Ponsel di dalam tasnya bergetar.
Getaran itu kecil, tapi di d**a Airin terasa seperti dentuman.
Ia memejamkan mata sejenak, berharap itu hanya pesan otomatis, promosi, atau notifikasi lain yang tidak penting. Tapi instingnya berkata lain.
Dengan tangan gemetar, Airin merogoh tasnya dan mengeluarkan ponsel. Layar menyala, menampilkan satu nama yang sudah lama ia hindari.
Sugar.
Panggilan masuk, berdering pelan tapi terasa memekakkan telinga.
Airin menatap layar itu tanpa menekan apa pun.
Setiap detik yang lewat terasa panjang.
Akhirnya, ia menekan tombol merah: menolak.
Secepat itu, panggilan berhenti.
Namun beberapa detik kemudian, sebuah pesan muncul.
[Dimanapun kamu berada, aku akan temukan kamu.]
Tidak ada nama panggilan sayang.
Tidak ada kata “sayang” atau “istri” atau “Airin.”
Hanya ancaman dingin, lugas, seperti kalimat yang keluar dari seorang bos mafia, bukan suami.
Airin menggigit bibirnya sampai nyeri.
Tangannya bergetar begitu keras hingga ponsel hampir terlepas.
Ia menutup layar dan mematikan ponsel tanpa berpikir lagi.
Napaknya semakin cepat. Perutnya kembali menegang.
“Sugar sudah mulai bergerak,” batinnya. “Kalau orang itu di festival tadi memang anak buahnya, aku tidak punya banyak waktu.”
Di tengah gang sempit itu, ia merasa seluruh dunia menyusut.
Suara festival di kejauhan terdengar seperti gema yang jauh.
Sementara di sini, di sudut kecil di belakang kuil, Airin hanya punya dua pilihan: bersembunyi sampai malam, atau kembali ke penginapan.
Ia memilih kembali ke penginapan.
Tapi kali ini, setiap langkah terasa seperti melangkah di antara garis tipis yang memisahkan aman dan bahaya.
Ia memilih rute memutar, menghindari jalan utama.
Melalui halaman belakang rumah, melewati tangga batu kecil, dan menyelinap di antara dua bangunan kayu sebelum akhirnya tiba di sisi penginapan Takahashi.
Begitu sampai di depan pintu, ia menahan napas, mencoba menenangkan wajahnya sebelum masuk. Ia tidak boleh terlihat terlalu panik di mata orang lain.
Kalau ia panik, orang mungkin bertanya.
Kalau orang bertanya, ia harus menjelaskan.
Kalau ia menjelaskan, ia harus menyebut nama Sugar.
Dan ia tidak ingin nama itu mengotori tempat ini.
Takahashi sedang duduk di dekat meja penerima ketika Airin masuk. Wanita itu menoleh, mengernyit, lalu berdiri.
“Aira-san?” panggilnya pelan. “Kamu pucat.”
Airin berusaha tersenyum, tapi senyumnya lebih mirip garis tegang di bibir.
“Sedikit capek,” jawabnya. “Festival… ramai sekali.”
Takahashi menatap lebih dalam, seperti bisa menembus jawaban tipis itu.
“Duduk,” ucapnya, menunjuk kursi. “Saya ambilkan air.”
Airin duduk. Tangannya memegangi perutnya yang terasa menegang lagi. Bayi-bayinya bergerak, membuat rasa sakit bercampur dengan cemas.
Takahashi kembali dengan segelas air dan menaruhnya di depan Airin.
“Kamu gemetar,” katanya pelan. “Ada sesuatu terjadi?”
Airin menunduk, mencoba mengontrol napas.
“Tadi di festival…” ia terhenti sebentar. “Saya lihat seseorang. Seperti… bukan wisatawan. Dia… mencari seseorang. Caranya melihat orang lain… saya kenal pola itu.”
“Pola?” Takahashi mengulang bingung.
