Di ruangan kantor yang dindingnya dari kaca tebal, langit kota terlihat pucat. Gedung-gedung tinggi berdiri seperti barisan tombak, memantulkan cahaya matahari yang tidak pernah benar-benar hangat di mata Sugar.
Di depan kursi kulit hitamnya, meja panjang penuh berkas, peta, dan beberapa foto buram dari kamera pengintai.
Foto-foto itu bukan foto Airin.
Hanya potongan bayangannya: sosok perempuan hamil yang terekam di stasiun, di bandara, di jalan kota. Kabur, samar, tapi cukup untuk membuat darah Sugar berdesir.
“Dia lewat sini,” gumamnya pelan, matanya menelusuri gambar. “Dia benar-benar pergi sejauh itu…”
Bram berdiri di sisi ruangan, sedikit menunduk, menunggu.
Sejak kembali dari Jepang sementara, wajah Bram terlihat lebih lelah dari biasanya. Tapi di depan Sugar, ia berusaha tegak dan dingin.
“Kamu kehilangan dia dua kali,” suara Sugar akhirnya terdengar, pelan tapi seperti pisau. “Sekali di desa itu. Sekali di kota.”
Bram menutup mata sebentar. Ia tahu kalimat itu bukan sekadar laporan, tapi tuduhan.
“Dia naik kereta sebelum orang kita sampai di stasiun,” jawab Bram. “Dia sudah tahu pola kita. Dia pilih tempat ramai dan momen yang tepat. Dia bukan tawanan biasa, Bos.”
Sugar tertawa pendek, pahit.
“Tentu saja bukan,” katanya. “Dia perempuan yang pernah kuikat di ruang bawah tanah, lalu kuberi kamar di rumah baru. Dia tahu persis dua sisi dunia kita.”
Ia melempar foto ke meja, satu per satu, sampai beberapa berserakan.
Di antaranya, ada gambar kabur Airin di pintu bandara, Airin di kereta, Airin di depan rumah sakit—semua diperoleh dari orang-orang yang Sugar bayar untuk menggali data apa pun yang berhubungan dengan “perempuan hamil asing”.
“Dia melahirkan di sana,” ucap Sugar, bukan sebagai dugaan, tapi sebagai fakta yang ia tanam kuat dalam kepala. “Kalau tidak, dia tidak akan bertahan sejauh itu.”
Bram mengangguk.
“Rumah sakit di kota itu punya beberapa laporan kelahiran dari turis asing,” jelasnya. “Tapi data detailnya tidak bisa diakses sembarangan. Jepang bukan tempat yang mudah dimanipulasi seperti negara kita.”
“Ini bukan soal ‘mudah’ atau ‘sulit’,” potong Sugar. “Ini soal berapa banyak uang dan ancaman yang mau kita pakai.”
Namun meski ia berkata demikian, tatapan Sugar mengarah ke jendela, bukan ke Bram.
Ada hal lain yang berkecamuk di kepalanya.
Selama ini, Sugar selalu tahu di mana semua miliknya berada: uang, senjata, narkoba, anak buah, rumah aman.
Tapi sekarang, satu hal yang paling ia anggap “milik” tidak lagi ada di dalam jangkauan: Airin.
Dan bersama Airin, dua bayi yang belum pernah ia lihat.
“Aku bisa terima kalau musuh kabur,” lanjut Sugar pelan. “Aku terbiasa. Erlangga lari, Eidgar sembunyi, banyak orang seperti mereka menunda ajal mereka beberapa tahun. Tapi Airin…” ia menggenggam pinggiran meja, buku jarinya mengeras, “dia tidak seharusnya pergi dari aku dengan cara begitu.”
Bram mengangkat kepala sedikit. “Bos…”
“Aku yang ambil dia dari ayah tirinya,” lanjut Sugar, matanya menyala. “Aku yang jadikan dia istriku. Aku yang hampir kehilangan anak darinya. Lalu dia memutuskan, seenaknya, untuk pergi saat mengandung anakku. Kamu pikir aku bisa duduk diam?”
