Pagi-pagi sekali Tony segera bergegas menuju ke Rumah Sakit dan menemui Dokter yang merawat ibunya. Saat itu dia hanya memiliki uang sebanyak 50 juta dan jauh dari jumlah uang perawatan yang nilainya seratus juta lebih karena sudah hampir 2 Minggu ibunya dirawat di sana dan itu bukanlah Rumah Sakit biasa. Semakin bagus Rumah Sakit,semakin besar pula biaya perawatan di sana.
Took..!!! Took...!! Took...!!
Tony mengetuk pintu ruangan Dokter itu tiga kali.
"Masuk...!"
Terdengar suara sahutan dari dalam ruangan itu dan Tony pun segera masuk ke dalam.
"Silahkan duduk!" kata Dokter muda itu dengan ramah.
Tony kemudian duduk di kursi seberang meja Dokter tersebut.
"Apa ibu saya bisa di operasi hari ini Dokter?" tanya Tony.
"Apakah saudara sudah menyelesaikan seluruh biaya tagihan ibu anda sebelumnya?" Dokter muda itu menjawab pertanyaan Tony dengan pertanyaan lagi.
Tony terdiam untuk beberapa saat.
Pemuda itu lalu mengeluarkan uang dari tas yang di sandangnya sedari tadi.
"Saya hanya memiliki uang sebanyak ini,sisanya akan saya lunasi secepatnya" kata Tony sambil meletakan gepokan uang itu di atas meja sang Dokter.
"Saya terpaksa menemui Dokter terlebih dahulu sebelum menyelesaikan pembayaran ke meja kasir Rumah Sakit ini karena saya hanya mampu membayar setengahnya,saya takut kasir tidak mau menerima dan ibu saya tidak bisa di operasi hari ini" terang Tony lagi.
Dokter muda itu terdiam sejenak dan dia paham betul kesusahan yang sedang di hadapi oleh orang yang tengah duduk di hadapannya itu.
"Ini tagihannya sudah berada di atas seratus juta,bagaimana anda akan membayar sisanya?" tanya Dokter muda itu yang juga butuh kepastian.
"Untuk ibu saya, saya akan melakukan apa saja Dokter,tolonglah..." kata Tony sedikit memelas.
"Apakah anda memiliki sesuatu untuk anda jaminkan? jika operasi ibu anda kami lakukan?" tanya Dokter lagi.
Tony terdiam dan dia memang tak memiliki apa-apa sebagai jaminan yanga harus di jaminkan kepada pihak Rumah Sakit.
"Nyawa saya jaminannya..!!" Tony menjawab dengan mantap.
"Selama nyawa masih di kandung badan,apa pun akan saya lakukan,percayalah..!!!" sambung Tony.
Melihat keteguhan dan kegigihan hati Tony yang mau melakukan apa saja untuk ibunya,membuat Dokter muda itu menjadi sedikit bersimpati kepada Tony. Dokter itu juga akan melakukan hal yang sama jika hal seperti itu menimpa pada dirinya dan juga ibunya.
"Baiklah" kata Dokter itu singkat.
Kemudian Dokter muda itu menulis sebuah surat yang mana surat itu nanti akan di teruskan ke kasir Rumah Sakit untuk mempermudah Tony melakukan pembayaran.
"Saya harap anda tidak main-main dan segera mencari uang untuk melunasi seluruh biaya pengobatan ibu anda" ujar sang Dokter sambil memeberikan secarik kertas kepada Tony.
"Nah,bawa surat ini ke kasir dan juga uang ini,mereka akan menerimanya."
Tony menerima kertas yang di berikan Dokter itu dan dia sangat terharu karena masih ada orang yang baik yang tidak mempersulit urusannya.
"Terima kasih Dokter,"
Cuma kata-kata itu yang terucap dari bibirnya sambil menyalami sang Dokter.
"Lepas tengah hari nanti ibu anda akan masuk ruang operasi" ucap sang Dokter.
Tony lantas keluar dari ruangan Dokter dan menuju ke meja kasir yang berada di lobby Rumah Sakit tersebut.
Dia memberikan surat yang di berikan oleh Dokter tadi dan juga uang 50 juta yang dia bawa.
Setelah menyelesaikan semuanya,kemudian dia pun menuju ke ruangan di mana ibunya di rawat.