“Pola orang yang memburu, bukan orang yang menikmati,” jawab Airin perlahan. “Dan… ponsel saya berdering. Dari orang yang saya hindari.”
Takahashi terdiam.
Dari cara Airin mengucapkan kalimat itu, ia tahu ini bukan masalah hutang kecil atau pacar posesif. Ini lebih besar.
“Dia bisa melacak posisimu lewat ponsel,” kata Takahashi hati-hati.
“Ya,” Airin mengangguk. “Karena itu saya mematikannya lagi. Tapi… kalau ia sudah sampai sejauh ini…”
Keduanya terdiam.
Suara festival masuk pelan dari luar, seperti ironi—dunia di luar sedang tertawa, sementara di dalam penginapan kecil ini, seorang perempuan sedang mencoba merencanakan cara bertahan hidup.
“Takahashi-san,” Airin mulai, suaranya pelan tapi serius, “kalau saya… tiba-tiba harus pergi dari sini, saya minta maaf sebelumnya. Saya tidak ingin bawa masalah ke tempat ini.”
Takahashi menatapnya, lalu menggeleng pelan.
“Kamu hamil besar,” katanya. “Ke mana kamu bisa pergi sendirian? Desa ini sendiri sudah jauh dari kota.”
Airin memejamkan mata sesaat.
Ia tahu Takahashi benar. Tubuhnya tidak bisa terus dipaksa berlari.
Namun otaknya terus mencari jalan.
“Kalau orang itu benar anak buah seseorang yang sedang mencarimu,” lanjut Takahashi, “bersembunyi di kamar saja mungkin tidak cukup. Tapi… kamu juga tidak bisa pergi jauh tanpa bantuan.”
Airin menatap Takahashi, ada harapan kecil yang muncul:
Apakah wanita ini bersedia membantu lebih dari sekadar menyediakan kamar?
Takahashi menghela napas, lalu bertanya langsung, “Orang yang mencarimu ini… bahaya?”
Airin tertawa kecil, pahit.
“Sangat,” jawabnya. “Dia bos mafia. Dia punya tangan kanan, banyak anak buah. Dia bisa menyakiti orang tanpa rasa bersalah. Dan yang lebih parah, dia percaya saya… miliknya.”
Takahashi mengangkat alis pelan.
Ia pernah menonton film mafia. Ia pernah membaca berita. Tapi ia tidak pernah membayangkan suatu hari duduk berhadapan dengan istri bos mafia yang kabur ke penginapan kecil miliknya.
“Kamu mencoba lari dari pernikahan itu,” simpul Takahashi.
“Bukan cuma dari pernikahan,” koreksi Airin. “Dari dunia itu. Dari darah itu. Dari ruang bawah tanah di rumah lama yang… saya tidak mau anak-anak saya lihat.”
Takahashi terdiam lebih lama.
Kali ini, ia tidak mencoba menyembunyikan kepedulian di matanya.
“Kamu membawa paspor?” tanyanya.
Airin mengangguk.
“Kamu punya visa turis. Tidak melanggar hukum di sini. Tapi orang yang kamu sebut bisa melanggar segala hukum di sana,” lanjut Takahashi. “Kalau benar mereka sudah sampai Jepang, kamu tidak bisa hanya bersembunyi. Kamu… butuh perlindungan.”
“Perlindungan?” Airin mengulang. Kata itu terasa asing dalam konteks dirinya.
Kehidupannya selama ini lebih sering berkaitan dengan ancaman daripada perlindungan.
Takahashi mengangguk. “Di sini ada polisi. Ada sistem. Mafia dari luar negeri tidak bisa bebas bertindak. Tapi kamu harus berani bicara.”
Airin menunduk.
Berbicara pada polisi berarti membuka semua rahasia: nama Sugar, jaringan mafia, rumah lama, anak kecil yang disekap. Itu berarti membuka perang kecil antara dunia bawah tanah dan hukum formal.
