Hari-hari pertama setelah persalinan terasa seperti kabut bagi Airin.
Tubuhnya masih sakit, jahitan masih perih, dan setiap bangun tidur, ia butuh beberapa detik untuk mengingat di mana ia berada: bukan di rumah baru Sugar, bukan di penginapan Takahashi, bukan di rumah lama yang penuh rantai.
Ia berada di kamar putih rumah sakit kota asing, dengan dua boks bayi di dekat ranjangnya.
Pada hari ketiga, dokter datang dengan clipboard di tangan.
“Kondisimu mulai stabil,” kata dokter wanita itu dalam bahasa Inggris yang rapi. “Rahimmu berkontraksi dengan baik. Tidak ada perdarahan berlebihan. Tapi kamu tetap harus istirahat. Jangan memaksa bangun terlalu sering.”
Airin mengangguk pelan. “Bagaimana dengan bayi-bayi saya?”
Dokter tersenyum tipis.
“Keduanya sehat. Berat badan cukup untuk kembar. Nafas stabil. Hanya saja… bayi laki-laki sedikit lebih tenang, bayi perempuan lebih aktif. Mungkin nanti karakternya begitu.”
Airin tertawa kecil, meski tawanya masih lemah.
“Saya boleh… lebih sering pegang mereka?” tanyanya.
“Tentu,” jawab dokter. “Tapi perawat akan bantu mengangkatkan kalau kamu belum kuat. Dan…” ia menurunkan clipboard, menatap Airin lebih serius, “kamu sudah pikirkan nama?”
Pertanyaan itu datang lagi—kali ini dengan nada yang lebih formal.
Rumah sakit butuh data.
Dunia butuh catatan.
Airin memandang dua boks kecil yang berdampingan.
Di sebelah kiri, bayi laki-lakinya tidur dengan wajah tenang. Alisnya tipis tapi tegas, garis rahangnya meski masih bayi sudah jelas, bibirnya sedikit mengerucut.
Di sebelah kanan, bayi perempuannya menggeliat pelan, menggerakkan tangan seolah ingin meraih sesuatu yang tak terlihat.
Perawat pernah berkata sambil bercanda, “Bayi laki-lakimu mirip ayahnya, ya?”
Saat itu Airin hanya diam.
Sekarang, dalam hening kamar, ia mengakui dalam hati:
Ya. Wajah bayi laki-lakinya… terlalu mirip Sugar.
Garis alis, bentuk mata, bahkan cara mulutnya diam—semua seperti versi kecil sadewa saat tidur.
Melihat anaknya seperti melihat Sugar dalam ukuran mini.
Dan itu membuat dadanya penuh dengan emosi yang bertabrakan: sayang, takut, marah, rindu, dan trauma bercampur jadi satu.
Dokter menunggu dengan sabar.
“Kalau belum siap, kami bisa menuliskan sementara ‘Baby Boy’ dan ‘Baby Girl’ dulu,” tawarnya.
Airin menggeleng pelan.
“Tidak,” katanya. “Mereka… butuh nama. Aku tidak mau dunia ini memanggil mereka tanpa nama.”
Ia menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan keberanian.
Selama beberapa hari, di sela rasa sakit dan lelah, ia memikirkan hal itu:
Nama yang tidak membawa bayang-bayang marga keluarga mana pun, namun tetap mengakui darah yang mengalir di mereka.
Ia menatap bayi laki-lakinya.
“Dia…” Airin mengelus pelan pipi mungil itu. “Namanya Yael Sadewa .”
Dokter mengulang pelan, menuliskannya. “Yael sadewa. Nama keluarga dari ayah?”
Airin mengangguk samar. “Iya. Tapi Yael… aku pilih sendiri. Bukan dari siapa-siapa.”
Ada sesuatu yang menenangkan ketika ia mengucapkannya.
Yael Sadewa
Masih ada “sadewa” di sana—garis yang menghubungkan dengan ayahnya. Tapi “Yael” adalah ruang baru, lembar baru, yang tidak pernah disentuh Sugar.
“Dan bayi perempuanmu?” tanya dokter lagi.
Airin menoleh ke boks satunya.