Bram tidak menjawab.
Ia tahu, tidak ada jawaban yang bisa menenangkan obsesi seperti itu.
Sejak kabar kehilangan Airin datang, Sugar berubah.
Tidurnya tinggal beberapa jam setiap malam.
Rumah baru jarang ia datangi, kecuali untuk memeriksa sendiri kamera dan kartu memori, seolah berharap Airin akan tiba-tiba muncul di depan pintu membawa koper dan perut besar, dengan alasan konyol seperti “aku cuma butuh udara”.
Di ruang bawah tanah rumah lama, kursi besi dan rantai bahkan sempat ia pandang lebih lama dari biasanya.
Tempat yang dulu jadi simbol kekuasaan dan hukuman, kini terasa seperti tempat yang kosong—karena Airin tidak lagi ada di lingkaran dunia itu.
Dalam beberapa minggu, Sugar mengerahkan semua yang bisa ia kerahkan:
Orang di bandara, orang di stasiun, orang di catatan imigrasi, orang di kepolisian bawah tanah, bahkan orang di jaringan asing yang biasa menangani “orang hilang”.
Setiap hari, laporan masuk.
Dan setiap hari, jawaban inti yang sama terdengar:
“Jejak ada, tapi hilang di kota.”
“Rumah sakit tidak bisa dibuka datanya tanpa alasan resmi.”
“Jika memaksa, kita bisa kena masalah dengan pemerintah Jepang.”
Kata “pemerintah Jepang” untuk Sugar bukan ancaman besar—ia sudah terbiasa menertawakan pemerintah siapa pun.
Tapi kali ini, ia tahu, kalau ia mengobrak-abrik sistem secara terang-terangan, ia tidak hanya akan berurusan dengan polisi Jepang, tetapi juga dengan jaringan internasional yang akan memandangnya sebagai ancaman global, bukan lagi bos lokal.
Sugar membenci fakta bahwa ada batas-batas tertentu yang tidak bisa ia tembus semudah menyeret seseorang ke ruang bawah tanah.
“Kalau kita tahu pasti rumah sakit mana,” lanjutnya pelan, menatap peta di meja, “kita bisa kirim orang sebagai pasien, sebagai keluarga pasien, sebagai apa pun. Kita bisa lihat ruang bayi, kita bisa dengar nama. Tapi sekarang… semua masih kabur.”
Bram menggeser satu berkas.
“Ini daftar rumah sakit yang menerima pasien asing dalam dua minggu terakhir di kota itu,” jelasnya. “Ada lima kandidat. Kita bisa mulai satu per satu. Pelan-pelan, dari luar ke dalam.”
“Pelan-pelan?” Sugar mendengus. “Aku tidak punya ‘pelan-pelan’.”
Namun di dalam marahnya, ada sesuatu yang Sugar tidak ucapkan:
Rasa panik.
Bukan panik karena Airin pergi.
Bukan panik karena ia kehilangan kendali atas satu bagian hidupnya.
Melainkan panik karena di kepalanya, muncul kemungkinan yang selama ini ia abaikan:
Bagaimana kalau Airin bukan hanya lari, tapi menyerang balik?
Ia tahu Airin benci dunia mafia.
Ia tahu Airin melihat sendiri ruang bawah tanah, anak kecil di rumah lama, daging dendam yang dikunyah Sugar setiap hari.
Jika Airin cukup nekat untuk kabur hamil besar dan melahirkan di negara lain, ia pun bisa cukup nekat untuk bicara pada pihak yang jauh lebih kuat dari jaringan Sugar: polisi, lembaga internasional, atau musuh lamanya yang punya kepentingan menjatuhkan kerajaan Sugar.
Bayangan itu membuat kepalanya berdengung.
