Hari-hari berikutnya, hidup Sugar bukan lagi dihitung dengan angka transaksi atau daftar pengiriman sabu dan senjata.
Semua laporan itu tetap ada, tetap masuk, tetap ditangani. Tapi di belakang setiap rapat, setiap pertemuan, selalu ada satu pertanyaan yang menghantui:
“Sudah ada kabar tentang Airin?”
Anak buah yang dulu bangga kalau dipanggil ke ruang kerja, kini merasa cemas setiap kali nama Airin muncul di bibir bos mereka.
Sugar yang dulu dingin dan terukur jadi lebih meledak-ledak.
Kalau laporan sedikit meleset, meja bisa terbalik.
Kalau kabar tentang Airin buntu, rokok bisa dipatahkan di tengah dan dibuang ke lantai, lalu ia akan berjalan keluar tanpa sepatah kata, meninggalkan ruangan dalam ketegangan.
Di malam-malam tertentu, Sugar pulang ke rumah baru—tempat yang dulu ia bangun untuk “keluarga baru”.
Rumah itu sekarang terasa kosong, meski lampu menyala.
Tidak ada suara piring di dapur, tidak ada langkah pelan Airin di lorong, tidak ada mug teh hangat di meja.
Sugar berdiri di ambang pintu kamar yang dulu mereka tempati berdua.
Seprai masih rapi.
Lemari masih terisi sebagian pakaian Airin yang ia tinggalkan terburu-buru.
Dia menyentuh kain gaun yang tergantung, merasakan teksturnya di ujung jari.
Kepalanya berputar kembali ke malam-malam ketika Airin berdiri di depan cermin dengan gaun itu, memandang perutnya yang membesar, berusaha menerima bentuk tubuh baru yang tidak ia rencanakan.
“Jelek ya…” Airin pernah menggumam, setengah bercanda, setengah serius.
“Tidak,” jawab Sugar kala itu, duduk di tepi ranjang, tatapannya tetap dingin tapi ada sesuatu di mata yang berbeda. “Kamu cuma… jadi rumah.”
“Rumah?” Airin mengerutkan kening. “Rumahnya siapa?”
Sugar tidak menjawab cepat.
Ia hanya mengulurkan tangan, menyentuh perut Airin, dan berbisik pelan, “Rumah anakku.”
Kenangan itu muncul begitu jelas sekarang, seolah diputar ulang di layar yang ia tidak bisa matikan.
Bedanya, kali ini ia berdiri sendirian, memegang gaun yang sama, tanpa perut itu, tanpa Airin.
Di dalam dadanya, ada rasa kosong yang tidak ia akui.
“Aku marah karena dia pergi,” Sugar berusaha bicara pada dirinya sendiri. “Bukan karena… hal lain.”
Namun semakin hari ia mencoba meyakinkan diri, semakin tidak stabil rasanya.
Suatu malam, Bram masuk ke ruang kerja, membawa berkas baru.
“Bos, kita punya kemungkinan rumah sakit yang menerima perempuan asing hamil pada hari…”
Sugar mengangkat tangan, menghentikannya.
“Jangan laporkan sambil berdiri di sana,” katanya. “Duduk.”
Bram sedikit heran, tapi menurut.
Sugar menatapnya beberapa detik sebelum bicara.
“Menurutmu,” ucapnya pelan, “aku marah karena kehilangan… atau karena… cinta?”
Bram kaget.
Pertanyaan itu terlalu langsung untuk sosok seperti Sugar.
“Bos…”
“Jawab,” desak Sugar, suaranya tidak meninggi, tapi tajam.
Bram menelan ludah.
Ia jarang menilai kehidupan pribadi bosnya, tapi selama beberapa bulan terakhir, dia tidak bisa membohongi fakta: semua tindakan Sugar seputar Airin bukan sekadar reaksi bos mafia yang kehilangan aset.
“Kalau jujur…” Bram memberanikan diri, “kurasa keduanya. Kamu marah karena kehilangan kendali, itu jelas. Tapi… kamu juga marah karena kehilangan dia.”
“‘Dia’?” Sugar mengulang, seolah kata itu sulit dilafalkan.