Bayi perempuan itu baru saja terbangun, mulutnya menganga kecil seperti hendak menangis, tapi hanya suara lirih yang keluar.
“Kamu…” Airin tersenyum tipis. “Namanya Yuri sadewa.”
Dokter kembali mengulang dan menulis. “Yuri sadewa. Saudara kembar: Yael sadewa dan Yuri sadewa.”
Airin memejamkan mata sebentar.
Dua nama itu berputar di kepalanya, pelan, lalu menetap.
“Saya ingin mereka tahu,” ujarnya lirih, “bahwa mereka lahir dari darah yang sama, tapi mereka punya jalan sendiri-sendiri kalau nanti sudah besar. Nama mereka… tidak boleh jadi beban.”
Dokter menatapnya, seolah mengerti lebih dari yang diucapkan.
“Baik,” katanya lembut. “Kami akan masukkan nama mereka ke data. Selamat, Yael sadewa dan Yuri Sadewa sudah resmi tercatat di dunia ini.”
Setelah dokter keluar, perawat membantu Airin menggendong bayi-bayinya satu per satu.
Pertama, Yael sadewa.
Begitu tubuh mungil itu diletakkan di pelukannya, Airin merasa seluruh dunia mengecil lagi.
Yael membuka mata perlahan. Matanya masih agak kabur, tapi Airin bisa melihat bentuknya—ada sesuatu yang tajam, meski samar.
Jarak antara mata dan alis, lekuk hidung, semuanya menyalin seseorang yang dulu pernah ia tatap dari dekat, di malam-malam ketika Sugar bukan bos mafia, melainkan pria yang menempelkan kepala di perutnya dan bertanya pelan, “Kira-kira mereka nanti mirip siapa?”
Jawabannya sekarang jelas.
Yang laki-laki… mirip ayahnya.
“Kamu… benar-benar Yael, ya?” bisik Airin. “Kalau aku panggil kamu Sadewa kecil… aku takut lupa bahwa kamu adalah kamu. Bukan dia.”
Yael menguap pelan, bibir mungilnya membentuk garis yang hampir menyerupai senyum tipis yang sering Sugar buat ketika memandangnya dari kejauhan.
Airin mengelus rambut tipis di kepalanya.
“Dengar, Yael,” suaranya bergetar. “Kamu punya wajah yang sama, tapi kamu bukan dia. Kamu bukan Sugar. Kamu bukan bos siapa pun. Kamu cuma… kamu. Dan itu sudah cukup.”
Air matanya jatuh, menimpa pipi Yael yang masih hangat.
Ia buru-buru mengusapnya, takut tetes air itu terasa dingin di kulit bayinya.
Perawat lalu mengangkat Yael pelan dan menidurkannya kembali di boks, menggantinya dengan Yuri sadewa.
Begitu Yuri dipeluk, perbedaannya terasa.
Tubuh Yuri sedikit lebih ringan, gerakannya lebih lincah. Tangannya bergerak-gerak seolah ingin menggenggam udara, mulutnya mengeluarkan bunyi kecil seperti protes halus.
“Kamu cerewet, ya…” bisik Airin, senyum tipis muncul di bibir. “Dari dalam perut juga kamu paling aktif.”
Berbeda dengan Yael, wajah Yuri tidak terlalu mirip Sugar.
Bentuk matanya lebih lembut, bibirnya sedikit lebih penuh, dan hidungnya mirip… entah siapa. Mungkin Airin, mungkin campuran yang unik.
“Yuri,” panggil Airin. “Kamu nanti yang paling sering tarik kakakmu keluar dari bayangan, ya?”
Yuri bergerak, seolah menjawab.
Airin tertawa pendek.
“Yael sadewa… Yur Sadewa i…” ucapnya pelan, menguji dua nama itu berdampingan. “Kalau kalian nanti ditanya, ayah kalian siapa… dunia mungkin punya jawabannya. Tapi mama akan kasih jawaban lain.”
Ia menarik napas panjang.
“Kalau mereka tanya, ‘anak siapa kamu?’…” suaranya merendah, “kalian jawab saja: ‘anak Airin, dan sedikit… darah dari orang yang tidak bisa mama sebut tanpa rasa takut’.”