Di depan pintu kamar itu dia melihat adiknya sedang duduk dan tampal sedang gelisah.
Tony menghampiri adiknya itu dan mengusap kepalanya,hal yang sering di lakukannya terhadap adiknya sejak dari kecil.
"Bang Tony...!!" seru Eva,adiknya.
"Bagaimana keadaan ibu?" tanya Tony.
"Perawat sedang memeriksa keadaan itu,sepeti biasa setiap pagi memang sepeti itu" jawab Eva.
Tony mengintip sejenak dari kaca dan melihat ibunya sedang di periksa oleh beberapa orang perawat.
"Ini ambilah" kata Tony memberi sebuah bungkusan kepada adiknya.
"Apa ini?" tanya sang adik sambil menatap Tony.
"Sarapan pagi dan beberapa vitamin untukmu" jawab Tony.
Adiknya kemudian membuka bugkusan itu.
"Makanlah" kata Tony singkat.
"Abang tidak ikut makan?" tanya sang adik.
"Aku tadi sudah makan" jawab Tony yang sekali lagi mengintip ibunya yang masih dalam pemeriksaan Perawat.
"O..iya,nanti siang ibu akan di operasi" kata Tony memberi tau adiknya.
Eva menghentikam suapannya dan menatap kearah Tony.
"Heh..,kenapa kau menatap ku seperti itu?" tanya Tony heran.
"Abang sudah punya uang? dapat uang sebanyak itu dari mana?" tanya sang adik.
"Akhir-akhir ini aku,Joni dan Fabio mendapatkan pekerjaan dan mereka juga ikut menyumbangkan hasil kerjanya untuk kita" jawab Tony berbohong.
Eva jelas tidak akan percaya begitu saja tapi dia tak ingin bertanya lebih lanjut lagi karena tak ingin Tony tersinggung dan marah.
"Syukurlah kalau bang Joni dan Fabio mau membantu kita,bang" kata Eva.
"Ya,seperti itulah mereka,teman serasa keluarga sendiri" ujar Tony.
Cukup lama ke dua kakak beradik itu berbincang dan banyak hal yang merekan bincangkan pagi itu.
Para Perawat itu pun sudah keluar dari kamar dan selesai memeriksa ibu mereka.
Tampak sang ibu sedang tidur lelap dangan infus masih terpasang di tangannya.
"Abang tidak masuk dan melihat ibu?" tanya Eva.
Tony menggelengkan kepalanya.
"Aku harus pergi karena masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,nah terimalah ini" kata Tony memberikan sejumlah uang pegangan ke tangan adiknya itu.
"Tidak usah bang, abang mungkin lebih membutuhkan uang ini" tolak sang adik.
"Kau lebih membutuhkan uang ini,aku masih ada sedikit untuk peganganku sendiri" balas Tony.
Dia mengintip sekali lagi dan melihat ibunya yang tengah tertidur itu.
"Aku pergi dulu" kata Tony kepada adiknya.
Tak lupa sebelum pergi dia kembali mengusap kepala adiknya itu.
"Jaga ibu baik-baik" katanya sambil tersenyum.
Adiknya balas tersenyum dan mengangguk.
"Abang juga hati-hati bekerja dan terima kasih telah melakukan banyak hal untuk kami berdua" kata adiknya lagi.
"Apa pun itu, untuk kalian berdua akan aku hadapi dunia ini" lalu Tony pun bergegas pergi.
Eva menatap abangnya dengan penuh rasa haru,demi dia dan ibu mereka,abangnya rela bekerja keras tanpa memikirkan keadaannya yang saat itu menurut pandangan sang adik,Tony menjadi sedikit kurus dan kurang beristirahat.
Tony berjalan menyusuri Rumah Sakit itu dan terus berjalan sampai keluar.
Di luar sana sudah ada Joni dan Fabio yang menunggunya sedari tadi.
"Apa yanh akan kau lakukan sekarang" tanya Joni saat Tony baru saja sampai di luar.
"Entahlah" jawab Tony sambil mengangkat bahu.
"Yang jelas tagihan Rumah Sakit akan semakin membengkak dan aku harus mencari cara lain untuk melunasi semua biaya Rumah Sakit sialan ini..!!" serunya sambil berlalu pergi yang mana kedua sahabatnya mengikuti Tony dari belakang.