Pintu geser kayu itu bergeser pelan, menimbulkan suara khas yang lembut, berbeda jauh dari suara pintu besi berat di rumah lama Sugar. Begitu Airin melangkah masuk, aroma kayu, tatami, dan sedikit wangi sup miso menyambutnya.
Seorang wanita paruh baya dengan kimono sederhana berdiri di balik meja kecil dekat pintu. Wajahnya lembut, dengan garis-garis halus di sudut mata yang memberi kesan hangat, bukan kelelahan.
“Selamat datang,” ucapnya dalam bahasa Jepang, lalu, seolah menyadari bahwa Airin mungkin bukan orang lokal, ia menambahkan dalam bahasa Inggris yang pelan, “Welcome.”
Airin menunduk sopan, berusaha tersenyum meski tubuhnya terasa remuk setelah perjalanan panjang.
“Terima kasih,” jawabnya dalam bahasa Inggris sederhana. “Saya… cari penginapan. Mungkin untuk beberapa minggu, atau… lebih.”
Wanita itu memperhatikan perut Airin yang jelas sudah besar. Di matanya ada sebersit kekhawatiran, bukan curiga.
“Silakan duduk dulu,” katanya pelan sambil menunjuk kursi kayu di sudut ruangan. “You are pregnant. You must be tired.”
Airin duduk perlahan, meletakkan tas kecil di pangkuannya. Punggungnya terasa kaku, kaki sedikit bengkak. Ia mengelus perutnya dengan gerakan refleks, seolah menenangkan dua nyawa kecil yang ikut menghadapi semua ini.
Wanita itu membuka buku catatan besar di meja, lalu bertanya, “Nama?”
Airin menahan napas sepersekian detik.
Nama.
Pertanyaan sederhana, tapi untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia ragu: apakah ia harus jujur? Atau mulai dengan nama baru?
Di kepalanya, ia bisa mendengar suara Sugar, dingin dan berat: “Nama itu identitas. Dan identitas bisa jadi kelemahan.”
Airin menelan ludah.
“Nama saya…” ia sempat ingin menjawab “Airin”, lalu mengubah sedikit. “Aira.”
Ia menukar satu huruf. Kecil, tapi cukup untuk membuatnya merasa seolah ia sedang membuka jarak antara dirinya yang dulu dan dirinya yang sekarang.
Wanita itu menulis pelan. “Aira-san. Baik. Saya Takahashi. Kamu dari Indonesia?”
Airin terkejut sejenak. “Iya… bagaimana bisa tahu?”
Takahashi tersenyum kecil. “Logat bahasa Inggrismu… dan wajahmu. Kami sering ada tamu dari Asia Tenggara. Saya pernah punya tamu dari Indonesia juga.”
Ada sesuatu yang menghangat di d**a Airin mendengarnya.
Di tempat sejauh ini, seseorang bisa menebak asalnya tanpa nada buruk, tanpa stereotip, tanpa rasa takut. Hanya pengamatan sederhana, seperti menyebut cuaca.
“Takahashi-san…” Airin mengulang pelan. “Saya ingin menginap. Saya… belum tahu berapa lama. Tapi saya bisa bayar seminggu dulu.”
Ia membuka tas, mengeluarkan beberapa lembar uang. Mata Takahashi sedikit melebar, bukan karena jumlahnya terlalu banyak, tapi karena melihat Airin mengeluarkannya dengan tangan yang sedikit bergetar.
“Tidak perlu terburu-buru,” kata Takahashi lembut. “Kami punya kamar yang sederhana di lantai dua. Tidak terlalu besar, tapi cukup nyaman. Untuk perempuan hamil… mungkin butuh tenang.”
“Tenang…” kata itu menggema di kepala Airin.
Ia mengangguk cepat. “Tenang sudah sangat cukup.”
Setelah urusan pendaftaran sederhana selesai, Takahashi memimpin Airin menuju tangga kayu. Langkah Airin pelan, berhati-hati, satu tangan memegang pegangan tangga, satu lagi tetap di perut.
“Pelan-pelan saja,” kata Takahashi. “Kalau butuh bantuan, bilang.”