“Kalau dia bicara…” suaranya merendah, “kalau dia sebut namaku di kantor polisi, di rumah sakit, di mana pun…”
Bram menyela pelan, “Nama Sadewa tidak sehitam ‘Sugar’ di catatan resmi. Kita punya perusahaan sah, kita punya jalur aman, kita bisa—”
“Bisa apa?” Sugar memotong tajam. “Bisa menutupi jejak sabu yang sudah bertahun-tahun? Bisa menutupi ruang bawah tanah di rumah lama? Bisa menutupi anak-anak yang disekap?”
Ia bangkit dari kursinya, berjalan pelan ke arah jendela.
“Sadewa mungkin punya wajah sah di dunia legal,” lanjutnya, menatap kota yang luas. “Tapi Sugar… Sugar sudah terlalu dalam. Dan Airin tahu keduanya.”
Bram terdiam.
Airin adalah satu dari sedikit orang yang pernah melihat kedua sisi Sugar: pria yang bisa mengelus perut seorang perempuan di rumah terang, dan pria yang bisa merobek kulit musuhnya di kursi besi rumah lama.
Itu menjadikan Airin bukan hanya istri, tapi saksi.
Sugar menempelkan tangan ke kaca, memandang bayangan dirinya di refleksi. Di sana, ia tidak lagi hanya melihat bos mafia dingin. Ia melihat lelaki yang… kosong.
“Aku gila, Bram?” tanyanya tiba-tiba, suaranya rendah.
Bram tidak langsung menjawab.
Pertanyaan seperti itu bukan hal yang pernah ia dengar dari Sugar sebelumnya.
“Bos…”
“Aku bangun setiap hari, bukan memikirkan transaksi sabu, bukan memikirkan pelabuhan, bukan memikirkan siapa musuh, tapi…” Sugar menghela napas berat, “memikirkan perempuan yang memutuskan pergi. Dan dua bayi yang bahkan belum pernah aku lihat. Kalau itu bukan gila… apa?”
Bram memandang pria di depannya—bos yang selama ini ia yakini tidak tergoyahkan.
Sekarang, Sugar terlihat seperti seseorang yang dihantui bukan oleh darah, tetapi oleh kemungkinan kehilangan.
“Kegilaanmu masih… terarah,” jawab Bram hati-hati. “Kamu tidak berhenti bekerja. Kamu masih jaga jaringan. Tapi kamu juga… tidak bisa lepas dari urusan Airin.”
Sugar tertawa pendek, kali ini dengan nada sinis pada dirinya sendiri.
“Gila terarah,” ulangnya. “Bagus sekali definisi itu.”
Ia berbalik, kembali ke meja, matanya menajam.
“Kalau aku gila,” katanya, “maka kita akan bertindak seperti orang gila: tidak peduli jarak, tidak peduli negara, tidak peduli berapa lama. Cari dia sampai dapat. Cari sampai dunia capek sendiri melihat namaku.”
Bram mengangguk.
“Kita lanjutkan,” katanya. “Rumah sakit pertama… kita mulai dengan cara halus. Kalau tidak berhasil, kita naikkan level.”
Sugar menunduk ke berkas, jari-jarinya menelusuri nama-nama rumah sakit dengan lambat, seolah menandai target.
“Aku tidak akan menyentuh Airin saat pertama kali bertemu,” katanya tiba-tiba. “Kalau kita berhasil menemukan dia.”
Bram mengangkat alis sedikit, terkejut.
“Tidak?”
“Tidak,” ulang Sugar. “Menggertak dia sekarang hanya akan membuat dia lari lagi. Atau malah bicara lebih banyak. Aku…” ia menghela napas berat, “aku ingin… lihat dulu.”
“Lihat?”
“Anak,” suaranya merendah. “Aku ingin lihat seperti apa wajah mereka. Seperti apa mata mereka. Seperti apa tubuh mereka bergerak. Setelah itu… baru aku putuskan apakah mereka harus tinggal di duniaku, atau… dunia lain.”
Bram merasakan ada sesuatu bergeser jauh di dalam Sugar.
Bosnya yang dulu tidak pernah ragu, kini mulai bicara tentang “dunia lain” sebagai kemungkinan.
Itu bukan kelembutan.
