” jawab Naya. “Yang penting sekarang jangan mengubah pembebasan itu menjadi alasan untuk memaksa dia.”
Kelly menyetujui. Ia memerintahkan semua orang mempertahankan jarak dan berunding lagi. Mereka telah mendapat satu bukti bahwa Idris masih mendengar. Kini mereka harus memberinya waktu untuk membuat keputusan berikutnya.
Seorang petugas medis kemudian memberi kabar bahwa staf itu tidak mengalami luka, tetapi masih sulit menenangkan napasnya. Kelly meminta agar ia tidak ditempatkan di depan kamera dan tidak dibawa kembali ke lokasi. Ia juga menyuruh timnya menghubungi orang tepercaya yang dipilih staf itu sendiri. Naya mendengar instruksi tersebut dan merasakan sesuatu di dadanya mengendur. Dalam keadaan genting, kepedulian sederhana kadang menjadi satu-satunya hal yang dapat dipercaya. Ia tidak tahu apakah Idris akan menyerah, tetapi setidaknya keputusan staf itu untuk keluar tidak dipakai untuk memberi tekanan baru.