Di lantai dua, lorong kecil membentang, dengan beberapa pintu kayu di kiri-kanannya. Di ujung lorong, ada jendela yang menampilkan pemandangan luar: atap-atap rumah kayu lain, ujung pegunungan di kejauhan, dan sedikit garis sungai berkilat tertimpa matahari yang mulai condong.
Takahashi berhenti di depan salah satu pintu.
“Kamar ini kosong. Biasanya dipakai turis, tapi hari ini kamu bisa pakai sesuka hati,” katanya sambil membuka pintu.
Begitu pintu digeser, Airin melihat ruangan sederhana: lantai tatami, futon yang terlipat rapi di sudut, meja rendah, dan jendela geser yang bisa dibuka menghadap ke jalan kecil di bawah. Tidak ada perabot berlebihan, tidak ada dekorasi mencolok. Hanya kesunyian yang terasa… bersih.
“Kalau butuh sesuatu, panggil saja saya. Dapur di bawah. Sarapan biasanya jam tujuh, tapi kalau kamu butuh lebih pagi atau lebih siang, bisa diatur,” ujar Takahashi.
Airin menunduk lagi. “Terima kasih, Takahashi-san. Maaf merepotkan.”
“Kamu tidak merepotkan,” jawab Takahashi. “Kamu hanya… jauh dari rumah, ya?”
Airin tercekat.
“Ya,” jawabnya pendek. “Jauh dari rumah.”
Takahashi mengangguk pelan, seolah mengerti sesuatu yang tidak diucapkan.
Setelah wanita itu pergi, meninggalkan Airin sendirian, ruangan itu menjadi sangat sepi.
Tapi bukan sepi yang menakutkan, seperti di ruang bawah tanah rumah lama Sugar.
Ini sepi yang lain: sepi yang memberi ruang untuk bernapas.
Airin menurunkan tasnya, lalu duduk pelan di lantai tatami. Ia membiarkan tubuhnya merasakan permukaan lembut itu, sesuatu yang belum pernah ia nikmati sebelumnya.
Beberapa menit pertama, ia hanya duduk, memejamkan mata, mendengarkan suara-suara halus dari luar: langkah kaki di jalan, suara percakapan samar dalam bahasa Jepang, tawa anak kecil, bunyi bel pintu toko, dan sesekali suara burung.
Tidak ada suara tembakan.
Tidak ada teriakan.
Tidak ada rantai.
“Kita benar-benar jauh,” ucapnya pelan sambil mengelus perutnya. “Jauh dari Sugar. Jauh dari Bram. Jauh dari rumah lama itu.”
Namun, sejauh apa pun ia pergi, kepala dan hatinya masih membawa bayang-bayang dari sana.
Malam pertama di desa itu, Airin tidak langsung tidur.
Setelah makan malam sederhana di lantai bawah—semangkuk sup hangat, nasi putih, dan sedikit lauk—ia kembali ke kamarnya, duduk di dekat jendela, dan menatap langit yang mulai gelap.
Lampion-lampion kecil dinyalakan di sepanjang jalan.
Para wisatawan masih berkeliaran, beberapa berfoto di depan toko, beberapa tertawa sambil memegang es krim atau makanan ringan.
Suasana hangat, ramai, tapi bukan keramaian yang mengancam.
Di dalam ruangan, hanya ada dirinya dan dua detak jantung kecil di dalam perutnya.
Airin membuka buku catatannya. Halaman-halamannya dipenuhi rute, nama kota, dan perhitungan uang. Di salah satu sudut, ia pernah menulis singkat: “Jangan lupa: janji pada anak kecil di rumah lama.”
Ia menatap kalimat itu lama.
Hatinya terasa seperti diremas.
“Maaf…” bisiknya pada kertas, seolah pada anak itu. “Mama belum bisa tepati janji sekarang. Kalau mama tidak selamat, kalian juga tidak.”
Ia menutup buku catatan, menggesernya sedikit menjauh, seolah jarak itu bisa menenangkan rasa bersalahnya.
Hari-hari berikutnya berjalan dalam ritme baru yang perlahan-lahan mulai terasa seperti… kehidupan.
Setiap pagi, suara pelan Takahashi memanggil dari bawah: “Aira-san, ohayo.”