Itu adalah bentuk lain dari kegilaan: ingin memiliki semuanya, tapi tahu beberapa hal tidak bisa dimiliki tanpa menghancurkan semuanya.
“Kalau Airin menolak?” Bram tetap bertanya, karena itu kemungkinan paling besar.
Sugar diam lama.
“Kalau dia menolak…” akhirnya keluar, suaranya dingin lagi, “aku akan buat dia memilih: dunia mafia yang dia benci, atau dunia resmi yang siap memakannya kalau aku buka semua namanya.”
Bram merasakan dingin merayap di tulang belakangnya.
Ancaman Sugar tidak pernah setengah.
“Aku bisa bicara pada polisi bahwa dia bagian dari jaringanku,” lanjut Sugar pelan, seolah menjelaskan strategi perang. “Aku bisa bilang dia tahu banyak, bahwa dia kaki tangan, bahwa dia ikut terlibat, bahwa rumah lama bukan hanya tempatku menyiksa musuh, tapi tempat dia ikut berperan.”
Bram menatap Sugar, perlahan.
“Engkau… mau jatuhkan Airin kalau dia tidak kembali?”
“Aku mau jatuhkan siapa pun yang membuat hidupku berantakan,” jawab Sugar dingin. “Termasuk dirinya.”
Namun di balik kalimat itu, ada sesuatu yang Bram bisa tangkap:
Sugar bukan hanya ingin menghukum.
Ia juga ingin memastikan bahwa kalau ia jatuh, Airin tidak berdiri tegak di luar lingkaran, menontonnya runtuh.
“Kamu sadar,” kata Bram pelan, “kalimat-kalimatmu belakangan bukan lagi kalimat bos mafia, Bos. Itu lebih mirip… kalimat laki-laki yang patah hati.”
Sugar menatap Bram tajam, seolah siap memotong kepalanya karena berani berkata begitu.
Namun setelah beberapa detik, ketegangan itu pecah menjadi tawa pendek, getir.
“Patah hati, ya…” ia mengulang. “Mungkin. Bedanya, kalau orang biasa patah hati, mereka minum, menangis, dengar lagu. Kalau aku patah hati…”
Ia menatap berkas di meja, rumah sakit, kota, negara asing.
“…aku kirim orang ke tiga negara, aku pakai uang yang bisa beli satu perusahaan, aku pertaruhkan nyawa anak buah hanya untuk menemukan satu perempuan.”
Bram menghela napas kecil.
“Kegilaanmu… memang level lain,” katanya, setengah bercanda, setengah serius.
Sugar duduk kembali, matanya menajam pada peta Jepang.
“Tidak ada jalan kembali dari sini,” ucapnya pelan. “Kalau aku mulai perang ini, aku tidak bisa berhenti di tengah. Kalau aku mencari dia, aku harus siap konsekuensi.”
“Dan kalau kamu tidak mencarinya?” Bram bertanya, sekadar membuka satu jalur pikiran lain.
Sugar menatap kosong sesaat.
“Kalau aku tidak mencari…” ia menjawab lambat, “aku akan bangun setiap hari dan bertanya: di mana dia? Apa anak-anakku tumbuh dengan menyebut nama orang lain sebagai ayah? Apa dunia mereka penuh tawa sementara dunia yang kubangun penuh darah?”
Ia menggeleng, hampir tak percaya pada kemungkinan itu.
“Tidak,” putusnya. “Aku lebih memilih dunia terbakar karena aku mencarinya, daripada dunia sepi karena aku pasrah.”
Bram mengangguk.
Ia tahu, sejak saat itu perang sudah resmi dimulai—bukan perang antar jaringan mafia, tapi perang satu pria melawan dunia yang menyembunyikan perempuan dan dua bayi darinya.
Dan di kota asing, jauh dari kantor kaca itu, Airin memeluk Yael Sadewa dan Yuri Sadewa bergantian, tanpa tahu bahwa seorang pria di seberang laut sedang mantap berjalan ke arah kegilaan demi satu hal:
Mereka.