“Bukan kami,” Naya mengulang, kali ini cukup keras untuk didengar Kelly. “Tidak ada seorang pun dari CIA yang menghubungi stasiun televisi.”
Kelly menatapnya tanpa menjawab. Udara dingin membuat napas mereka tampak seperti asap tipis. Di sekitar mereka, petugas bergerak dengan suara radio yang terputus-putus, sementara lampu kamera dari balik garis pembatas berkedip tanpa henti. Flak memperhatikan wajah Kelly: lelah, marah, dan berusaha memilah mana yang bisa dipercaya.
“Aku tidak bilang kau yang membocorkannya,” kata Kelly. “Aku bilang seseorang melakukannya. Berita itu menyebut nama orang yang bahkan belum kami pastikan.”
“Kalau begitu kita punya masalah yang sama,” sahut Naya. “Dan kita tidak akan menyelesaikannya dengan saling menuduh di depan kamera.”
Kelly melihat para wartawan di seberang jalan. “Mereka sudah menyebutnya pengkhianat.”
“Padahal kita belum bicara dengannya,” kata Flak. “Kita belum tahu apakah dia bersenjata, terluka, atau sedang berusaha melindungi seseorang. Nama yang salah di televisi bisa membuat orang di atas sana merasa tidak punya jalan kembali.”
Kelly mengembuskan napas, lalu mengangguk kepada seorang agen yang membawa map tipis. Ia membuka map itu di atas kap mobil. Foto identitas seorang pria berkulit sawo matang terpasang di sisi kiri; catatan personelnya menunjukkan bahwa namanya Idris Rahman, staf administrasi di kantor salah satu anggota Kongres. Di bagian bawah ada foto paspor yang lebih lama dan nama tengah yang berbeda ejaannya.
“Idris Rahman,” kata Kelly. “Bukan Shakin, bukan Shakib. Nama-nama itu muncul dari transkripsi awal dan satu panggilan yang kualitasnya buruk. Kami sudah memeriksa data kepegawaian. Ini orangnya.”
Naya membaca lembar itu. Ia menahan keinginan mengomentari kesimpulan yang telah dibuat terlalu cepat. “Apa yang benar-benar kita ketahui?”
“Dia masuk gedung pagi ini. Dia belum menjawab telepon. Kami punya alasan untuk percaya ia berbagi jadwal perjalanan seorang staf dengan orang yang kini sedang kami lacak.” Kelly mengetuk halaman itu. “Belum ada bukti dia tahu rencana serangan.”
“Bagus,” kata Flak. “Kita jangan mengubah dugaan menjadi fakta hanya karena banyak orang menunggu jawaban.”
Kelly mengangkat pandangan. “Aku yang bertanggung jawab di sini. Aku tidak akan menyerahkan kendali.”
“Tak ada yang meminta itu,” jawab Naya. “Saya bisa memberikan apa yang terverifikasi dari pihak kami. Anda memimpin keputusan di lapangan.”
Ketegangan di antara mereka sedikit melonggar. Flak menoleh ke bangunan. Salah satu tirai di lantai delapan bergerak, lalu diam lagi. Para petugas belum berhasil memastikan apakah ada orang lain di dalam ruangan itu. Telepon kantor Idris berdering beberapa kali tanpa jawaban. Kelly telah mengirim pesan melalui saluran resmi dan meminta manajemen gedung menyampaikan bahwa polisi ingin memastikan keselamatan semua orang.
“Ada cara lain untuk menghubunginya?” tanya Flak.
“Telepon pribadi, kantor, dan pesan dari atasannya. Belum ada balasan.” Kelly mengusap wajah. “Tim negosiasi masih mencoba. Aku tidak akan membiarkan siapa pun masuk hanya karena wartawan menuntut adegan dramatis.”
Naya memperhatikan agen di dekat mobil komando yang memegang pengeras suara. “Biarkan aku mencoba satu hal. Bukan meminta dia menyerah. Aku akan menyebut namanya dan mengatakan kami sudah mengoreksi laporan yang salah.”
Kelly ragu sejenak. “Tanpa menyebut dugaan soal jadwal.”
“Setuju.”