“Airin,” lanjut Bram. “Bukan cuma sebagai istri yang kamu paksa, tapi… sebagai perempuan yang kamu pilih. Kamu menghabiskan uang, waktu, dan orang untuk mencarinya, bukan hanya karena takut dia buka rahasia, tapi karena kamu… tidak terima dia hidup di tempat lain tanpa kamu.”
Sugar tertawa pendek, getarnya tidak stabil.
“Jadi menurutmu aku… mencintai dia?” ia mengucapkan kata itu dengan nada mengejek, seperti mengejek dirinya sendiri.
Bram tidak menjawab langsung.
Ia tahu, kata “cinta” bagi orang seperti Sugar bukan hal ringan.
Dalam dunia mereka, cinta sering disamakan dengan kelemahan.
“Terserah kamu mau sebut apa,” kata Bram akhirnya. “Yang jelas, kalau ini cuma soal dendam dan kontrol, kamu tidak perlu lihat foto-foto kabur seperti ini setiap malam.”
Sugar memalingkan wajah ke berkas di meja.
Di sana, ada sketsa kemungkinan: perempuan Asia hamil di depan rumah sakit, catatan kedatangan, potongan CCTV.
“Aku tidak… cinta,” Sugar berusaha menyangkal. “Aku cuma… tidak suka ditinggalkan.”
Namun bahkan di telinganya sendiri, kalimat itu terdengar tipis.
Ia mengingat momen-momen kecil yang tidak ada sangkut paut dengan dendam atau dunia mafia:
– Cara Airin menutup telinga saat suara rantai di rumah lama terlalu keras.
– Cara Airin diam di teras rumah baru sambil memandang langit, seolah mencari sesuatu yang bukan kebebasan fisik, tapi kebebasan hati.
– Cara Airin menangis diam-diam ketika tahu pertama kali ia hamil kembar, bukan karena takut, melainkan karena harapan yang terlalu besar.
Lempengan-lempengan memori itu, yang dulu ia buang ke belakang kepala, kini mendesak ke depan.
“Kalau aku bilang aku cinta,” Sugar bergumam, suaranya nyaris berbisik, “itu berarti selama ini aku… mengekang orang yang kucinta di ruang bawah tanah, memaksa dia tinggal di dunia yang dia benci, dan membalas dendam dengan cara yang membuatnya trauma.
Itu bukan cinta.
Itu penyakit.”
Bram menatapnya.
Untuk pertama kalinya, Sugar menyebut perilakunya sebagai “penyakit”.
“Kamu baru sadar sekarang?” tanya Bram pelan, hati-hati.
Sugar menghela napas panjang, duduk berat di kursinya.
“Sebelumnya…” ia menatap langit-langit, “aku hanya merasa… semua wajar. Dunia ini keras. Orang yang dekatku harus ikut keras. Kalau Airin takut, dia harus terbiasa. Kalau dia sakit hati, dia harus kuat. Aku pikir itu… cara melindungi.
Padahal…” ia mengepal tangan, “aku sedang hancurkan dia pelan-pelan.”
Kalimat itu mengguncang Bram lebih dari ancaman Sugar terhadap musuh mana pun.
Karena ini bukan ancaman, melainkan pengakuan.
“Lalu kenapa kamu masih bilang kamu tidak cinta?” Bram mendorong sedikit.
“Karena kalau aku akui,” jawab Sugar, menatap Bram dengan mata yang lebih jujur daripada sebelumnya, “aku harus akui juga bahwa aku adalah orang yang paling menyakiti perempuan yang paling… berharga dalam hidupku. Dan aku tidak mau menanggung kalimat itu.”
Seketika ruangan terasa lebih sempit.
Barang-barang di meja seakan menyusut di antara kata-kata itu.
“Kamu sekarang sudah menyadari kehilangan,” lanjut Bram pelan. “Tapi kamu selalu menepis bagian ‘mencintai’ karena itu membuat dosa terasa lebih jelas.”
Sugar mengetuk meja pelan dengan dua jari, ritmenya tidak teratur.
Itu kebiasaan yang muncul setiap kali pikirannya kacau.
“Kalau aku cinta,” ia mengulang, setengah bicara pada Bram, setengah pada dirinya sendiri, “aku seharusnya lepaskan dia dari awal.
Kalau aku cinta, aku seharusnya berhenti menyekap orang di rumah lama.
Kalau aku cinta, aku tidak seharusnya jadikan dendam pada Erlangga sebagai alasan untuk menyiksa anak kecil di ruang yang sama di mana aku pernah mengikat Airin.”