Airin akan turun dengan langkah hati-hati, duduk di meja makan bersama beberapa tamu lain—kadang pasangan tua, kadang anak muda dengan ransel besar, kadang keluarga kecil dengan anak yang berlarian kecil-kecil di lantai kayu.
Awalnya, Airin hanya duduk diam, tidak banyak bicara. Ia merasa canggung dengan bahasa Inggrisnya yang sederhana dan ketidaktahuannya tentang budaya setempat.
Namun lambat laun, beberapa tamu mulai menyapanya.
“Kamu dari mana?” tanya seorang wanita muda dari Korea yang duduk di meja sebelah pada suatu pagi.
“Indonesia,” jawab Airin, tersenyum kecil.
“Ah, saya pernah ke Bali,” kata wanita itu riang. “Bagus sekali. Pantainya indah.”
Airin mengangguk, meski ia sendiri belum pernah benar-benar menikmati pantai di negaranya dengan hati yang tenang.
“Ini pertama kali ke Jepang?” tanya yang lain, seorang pria paruh baya yang duduk bersama istrinya.
“Iya,” jawab Airin.
“Menginap sendiri?”
“Iya.”
Tatapan mereka sempat turun ke perut Airin, tapi tidak ada pertanyaan tajam seperti di kota asalnya: “Suaminya mana?” “Kamu kok sendirian?”
Di sini, mereka hanya tersenyum canggung, lalu mengganti topik.
“Desa ini bagus untuk istirahat,” kata pria itu. “Istri saya suka onsen. Kamu harus coba—ah, mungkin setelah melahirkan, ya,” tambahnya cepat, menyadari kondisi Airin.
Airin tertawa kecil. Suara tertawanya terdengar aneh di telinganya sendiri, seperti suara yang sudah lama tidak ia dengar.
“Ya, mungkin nanti,” katanya.
Setelah sarapan, ia kadang berjalan di sekitar desa.
Tidak jauh, hanya menyusuri jalan batu di depan penginapan, melihat-lihat kios suvenir yang menjual gantungan kunci, kipas, kain tradisional, dan pernak-pernik lain.
Sesekali ia berhenti di jembatan kecil yang melintas di atas sungai. Air jernih mengalir di bawahnya, memantulkan cahaya matahari. Anak-anak lokal bermain di pinggir, tertawa saat percikan air mengenai kaki mereka.
Ada momen-momen kecil yang membuat Airin bertanya-tanya:
“Begini ya rasanya hidup normal? Bangun pagi, sarapan, jalan-jalan, lihat turis, dengar tawa anak-anak… tanpa takut siapa yang sedang mengincar, tanpa mendengar orang menjerit.”
Namun, meski desanya tenang, kepalanya tidak pernah benar-benar bebas.
Di malam hari, setelah lampion-lampion dinyalakan dan sebagian besar toko menutup pintu, Airin kembali ke kamarnya dan menatap ponselnya yang tergeletak di meja.
Di sana, ada beberapa notifikasi yang ia biarkan tidak terbaca:
Panggilan tak terjawab dari Sugar.
Beberapa pesan singkat.
Awalnya, ia mematikan ponsel selama perjalanan pesawat dan kereta.
Baru di malam pertama di desa, ia menghidupkannya sebentar, hanya untuk melihat apakah dunia di seberang sana menyadari kehilangannya.
Begitu layar menyala, rentetan pesan masuk.
[Airin, kamu di mana?]
[Kenapa tidak jawab?]
[Aku telepon, tidak aktif.]
[Kalau kamu keluar rumah, kembali sekarang.]
[Airin, ini bukan lucu.]
[Aku akan cari kamu.]
Nada setiap pesan berubah.
Dari cemas, ke marah, lalu ke dingin dan menakutkan.
Airin membaca semuanya sambil menahan napas.
Tapi ia tidak membalas satu pun.
Ia tahu, satu pesan balasan bisa menjadikan ponsel ini titik lemah.
Lokasinya bisa dilacak, keberadaannya bisa diketahui.
Mungkin Sugar belum mencurigai bahwa ia pergi jauh—mungkin Sugar berpikir ia hanya kabur sementara. Tapi kalau ia memberi petunjuk sekecil apa pun, Sugar dan Bram akan menggali sampai ke akar.