Dan di tengah itu, ia dan bayi-bayinya akan jadi sasaran.
“Aku…” Airin ragu. “Kalau aku pergi ke polisi dan bilang aku istri bos mafia yang kabur, mereka mungkin tidak percaya. Atau mereka malah menjadikan aku umpan.”
Takahashi menghela napas kecil.
“Di dunia seperti ini, tidak ada jawaban yang sepenuhnya aman,” katanya. “Tapi kamu tidak bisa hanya sendiri. Kamu hamil. Kamu sudah menyusahkan tubuhmu dengan perjalanan. Kamu tidak punya jaringan.”
Airin memejamkan mata lagi.
Ia merasakan air mata menggenang, tapi ia menahannya.
“Kalau aku jujur,” ucap Airin pelan, “aku takut bukan hanya pada Sugar, tapi juga pada apa yang akan dilakukan dunia lawan Suga pada anak-anaknya, kalau tahu siapa ayah mereka.”
Takahashi menatapnya dalam-dalam.
“Kamu berada di tengah dua dunia kriminal,” katanya pelan. “Dunia suamimu, dan dunia musuh suamimu. Kamu lari ke negara asing yang tidak tahu apa-apa.”
Airin mengangguk lemah. “Kira-kira begitu.”
Hening sebentar, sebelum akhirnya Takahashi membuat keputusan.
“Baik,” katanya akhirnya. “Untuk malam ini, kamu tetap di sini. Kalau kamu dengar sesuatu yang mencurigakan—langkah asing di lorong, suara orang mencari ‘perempuan hamil’—kamu turun ke dapur. Di belakang penginapan ada pintu kecil ke gang lain. Kamu bisa lari lewat sana.”
Airin terkejut. “Takahashi-san…”
“Ini penginapan kecil,” lanjut Takahashi. “Kami tidak biasa berurusan dengan mafia. Tapi saya pernah alami gempa, banjir, kebakaran. Kami punya jalur evakuasi. Anggap saja ini… jalur evakuasi pribadi untukmu.”
Airin merasakan sesuatu hangat mengalir di dadanya.
Orang asing, di negara asing, di desa asing, memberi lebih banyak perlindungan daripada sebagian orang yang seharusnya jadi keluarga di negara asal.
Airin menunduk, menahan air mata. “Terima kasih…”
“Dan kamu,” tambah Takahashi, “pikirkan satu hal: mau sampai kapan kamu hanya lari tanpa bantuan dunia resmi? Cepat atau lambat, kamu harus menentukan: sembunyi selamanya, atau melawan.”
Airin menghela napas panjang.
“Sekarang… aku masih harus jaga bayi-bayiku dulu,” jawabnya lirih. “Melawan nanti… kalau mereka sudah lahir dan cukup aman.”
Takahashi mengangguk, tidak memaksa.
Malam itu, ia memastikan pintu depan dan samping terkunci lebih baik dari biasanya. Ia menyalakan lampu kecil di lorong, mengatur jadwal anaknya yang kadang membantu di penginapan untuk berjaga di jam-jam ramai.
Airin kembali ke kamarnya, tapi tidur tidak datang mudah.
Setiap suara di lorong, setiap langkah di bawah, setiap tawa dari luar membuatnya meraba perutnya, memastikan bayi-bayinya masih bergerak.
Di sisi lain, Bram baru saja tiba di Jepang.
Ia turun dari pesawat dengan langkah mantap, membawa tas kecil dan ponsel yang sudah terhubung dengan beberapa kontak lokal yang “berurusan” dengan jaringan di sana. Bram bukan orang yang nyaman berada di negeri asing tanpa peta kekuasaan, tapi demi Sugar, ia melakukannya.
Di ruang istirahat bandara, Bram membuka berkas digital: nama Airin, foto paspor, data penerbangan. Ia mencocokkan tanggal, jam, dan kemungkinan rute.
“Kalau dia sampai Tokyo pada hari ini,” gumamnya, “dia bisa ke mana saja. Kota besar. Kota kecil. Desa wisata.”
