Setelah turun dari atap bank itu,Tony kemudian berjalan menyusuri semak belukar yang berada di belakang bangunan bank tersebut. Dia berjalan dengan cukup hati-hati karena selain rumput yang tinggi dan tebal,di beberapa tempat juga ada tanah yang basah yang menurutnya itu adalah rawa-rawa yang membuat dia berusaha agar tidak terjerumus masuk ke dalamnya. Nyamuk yang banyak dan ranting-ranting pohon yang tajam menggores kulitnya. Dia tak memikirkan apa pun ketika itu. Yang penting dia bisa keluar dulu dan mencari tempat yang aman untuk bersembunyi.
Setelah beberapa lama berusaha akhirnya Tony bisa keluar dari tempat itu dan sampai di seberang bank yang terpisah oleh sebuah kali kecil. Namun Tony berpikir tak mungkin bagi dia untuk terus membawa tas yang berisi hasil rampokan itu karena akan memancing kecurigaan dari orang yang nanti berpapasan dengan dia di jalan,apalagi di dalam tas itu juga ada beberapa pucuk senjata milik Ray dan kawan-kawan. Tony kemudian mencari tempat untuk menyimpan tas itu sebelum pergi.
Karena di bantaran kali di tumbuhi oleh semak-semak yang cukup rimbun,Tony pun menyembunyikan tas itu di balik rimbunnya semak belukar itu setelah memastikan bahwa tak akan ada orang-orang yang akan melintas dan lewat di tempat dia menyembunyikan hasil rampokan itu.
Setelah merasa cukup aman,dia bergegas pergi meninggalkan tempat itu. Dia berjalan menyusuri jalan setapak yang ada yang mana jalan setapak itu menuntun dia menuju sebuah perkampungan kecil yang di mana perkampungan itu banyak berdiri rumah-rumah yang tak layak huni dan Tony berpikir itu adalah perkampungan atau tempat tinggal para pemulung yang nasibnya kurang beruntung di ibu kota.
Dia berusaha tersenyum dan menyapa siapa saja orang yang berpapasan dengannya di jalan.
Saat sedang berjalan itu,timbullah niat licik pada dirinya. Hatinya sendiri berkata-kata dan mempengaruhi pikirannya. Dia tau hasil rampokan itu tidak seberapa dan jika pun di bagi empat,maka hasil pembagian itu tak cukup untuk membiayai operasi ibunya yang akan di lakukan esok hari. Jika dia bawa kabur sendirian,maka Ray dan kawan-kawan pasti akan memburunya dan membunuhnya.
Begitulah kata-kata yang berkecamuk dalam kepalanya.
Tony akhirnya sampai juga di tepi sebuah jalan besar setelah melewati beberapa perkampungan kumuh di tengah-tengah ibu kota.
Tony sedikit bingung harus melangkah kemana setelah keluar dan selamat dari kepungan Polisi.
Pada akhirnya dia memutuskan untuk menuju ke rumah sahabatnya,Joni.
*****
Satu jam lebih Polisi menunggu di luar gedung bank itu,namun setelah tiga orang sandera yang di lepaskan tadi,tidak ada lagi pergerakan yang di lakukan oleh perampok di dalam bank tersebut. Bahkan beberapa kali himbauan peringatan yang di lakukan juga tidak ada respon sama sekali dari para perampok. Hal ini membuat para Polisi menjadi curiga tapi mereka tidak mau bertindak gegabah karena masih ada para sandera di dalam sana.
Sampai pada satu ketika seorang polisi lari tergopoh-gopoh menghadap sang kapten.
"Lapor kapten..!!" seru polisi itu saat telah sampai di hadapan sang kapten dan tak lupa memberi hormat sebelumnya.
"Ya, katakan ada apa?sepertinya ada hal yang penting yang ingin kau sampaikan sehingga kau tergopoh-gopoh seperti itu" tanya sang kapten.
"Betul kapten, ini sangat penting menyangkut dengan kejadian perampokan ini" jawab bawahannya itu.
"Informasi apa yang kau dapatkan mengenai kejadian perampokan ini?" tanya kapten polisi itu lagi.
"Baru saja ada informasi dari kantor pusat,"
"Teruskan," perintah sang kapten sambil mendengarkan penjelasan bawahannya dengan seksama.
"Ada seorang pria menelepon ke kantor pusat dan menginfokan bahwa para perampok telah berhasil lolos kapten" anggota Polisi itu menjelaskan.
"Meloloskan diri?" tanya sang kapten sambil menyipitkan matanya.
"Bagaimana caranya? sedangkan dari tadi tidak ada pergerakan apa pun dari dalam,mereka baru membebaskan tiga orang sandera dan satu ibu hamil sejak tadi" kata kapten Polisi itu sedikit heran.