Karena itu, di malam itu juga, setelah membaca semua pesan, Airin mematikan ponselnya lagi.
Ia tidak membuangnya—karena di dalamnya ada foto, nomor penting, dan sesuatu yang masih ia anggap sebagai jembatan terakhir dengan dunia lamanya—tapi ia menyimpannya dalam tas, jauh dari jangkauan tangan, seolah jika tidak ia lihat, rasa bersalahnya bisa sedikit berkurang.
Namun rasa bersalah adalah sesuatu yang bandel.
Setiap ia memejamkan mata, ia bukan hanya memikirkan Sugar.
Ia memikirkan anak kecil di rumah lama itu.
Apa yang sedang ia lakukan sekarang?
Apakah ia masih menangis?
Apakah ada yang memberinya makan tepat waktu?
Apakah malam-malamnya juga diisi ketakutan dan dinginnya udara ruang bawah tanah?
“Kalau aku diam saja sekarang, apa bedanya aku dengan Sugar?”
Pertanyaan itu kembali muncul, sama mengirisnya seperti pertama kali.
Suatu sore, setelah beberapa hari di desa itu, Airin duduk di dekat sungai.
Ia memilih tempat yang agak sepi, sedikit menjauh dari kerumunan wisatawan yang sibuk berfoto.
Ia menatap air yang mengalir, mendengar gemericiknya bercampur dengan suara angin yang melewati pepohonan.
Angin musim itu lembut, membawa hawa sejuk yang menenangkan kulit.
Tapi di dalam dadanya, badai masih belum reda.
Ia mengelus perutnya lagi.
“Kalian pasti bingung, ya…” bisiknya. “Mama bawa kalian jauh-jauh ke tempat asing, tanpa ayah, tanpa keluarga. Orang-orang bilang keluarga itu terdiri dari ayah, ibu, dan anak. Tapi kalian cuma punya mama. Ayah kalian…”
Ia berhenti.
Ayah mereka bukan hanya pria yang pernah mengelus perutnya dan mengantar ke dokter.
Ayah mereka adalah bos mafia yang menyiksa anak musuhnya di rumah lama, yang menyimpan ruang bawah tanah penuh darah dan rantai, yang memelihara dendam seperti harta berharga.
“Ayah kalian masih belum bisa lepas dari dunia itu,” lanjutnya pelan. “Dan selama dia di sana, mama nggak bisa tinggal di sampingnya pura-pura nggak lihat apa-apa.”
Airin tahu, suatu hari nanti, anak-anaknya akan menanyakan hal yang tidak ingin ia jawab:
“Kenapa kita nggak punya ayah?”
“Kenapa kita tinggal jauh dari negara asal?”
“Siapa Sugar itu?”
Di antara suara sungai dan angin, ia membuat satu janji baru pada dirinya sendiri:
Jika suatu hari anak-anaknya cukup besar untuk bertanya, ia akan jujur.
Tidak semua detail berdarah, tapi cukup untuk membuat mereka mengerti bahwa kadang, pergi bukan bentuk pengkhianatan—melainkan satu-satunya cara menyelamatkan diri.
Di malam lain, Takahashi mengetuk pintu kamarnya pelan.
“Aira-san?” panggilnya. “Boleh masuk?”
Airin menggeser pintu dan mengangguk.
“Silakan, Takahashi-san.”
Wanita itu melangkah masuk dengan sebuah nampan kecil. Di atasnya ada cangkir teh hangat dan semangkuk kecil sesuatu yang tampak seperti puding lembut.
“Ini untukmu. Teh herbal, baik untuk istirahat. Dan ini… kudapan manis. Saya pikir kamu butuh.”
Airin tersenyum lemah. “Terima kasih banyak. Benar-benar tidak merepotkan?”
Takahashi duduk di ujung meja.
Ia menatap Airin beberapa detik, lalu bertanya pelan, “Kamu sendirian di negara ini, Aira-san. Tidak ada keluarga? Tidak ada teman?”
Pertanyaan itu sederhana, tapi menusuk.
“Tidak ada,” jawab Airin. “Saya sendirian.”
“Kamu akan melahirkan sebentar lagi,” lanjut Takahashi. “Tidak takut?”