Seorang kontak lokal, pria Jepang dengan jas rapi tapi mata dingin, duduk di seberang Bram.
“Kami punya beberapa informasi,” kata pria itu dalam bahasa Inggris. “Ada laporan seorang perempuan hamil dari Indonesia menginap di penginapan kecil di desa wisata. Datang beberapa minggu lalu. Sendirian.”
Bram menajamkan pandang. “Nama?”
“Menurut pemilik penginapan, dia menyebut dirinya ‘Aira’.”
Bram mengangguk. Nama itu cukup dekat. Orang seperti Airin bisa mengganti huruf kecil, bukan seluruh identitas.
“Desa itu ramai sekarang,” lanjut pria itu. “Ada festival. Orang bisa keluar-masuk tanpa banyak perhatian. Kalau dia ingin bersembunyi, tempat seperti itu… baik. Tapi juga membuat pencarian sulit.”
Bram tidak tersenyum, tapi matanya menyempit, seolah menikmati tantangan.
“Sugar tidak akan senang kalau aku pulang tanpa dia,” katanya datar. “Kalau dia di desa itu, aku akan temukan.”
Pria Jepang itu mengangguk singkat. “Kami akan siapkan mobil. Malam ini kamu bisa tiba di desa.”
Bram menatap peta di depan mereka, melihat nama desa yang selama ini hanya ada di brosur wisata. Dalam hidupnya, ia biasa menuju pelabuhan, gudang, rumah aman, bukan desa penuh lampion dan onsen.
Ironis.
Ia datang ke tempat orang mencari ketenangan, untuk membawa kembali perempuan yang sedang lari dari neraka.
Malam itu, mobil gelap melaju di jalan yang mengarah ke desa wisata. Lampu-lampu kota semakin jarang, digantikan oleh pepohonan dan garis pegunungan.
Di dalam mobil, Bram duduk tenang. Dalam kepalanya, ia memutar kemungkinan:
Bagaimana kalau Airin menolak?
Bagaimana kalau Airin melawan?
Bagaimana kalau Airin tidak sendirian?
Ia mengenal Airin cukup lama untuk tahu bahwa perempuan itu bukan sekadar “istri” di sudut rumah. Ia pernah melihat cara Airin menatap ruang bawah tanah. Ia pernah melihat luka di matanya saat keluar dari rumah lama setelah diperlakukan sebagai tawanan.
Dan ia tahu: perempuan seperti Airin, kalau sudah memutuskan kabur, pasti sudah menghitung risiko.
Namun Sugar… Sugar tidak peduli.
Ia hanya tahu satu hal: Airin pergi. Airin membawa anaknya. Airin harus kembali.
Mobil berhenti di luar desa, di tempat parkir kecil yang biasa dipakai wisatawan. Bram turun, menghirup udara dingin yang berbeda dari kota mereka. Udara ini bersih, bebas senjata dan bau oli, tapi di kepalanya, ia tetap membawa dunia lama.
Pria Jepang itu menunjuk jalan masuk desa.
“Penginapan yang kami dapat informasinya ada di arah sana,” katanya.
Bram mengangguk. “Aku akan jalan sendiri dari sini.”
“Kalau aku butuh bantuan—”
“Aku akan hubungi,” potong Bram. “Tapi untuk sekarang, ini urusan pribadi bosku.”
Ia berjalan menyusuri jalan batu, menyatu dengan wisatawan lain.
Lampion-lampion menyala di atas, musik festival terdengar pelan.
Di salah satu titik, pandangan Bram tertumbuk pada kuil kecil, kios makanan, dan kerumunan orang di jalan utama. Untuk sesaat, ia berpikir: perempuan hamil itu mungkin ada di antara mereka, mencoba berbaur.
Namun ia tidak terburu-buru.