Ia menunduk, jantungnya berdegup keras.
“Aku tidak dididik untuk cinta,” ucapnya getir. “Aku dididik untuk bertahan, untuk membalas, untuk menguasai. Di bawah tangan orang-orang seperti Erlangga, cinta itu kelemahan.
Jadi waktu Airin datang… aku tidak tahu harus diapakan perasaan yang muncul.
Aku hanya tahu: aku ingin dia tetap di dekatku.
Dan satu-satunya cara yang kupahami untuk menjaga adalah… mengikat.”
Bram menghela napas pelan.
Ia tahu, percekcokan batin seperti ini bukan sesuatu yang bisa ia selesaikan dengan saran murah.
“Sekarang…” lanjut Sugar, suaranya lebih rendah, “dia di luar jangkauan. Di negara lain. Di kota yang tidak bisa dengan mudah kucengkeram.
Dan di sana… dia melahirkan anakku tanpa aku di sampingnya.”
Ia menatap kosong ke depan.
“Aku kehilangan momen itu,” suaranya pecah halus. “Momen dia berteriak sakit, momen dia memegang bayi itu pertama kali, momen… anak pertama kali menangis.
Aku kehilangan semuanya, Bram.”
Bram diam.
Tidak ada satu pun dari anak buah Sugar yang berani membayangkan suatu hari bosnya akan bicara seperti ini.
“Aku gila sekarang,” Sugar menyimpulkan, lebih jujur. “Aku kirim orang ke luar negeri. Aku pertaruhkan jaringan. Bukan hanya untuk bawa dia kembali, tapi… untuk memperbaiki sesuatu yang mungkin sudah tidak bisa diperbaiki.”
“Kamu mau perbaiki?” Bram menangkap kata kunci.
“…Entahlah,” Sugar menepis pelan, refleks. “Mungkin aku cuma mau lihat apakah masih ada sisa duniaku di mata anak-anak itu.
Kalau anak laki-lakiku mirip aku…”
Ia berhenti.
Ada sesuatu yang menusuk di d**a.
“…itu lebih menyakitkan daripada kalau dia mirip orang lain,” lanjutnya lirih. “Karena setiap aku melihat dia, aku akan melihat semua dosa yang kulakukan pada ibunya.”
Kata-kata itu seperti pengakuan paling dalam yang keluar tanpa rencana.
“Jadi kamu sadar,” Bram menyimpulkan pelan, “kamu sangat mencintai mereka… dan sangat mencintai Airin… tapi kamu tidak tahu bagaimana caranya tanpa menghancurkan.”
Sugar tertawa kecil, getir.
“Cinta versi Sugar,” katanya, “adalah cinta yang memenjarakan.
Kalau aku mau berubah jadi Sadewa yang bisa mencintai, aku harus hancurkan Sugar dulu.
Dan aku tidak yakin… aku sanggup.”
Sunyi melingkupi ruangan.
Beberapa saat kemudian, Sugar bangkit lagi, meraih rokok, menyalakannya.
Asap menari pelan di depan wajahnya.
“Untuk sekarang,” katanya kembali ke mode dingin, seolah menutup pintu pengakuan barusan, “kita tetap pada rencana: cari Airin.
Soal apakah aku cinta atau tidak… bukan urusanmu.”
Bram mengangguk, meski ia tahu pintu itu sudah sempat terbuka, dan walau Sugar berusaha menutupnya, retaknya tidak akan benar-benar hilang.
Di belakang mata yang dingin, di belakang obsesi yang menggila, satu hal sudah tertanam:
Sadewa, yang di dunia bawah tanah dikenal sebagai Sugar, perlahan sadar bahwa ia sangat mencintai perempuan yang ia paksa hidup di nerakanya.
Dan justru karena cinta itulah, kehilangan terasa seperti hukuman paling berat—lebih berat dari luka akibat peluru atau pisau.
Masalahnya, ia tetap memilih bertindak sebagai Sugar.
Dan di seberang laut, Airin memeluk Yael Sadewa yang wajahnya mirip sekali dengan Sugar, sambil berbisik dalam hati:
“Kalau suatu hari kamu bertemu ayahmu, Yael… semoga saat itu dia sudah lebih memilih jadi Sadewa, bukan Sugar.”