Hening sejenak.
Di luar kamar, hidup berjalan biasa: perawat lewat, dokter bercakap, roda brankar berputar.
Di dalam kamar, Airin mengukir dunia kecilnya sendiri, di mana Yael Sadewa dan Yuri sadewa bukan “anak bos mafia”, bukan “keturunan musuh”, melainkan hanya dua manusia kecil yang berhak atas hidup mereka sendiri.
Namun Airin tidak naif.
Ia tahu nama keluarga “sadewa” bukan nama sembarangan di dunia bawah tanah. Bila suatu hari Sugar menemukan catatan rumah sakit ini, ia hanya perlu membaca satu baris: “Yael Sadewa ” dan “Yuri sadewa” untuk tahu bahwa mereka adalah miliknya.
“Masih pakai ‘sadewa’ itu sudah berisiko,” pikirnya.
Tapi menghapusnya sepenuhnya juga terasa seperti menghapus sebagian jati diri anak-anaknya.
“Suatu hari nanti,” gumamnya pada dua bayi itu, “kalau keadaan memaksa, kita bisa ganti nama. Kita bisa pindah negara lagi, ganti identitas, ganti segalanya. Tapi untuk sekarang… mama ingin kalian tahu dari mana kalian datang, meskipun kita lari dari sana.”
Malamnya, setelah bayi-bayi dibawa kembali ke ruang bayi untuk dicek, Airin duduk bersandar di ranjang, menatap langit-langit.
Nama mereka sudah resmi.
Hari-hari ke depan tinggal menunggu waktu pulang dari rumah sakit.
Tapi “pulang” ke mana?
Ia tidak bisa kembali ke desa wisata—Bram mungkin masih menyisir sana.
Ia tidak bisa kembali ke penginapan Takahashi—itu akan menarik masalah ke wanita baik hati itu.
Ia juga tidak bisa kembali ke negara asal tanpa risiko Sugar atau musuh-musuhnya menemukan jejak.
Di tengah kebingungan itu, satu ide muncul perlahan:
Mungkin ia tidak harus lari terus.
Mungkin ia perlu diam sebentar, di kota ini, dengan identitas yang ia kelola sendiri, sambil memikirkan satu langkah besar:
Menggunakan dunia resmi untuk melawan dunia hitam yang selama ini memburunya.
“Tapi tidak sekarang,” ia menghibur dirinya sendiri. “Tidak sebelum kalian lebih kuat, Yael, Yuri. Tidak sebelum mama bisa berdiri tanpa gemetar.”
Di seberang laut, di kantor luas dengan dinding kaca, Sugar duduk sendirian.
Di Ruang kerjanya yang biasanya dipenuhi anak buah kini sengaja dikosongkan.
Di atas meja, ada satu berkas yang Bram kirim daring: potongan data kedatangan internasional, laporan samar dari kontak di Jepang, dan satu baris yang belum punya detail lengkap:
“Perempuan Indonesia, usia perkiraan, hamil besar, diduga melahirkan di rumah sakit kota.”
Tidak ada nama rumah sakit tertulis.
Belum.
Sugar menatap baris itu lama.
Di tangannya, rokok terbakar tapi tidak ia hisap.
“Yael Sadewa ”
“Yuri sadewa”
Nama-nama itu belum sampai ke telinganya.
Namun entah mengapa, di dalam d**a, ia merasa ada sesuatu yang baru saja lahir di tempat yang tidak bisa ia jangkau.
Selama bertahun-tahun, Sugar memutuskan siapa yang hidup dan siapa yang mati.
Kali ini, ada dua nyawa yang hidup… di luar kuasanya.
Dan jauh di kota asing, Airin menatap jendela kamar putih, memeluk selimutnya sendiri sambil berbisik:
“Mulai hari ini… dunia boleh tetap panggil dia Sugar. Tapi dunia kalian, Yael dan Yuri, tidak akan pernah mengenalnya dengan nama itu.”
Di ujung kalimatnya, ia menambahkan pelan, hampir seperti doa:
“Semoga.”