Anak buah yang dikirim sebelumnya sudah memberi laporan samar: “Kami melihat perempuan hamil Asia di festival, tapi ia menghilang di gang samping.”
Bram tidak marah. Itu sudah lebih baik daripada nol informasi.
Ia menuju penginapan yang disebut dalam laporan.
Bangunan kayu dengan papan nama sederhana, lampion kecil di depan—persis seperti foto yang dikirim via pesan.
Bram berhenti beberapa meter dari pintu, mengamati.
Di dalam, Takahashi sedang membereskan meja.
Ia menoleh ke pintu dan melihat lelaki asing dengan aura berbeda dari wisatawan biasa. Cara pria itu berdiri—tegak, tenang, tapi dingin—membuat Takahashi merasakan sesuatu yang tidak enak di perutnya.
Pintu digeser. Bram melangkah masuk.
“Selamat datang,” ucap Takahashi dalam bahasa Jepang, lalu beralih ke bahasa Inggris. “Welcome.”
Bram mengangguk singkat. “Saya cari seseorang.”
Takahashi menahan napas. “Penginapan ini penuh, tapi kami bisa—”
“Perempuan,” potong Bram pelan. “Asia Tenggara. Hamil besar. Menginap sendiri.”
Takahashi menatap Bram dengan mata yang tak lagi bisa menyembunyikan kecemasan.
“Di desa ini banyak wisatawan,” jawabnya hati-hati. “Desa ini tujuan turis. Banyak orang datang, banyak orang pergi.”
“Pemilik penginapan melaporkan pada kontak saya bahwa ada perempuan seperti itu tinggal di sini,” kata Bram tenang, tetapi nada suaranya keras. “Dia pakai nama ‘Aira’. Tapi nama aslinya mungkin lain.”
Takahashi terdiam.
Ia tahu, berbohong terlalu lama di hadapan orang seperti ini bisa berbahaya. Tapi jujur tanpa batas juga bisa menghancurkan Airin.
“Siapa kamu?” tanya Takahashi, suaranya pelan tapi tegas.
“Orang yang dikirim untuk membawa dia pulang,” jawab Bram. “Ke suaminya.”
Takahashi merasakan darahnya seakan turun.
“Suaminya,” ulangnya. “Kalau begitu… kenapa istrimu lari sejauh ini?”
Bram tidak menjawab langsung. Ia menatap Takahashi seperti menilai apakah wanita ini sekadar pemilik penginapan atau sesuatu yang lain.
“Dia lari karena takut,” jawab Bram akhirnya. “Tapi pria yang dia tinggalkan bukan pria yang bisa ditinggalkan begitu saja.”
Di lantai dua, Airin berdiri di balik pintu kamarnya, jantung berdegup seperti ingin meledak.
Ia tidak bisa mendengar seluruh percakapan, tapi suara asing di bawah—suara laki-laki dengan intonasi yang sangat familiar—membuatnya tahu: dunia lama sedang mengetuk.
Nama Bram tidak terdengar jelas, tapi aura itu… aura yang pernah ia rasakan di rumah lama, di kantor Sugar, di pelabuhan. Aura orang yang selalu berdiri di samping Sugar.
Airin menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak yang hampir pecah.
“Mereka sampai sini,” batinnya. “Mereka benar-benar sampai sini.”
Ia melirik ke jendela.
Keluar lewat jendela lantai dua dengan perut sebesar ini bukan pilihan. Turun lewat lorong berarti melewati area dekat pintu depan.
Ia mengingat kata-kata Takahashi: “Kalau kamu dengar sesuatu mencurigakan, turun ke dapur. Di belakang ada pintu ke gang lain.”
Dengan langkah setenang yang ia bisa, Airin mengambil tas kecilnya, memasukkan ponsel yang masih mati, buku catatan, dan beberapa lembar uang tunai.
Ia mengelus perutnya sejenak.
“Pegangan… jangan terlalu banyak bergerak,” bisiknya. “Kalau kamu kita pergi lagi, maafkan mama.”