Airin menggenggam cangkir teh, merasakan hangatnya di telapak tangan.
“Tentu takut,” katanya jujur. “Tapi… saya lebih takut kalau anak-anak saya lahir di tempat yang salah.”
Takahashi mengerutkan kening sedikit. “Tempat yang salah?”
Airin terdiam beberapa saat, memilih kata-kata.
“Tempat di mana suara yang mereka dengar setiap hari bukan tawa, tapi teriakan. Di mana orang yang seharusnya melindungi mereka punya terlalu banyak musuh. Di mana darah lebih sering dibersihkan daripada air mata.”
Takahashi memandang Airin lama.
Di matanya, ada sesuatu yang berubah. Bukan rasa ingin tahu yang kepo, tapi semacam empati yang dalam, meski ia tidak tahu detailnya.
“Kita semua punya tempat yang ingin kita tinggalkan,” kata Takahashi perlahan. “Kadang tempat itu rumah, kadang orang, kadang masa lalu. Tapi tubuh kita ini… selalu membawanya sedikit, walaupun kita sudah jauh.”
Airin tertawa pahit.
“Sepertinya begitu,” katanya. “Saya sudah di negara lain, di desa yang tenang, tapi di kepala saya… masih ada ruang bawah tanah, rantai, dan satu rumah lama yang selalu muncul dalam mimpi.”
“Kamu lari dari seseorang?” tanya Takahashi akhirnya, suaranya pelan tapi tegak.
Airin tidak menjawab langsung.
Ia hanya menatap teh di tangannya, melihat bayangan samar wajahnya di permukaan air hangat itu.
“Bukan cuma dari seseorang,” jawabnya akhirnya. “Tapi dari dunia yang orang itu jaga.”
Takahashi tidak bertanya lagi.
Ia menutup percakapan dengan satu kalimat yang ia ucapkan sambil berdiri.
“Kalau suatu hari kamu butuh bantuan… bukan tentang kamar atau makanan, tapi tentang hal yang lain… kamu bisa bilang pada saya. Saya mungkin tidak mengerti semua, tapi saya bisa dengar.”
Begitu Takahashi pergi, meninggalkan kehangatan teh dan kata-kata sederhana itu,
Airin menutup pintu kamarnya pelan, lalu bersandar sebentar di baliknya. Dadanya terasa sesak, bukan karena lelah, tapi karena untuk pertama kalinya sejak ia kabur, ada orang lain yang menatapnya bukan sebagai “milik” Sugar, bukan sebagai alat tawar-menawar, bukan sebagai istri bos mafia—melainkan sebagai seorang perempuan yang sedang berusaha bertahan hidup.
Ia duduk di lantai tatami, membawa cangkir teh ke bibir. Hangatnya menyebar pelan di tenggorokan, tapi tidak cukup untuk melarutkan dingin yang sudah lama bersarang di dalam dirinya.
Malam itu, Airin akhirnya tidur lebih cepat daripada biasanya. Namun tidurnya tidak pernah benar-benar utuh. Ia beberapa kali terbangun karena mimpi—selalu mimpi yang sama: pintu besi berderit, rantai bergesek, dan suara anak kecil menangis tertahan.
Ketika subuh datang, Airin terbangun dengan keringat dingin di punggungnya. Ia duduk tegak, menarik napas dalam-dalam, lalu mengelus perutnya.
“Tenang, ya…” bisiknya. “Kita di sini. Kita aman.”
Namun kata “aman” terasa seperti doa yang terlalu besar untuk ia ucapkan sembarangan.
Hari-hari berikutnya, Airin mulai belajar menjadi “Aira” dengan lebih serius. Ia paham satu hal: kalau ia ingin benar-benar menghilang, ia harus terlihat seperti wisatawan atau pendatang biasa—bukan perempuan yang sedang kabur.
Ia mulai keluar pada jam-jam yang ramai. Ia berjalan pelan di jalan utama, kadang berhenti membeli onigiri atau roti kecil dari toko pinggir jalan. Ia berlatih tersenyum pada orang yang menyapa. Ia menghafal rute tercepat dari penginapan ke stasiun, ke klinik kecil yang ia lihat di peta, juga ke kantor polisi terdekat—bukan karena ia ingin melapor, tapi karena ia butuh tahu ke mana harus lari kalau suatu hari ia dikejar.
