Tony berhenti di dekat sebuah telepon umum,dia merogoh kantong celananya dan menemukan dua keping uang koin.
"Maaf bang Ray,kesembuhan ibuku lebih penting untuk saat ini" gumamnya.
Tony menekan nomor sambungan darurat kepolisian dan kemudian menjelaskan apa yang telah terjadi mengenai perampokan di bank.
Walau pun pada awalnya operator kepolisian tidak percaya tapi Tony berusaha untuk meyakinkan sang operator itu sehingga operator itu percaya dan meneruskan informasi dari Tony kepada kapten Polisi yang sedang bertugas.
Setelah menelepon Polisi dan mengkhianati Ray,Tony melanjutkan perjalannya menuju kediaman Joni,kawannya,sambil bersiul-siul kecil.
"Dasar pecundang..!! Apa kau sudah mendapat pekerjaan sekarang? hahaha."
Terdengar suara teriakan dari dalam mobil yang melintas di samping Tony.
Tony memperhatikan mobil yang melintas itu,dia kenal betul dangan mobil yang melintas dan orang yang memakinya dengan kata pecundang tadi.
"b******k kau...!!!" balas Tony.
Dia mengambil batu dan hendak melempar mobil itu,namun mobil itu telah helang di telan oleh tikungan yang berada di depan.
"Awas saja kau nanti..!!" Tony berseru kesal.
Ya,orang yang meneriakinya tadi adalah mantan bosnya waktu bekerja di restoran tempo hari. Mungkin saja si bos masih belum puas hati dan tidak bisa membalaskan dendam karena tempo hari dia di hajar oleh Tony.
Dia sampai di kediaman Joni. Di mana saat itu Joni sedang asik berbincang memakai bahasa isyarat dengan si bisu.
"Hai,dari masa saja kau? kenapa baru kelihatan?" tanya Joni saat Tony baru saja sampai.
Tony duduk sebentar lalu mengambil kotak rokok yang tergeletak di atas meja.
"Sial, kosong..!!" umpatnya sambil melempar kotak rokok itu.
Joni hanya tertawa melihat sahabatnya yang tertipu oleh kotak rokok kosong.
Joni kemudian memberikan rokok yang sedang di hisapnya kepada Tony.
"Lumayanlah,dari pada tidak sama sekali" katanya sambil menerima rokok sisa dari Joni.
"Kau belum menjawab ku,dari mana saja kau seharian ini?" Joni mengulang pertanyaannya.
"Bukannya kau yang menghilang dari kemarin?" Tony balik bertanya.
"Kalau soal itu,sorry aku kemarin ada sedikit pekerjaan diajak oleh Max,makanya aku tak mengabari mu" jawab Joni.
"Kau ada pekerjaan lain,tapi tidak mengajak ku?" tanya Tony lagi sedikit kesal.
"Aku juga diajak orang,bagaimana mungkin aku mengajak orang lain juga?" terang Joni.
"Jadi aku ini orang lain bagimu?" tanya Tony masih kesal.
"Bukan,bukan begitu maksudku, ah...tapi ya sudahlah,di jelaskan juga kau tidak akan mengerti sama sekali,sekarang bagaimana dengan keadaan ibumu?" tanya Joni lagi.
"Ya begitulah,aku butuh uang untuk operasi beliau esok hari" jawab Tony sambil menarik nafas panjang.
"Lantas apa kau sudah mendapatkan uang itu?" tanya Joni lagi.
"Aku tidak tau,tapi aku ada pekerjaan seharian ini dan aku rasa jika aku menjual barang-barang itu,aku akan mendapatkan uang yang cukup untuk biaya operasi ibuku" jawab Tony.
"Pekerjaan apa yang kau lakukan seharian ini sampai hampir tengah malam seperti ini?" Joni semakin penasaran.
"Nanti kau juga akan tau sendiri,sekarang ayo ikut dengan ku!" ajak Tony.
"Kemana?."
"Ayolah...!!!" seru pemuda itu sambil bangkit dari tempat duduknya dan melangkah pergi.
Mau tak mau,Joni mau pun si bisu pun akhirnya mengikuti kemana Tony mengajak mereka.
*****
Tony mengajak Joni dan si bisu yang ternyata bernama Fabio ke tempat di mana dia menyembunyikan hasil rampokan dan senjata milik Ray dan kawan-kawan tadi. Malam yang begitu larut membuat suasana di perkampungan kumuh itu tidak begitu ramai sehingga tidak ada orang yang mencurigai mereka. Tony meminta Joni untuk tidak banyak bertanya sebelum nanti dia yang akan menjelaskan apa yang telah dia kerjakan dari kemarin.
Selesai mengambil tas ransel itu,kemudian Tony mengajak Joni dan Fabio menuju pasar gelap di mana di tempat itu adalah tempat untuk menampung barang-barang curian dan sejenisnya.