Mereka berpindah ke dekat kendaraan komunikasi. Naya meminta agar pesan disampaikan perlahan, satu kali, lalu memberi waktu. Kelly menyetujui. Flak mundur dari jangkauan mikrofon dan menatap jendela lantai delapan. Suara negosiator meluncur di udara, tenang dan jelas: mereka tahu namanya Idris Rahman; belum ada kesimpulan bahwa ia terlibat dalam serangan; mereka hanya ingin memastikan semua orang di dalam selamat. Ia tidak harus mengambil keputusan tergesa-gesa.
Tidak ada jawaban. Beberapa menit kemudian, sebuah lampu di balik tirai padam. Naya tidak meminta pesan kedua. Ia berdiri diam, menahan desakan untuk mengisi kesunyian dengan kata-kata yang mungkin justru memperburuk keadaan.
Di dekat garis pembatas, seorang reporter meneriakkan nama CIA. Kelly memberi isyarat kepada petugas persnya, yang segera bergerak menghalangi kamera dari lokasi negosiasi. “Kita tidak membiarkan mereka mengatur langkah kita,” katanya.
“Dan kita tidak menyembunyikan informasi yang bisa menjaga keselamatan orang,” kata Naya. “Kalau ada yang terverifikasi dan perlu diketahui Kelly, saya akan menyampaikannya.”
Kelly memandangnya sebentar. “Baik. Mulai sekarang, satu jalur komunikasi. Kau, aku, dan Maggie. Tidak ada pesan yang beredar sebelum diperiksa.”
Naya menerima syarat itu. “Saya akan menghubunginya.”
Flak masih menatap jendela. Ia tahu orang-orang di balik kaca bisa mendengar kerumunan, sirene, dan gema suara petugas. Ia juga tahu rasa terpojok sering membuat seseorang memutuskan sesuatu yang tak bisa ditarik kembali. Ia berharap Idris mendengar kalimat terpenting tadi: belum ada yang memutuskan siapa dirinya.
Sebuah telepon bergetar di tangan Naya. Ia membaca pesan singkat, lalu mengangkat mata kepada Kelly. “Maggie memastikan tak ada staf CIA yang menghubungi media. Ia akan mengirim daftar siapa saja yang menerima pembaruan resmi, melalui saluran aman.”
“Terima kasih,” kata Kelly. Untuk pertama kali sejak mereka bertemu, nada suaranya tidak lagi menuduh.
Lalu dari lantai delapan terdengar bunyi keras, entah benda jatuh atau pintu dibanting. Semua orang menoleh. Kelly tidak memberi perintah untuk bergerak. Ia hanya mengangkat tangan, meminta semua orang menunggu.
Flak menahan napas. Di balik tirai yang tertutup, seseorang akhirnya menarik bayangannya menjauh dari jendela.
Kelly meminta satu petugas mencatat waktu setiap pesan, bukan hanya isinya. Ia ingin kelak dapat menjelaskan kapan mereka mengubah pendekatan dan alasan di baliknya. Naya mengusulkan satu salinan untuk tim negosiator dan satu lagi untuk pemeriksa independen. Tak seorang pun menolak. Keputusan kecil itu memberi mereka pijakan di tengah kabar simpang siur. Flak menyadari betapa sering ia dahulu mengira kecepatan sama dengan ketepatan. Ia pernah melihat orang membayar mahal untuk perbedaan itu. Kini ia memilih menunggu satu menit tambahan daripada menyesali satu kalimat yang tak bisa ditarik kembali.
Kelly meminta satu petugas mencatat waktu setiap pesan, bukan hanya isinya. Ia ingin kelak dapat menjelaskan kapan mereka mengubah pendekatan dan alasan di baliknya. Naya mengusulkan satu salinan untuk tim negosiator dan satu lagi untuk pemeriksa independen. Tak seorang pun menolak. Keputusan kecil itu memberi mereka pijakan di tengah kabar simpang siur. Flak menyadari betapa sering ia dahulu mengira kecepatan sama dengan ketepatan. Ia pernah melihat orang membayar mahal untuk perbedaan itu. Kini ia memilih menunggu satu menit tambahan daripada menyesali satu kalimat yang tak bisa ditarik kembali.