Sebagai pimpinan Polisi,sang kapten mencoba berpikir sejenak dan menggunakan nalurinya sebagai Polisi yang telah berpengalaman untuk mengingat-ingat setiap kejadian yang terjadi.
"Jangan-jangan mereka bertiga itu....!!!"
"Betul kapten,menurut informasi yang di terima dari kantor pusat memang seperti itu,dan kata penelepon misterius itu ketiga orang yang berpura-pura menjadi sandera itulah perampok yang sebenarnya" terang anggota Polisi itu.
"Baiklah,hubungi kantor Polisi terdekat dari rumah sakit dan juga hubungi pihak rumah sakit agar tidak membiarkan ketiga orang itu pergi meninggalkan rumah sakit,laksanakan...!!!" perintah sang kapten.
"Siap laksanakan...!!!" balas anggota Polisi tadi sambil bergegas pergi.
Tanpa menunggu lama,kapten Polisi itu pun memerintahkan para anggotanya untuk segera masuk ke dalam bank dengan berhati-hati.
Ternyata benar saat memasuki bank,di lobby bank itu ada empat memakai topeng dan duduk dalam keadaan terikat.
Topeng mereka masing-masing di bukan oleh para anggota Polisi itu.
"Tolong pak Polisi, tolong kami," ujar para sandera lirih.
"Di mana sandera yang lain?" tanya kapten Polisi.
"Mereka di sekap di dalam ruangan brankas pak" jawab salah satu sandera.
Kapten Polisi itu lantas memerintah anggota Polisi yang lain untuk segera ke ruangan brankas dan membebaskan para sandera yang sedari tadi di sekap di dalam bank.
Tak butuh waktu lama bagi pihak ke Polisian melakukan tugas mereka untuk mengevakuasi dan menyelamatkan para sandera.
Sang kapten begitu geram karena merasa dirinya telah di bodohi tepat di depan matanya sendiri. Dia ingin tau tampang para perampok itu dan dia memutuskan untuk segera meninggalkan lokasi dan bergegas menuju rumah sakit di mana ketiga orang tadi itu di bawa.
*****
Setelah mendapatkan perawatan insentif dari rumah sakit,Ray dan kawan-kawan berniat untuk segera pergi dari rumah sakit itu dengan cara diam-diam.
Mereka bertiga memang berada dalam satu ruangan perawatan sejak di bawa dan dievakuasi dari bank tadi oleh tim medis Polisi.
"Sebelum mereka menyadari semua ini,lebih baik kita segera pergi dari tempat ini" ajak Ray.
"Betul,jika terlalu lama di sini kita akan di interogasi oleh pihak kepolisian,dan itu bisa berbahaya bagi kita jika jawaban kita berbeda-beda nantinya" ujar Alvarez yang juga diamini oleh Sosa.
Ray melangkah terlebih dahulu menuju pintu keluar ruang perawatan itu namun alangkah terkejutnya dia di depan pintu itu sudah banyak Polisi yang berjaga. Padahal pada saat dia mereka datang tadi,tak begitu banyak Polisi berada di sana.
"Di luar banyak Polisi yang berjaga dan lalu lalang" kata Ray berbalik setelah memperhatikan keadaan di luar.
"Ini kan rumah sakit Polisi,wajar saja Polisinya banyak" jawab Sosa dengan lugunya.
"Memangnya ada Polisi sekali sakit sekali banyak masuk dan berobat ke rumah sakit?" tanya Ray.
"Ya..ndak tau kok tanya saya" jawab Sosa santai.
Saat Ray dan Sosa berdebat,pintu ruangan itu terbuka. Mereka bertiga lantas menoleh dan melihat ke arah pintu.
"Sial...!!!" maki Ray dalam hati dan seketika itu juga wajahnya menjadi sangat tegang sekali.
"Kalian di tangkap,setiap keterangan dan kesaksian yang kalian sampaikan,itu bisa menjadi bukti yang akan memberatkan serta meringankan kalian nantinya di persidangan..!!" seru kapten Polisi itu.
"Tangkap dan borgol mereka....!!!" sang kapten memberi perintah.
"Pak...pak...salah kami apa? kenapa kami di tangkap? kami ini korban pak" ujar Ray membela diri dan mencoba melawan saat akan di borgol.
"Yang penting kalian ikut kami dulu ke kantor dan kita bicarakan di sana" kata kapten Polisi itu.
"Bawa mereka ke kantor sekarang juga...!!!" kembali sang kapten memberi perintah.
Ketiga orang itu pun lantas di gelandang ke kantor Polisi.
Dalam hatinya Ray memaki dan menyumpah tak akan membiarkan Tony selamat jika kelak dia bebas.