Dia menjual barang sitaan dari nasabah bank tadi siang berupa emas,ponsel dan 3 pucuk senjata api milik Ray dan kawan-kawan.
Joni sempat terkejut melihat barang-barang yang di jual oleh Tony,sahabatnya. Namun dia mencoba menahan diri untuk tidak bertanya seperti yang di katakan oleh Tony di awal sebelum mereka berangkat.
"Untuk semua barang-barang ini,aku hanya bisa memberi mu sekitar 17 juta saja" kata si penadah saat menaksir semua barang-barang milik Tony yang terletak di atas meja.
"Masa iya cuma segitu?" tanya Tony tak percaya.
"Kau tau,pekerjaan sebagai penadah itu sangat beresiko dan aku juga tak tau kau mendapatkan barang-barang ini dari mana" jawab si penadah.
"Ayolah,ini untuk biaya Rumah Sakit ibuku,tidak bisakah kau menaikan sedikit lagi?" pinta Tony.
"Ayolah Tony,jangan bawa-bawa ibumu dalam urusan kita ini" keluh si penadah.
"Lantas aku harus bagaimana lagi? ini semua memang untuk biaya pengobatan ibuku!" balas Tony sedikit kesal.
"Tidak bisakah kau menaikannya menjadi 20 juta atau lebih dari itu?" imbuh Tony sambil bertanya.
Penadah itu hanya tertawa kecil sambil geleng-geleng kepala mendengar permintaan Tony.
"Kenapa kau tertawa? apa ada yang lucu?!" Tony kembali bertanya dengan nada sedikit meninggi.
"Tidak,tidak ada yang lucu sama sekali,tapi kau juga harus mengerti akan resiko yang aku hadapi di kemudian hari nanti" balas si penadah.
"Kalau kau takut,kau tak usah menjadi penadah!!" Tony mulai kesal.
"Tenang...tenang sobat" kata Joni sambil menenangkan sahabatnya.
"Baiklah,aku bisa membayar lebih untuk semuanya,tapi___"
"Tapi apa?" potong Tony.
"Tapi,kau harus menjelaskan asal-usul semua barang-barang ini,dari mana kau mendapatkannya?" tanya si penadah.
"Apa itu penting bagimu? Tony balik bertanya.
"Ya,kalau kau tidak mau,ya tidak mengapa,kau bisa membawa kembali ini semua dan kita tutup saja transaksi kita" ancam si penadah.
"Kau mengancam ku?" tanya Tony yang sedari tadi memang sudah cukup kesal.
Tony diam sejenak dan jika dia tak menjual barang itu malam itu juga,dia tak tau lagi harus menjual kemana dan harus mencari uang kemana lagi untuk biaya berobat ibunya.
Setelah berpikir beberapa saat,akhirnya Tony dengan sedikit rasa kesal mau menjelaskan asal-usul semua barang yang dimilikinya.
"b******k kau...!!! baiklah aku akan katakan dari mana. ini semua berasal."
Tony lalu menjelaskan kejadian perampokan di bank siang tadi yang banyak di liput oleh media dan menjadi kabar berita utama di setiap stasiun tv sampai malam tadi. Joni yang mendengar penuturan Tony menjadi terkesiap kaget dan tak menyangka sahabatnya menjadi senekat itu.
"Hebat..!! kau bisa lolos sekaligus memenjarakan Ray serta kawan-kawannya yang lain!!" puji si penadah.
"Nah kau sudah tau bukan?" tanya Tony.
"Sekarang beri aku 20 juta seperti yang kau janjikan" tagih Tony.
"Baik...baiklah,aku akan membayar semua sesuai yang kau pinta,tunggu sebentar," penadah itu lalu masuk ke kamarnya dan sesaat kemudian dia keluar lagi membawa sejumlah uang yang di minta oleh Tony.
"Ini,ambilah dan semoga ibumu segera sembuh dan keluar dari Rumah Sakit secepatnya" ujar si penadah sambil memberikan uang itu kepada Tony.
"Terima kasih," balas Tony sambil menerima uang tersebut.
"Kau tidak ingin menghitungnya terlebih dahulu?" tanya si penadah.
"Tidak usah,aku percaya kepadamu,senang berbisnis denganmu" kata Tony sambi mengulurkan tangan dan mereka pun saling berjabat tangan.
"Selain menjadi seorang pecundang ternyata kau juga raja tega dan seorang pengkhianat juga" ejek si penadah saat Tony hendak meninggalkan tempat itu.
"Terima kasih atas pujianmu,kau akan tau rasanya jika kau menjadi sepertiku" balas Tony sambil mengedipkan mata ke penadah itu.
Lalu dia pun mengajak Joni dan Fabio untuk pergi meninggalkan tempat itu.
Joni memiliki sejuta pertanyaan di dalam benaknya namun dari sejuta pertanyaan itu dia cuma mempunyai satu jawaban dari banyak pertanyaan nya yaitu demi seorang ibu.