Di desa itu, wisatawan datang dan pergi seperti gelombang kecil. Ada yang hanya sehari, ada yang dua hari, ada yang seminggu. Mereka memakai jaket tebal, membawa kamera, tertawa di depan toko suvenir, lalu menghilang ketika bus wisata menjemput.
Airin merasa nyaman karena ia juga bisa menjadi bagian dari gelombang itu.
Namun tubuhnya mulai mengingatkan bahwa waktu tidak menunggu siapa pun.
Suatu siang, ketika ia berjalan di dekat sungai, perutnya terasa menegang lebih kuat dari biasanya. Airin berhenti, memegangi pinggangnya, mencoba bernapas pelan. Rasa sakitnya tidak seperti sakit biasa karena lelah berjalan—ini lebih dalam, lebih memaksa.
Seorang turis wanita yang lewat menoleh. “Are you okay?”
Airin mengangguk cepat, memaksakan senyum. “Yes… just tired.”
Namun setelah turis itu pergi, Airin duduk di bangku dekat sungai dan menunduk, menahan rasa tidak nyaman yang membuatnya takut.
Ia belum pernah melahirkan. Ia tidak punya ibu di dekatnya. Ia tidak punya teman lama. Ia tidak punya siapa-siapa selain dirinya sendiri.
Malam itu, ia memutuskan untuk tidak menunda lagi. Besok ia harus memeriksa ke dokter atau bidan, setidaknya memastikan bayi kembarnya baik-baik saja dan ia tidak mengalami sesuatu yang berbahaya.
Pagi berikutnya, Airin meminta bantuan Takahashi.
“Takahashi-san,” ucap Airin pelan setelah sarapan, “di sini ada klinik untuk ibu hamil?”
Takahashi menatapnya dengan serius. “Ada klinik kecil. Tapi untuk kehamilan kembar… mungkin lebih baik ke kota terdekat. Di sana rumah sakitnya lebih lengkap.”
Airin menelan ludah. “Jauh?”
“Dengan kereta lokal, sekitar empat puluh menit,” jawab Takahashi. “Saya bisa tulis alamat dan bantu jelaskan ke petugas stasiun.”
Airin mengangguk, lega sekaligus takut. Pergi ke kota berarti masuk ke tempat yang lebih besar, lebih banyak kamera, lebih banyak catatan, lebih banyak kemungkinan untuk terlacak. Tapi tetap di desa tanpa pemeriksaan juga berbahaya.
Takahashi menuliskan alamat rumah sakit dan rute kereta dengan huruf yang rapi, lalu menambahkan beberapa kalimat dalam bahasa Inggris yang bisa Airin tunjukkan kalau ia kesulitan.
“Jangan panik,” kata Takahashi. “Di Jepang, petugas stasiun biasa membantu.”
Airin menunduk. “Terima kasih.”
Takahashi memandangnya lama, lalu berkata pelan, “Kalau kamu takut seseorang mencarimu… rumah sakit adalah tempat ramai. Tapi ramai juga bisa jadi pelindung. Kamu akan terlihat seperti orang biasa.”
Kalimat itu menenangkan Airin sedikit. Ia mengangguk, lalu bersiap.
Di stasiun, Airin membeli tiket ke kota terdekat dan duduk di kereta lokal yang tidak terlalu penuh. Ia memilih kursi dekat pintu, agar mudah turun kalau ia tiba-tiba panik. Sepanjang perjalanan, ia menatap keluar jendela, melihat pemandangan sawah dan perbukitan yang berganti pelan.
Namun, di sela-sela pemandangan yang menenangkan itu, pikirannya terus memutar kemungkinan terburuk: bagaimana kalau Sugar melacak transaksi tiket pesawat? Bagaimana kalau Bram punya koneksi yang bisa menemukan namanya di imigrasi? Bagaimana kalau mereka sudah di Jepang?
Ia mencoba menepis, tapi rasa takut itu seperti bayangan yang menempel.
Di rumah sakit kota, Airin mengambil nomor antrean di bagian pemeriksaan umum, lalu diarahkan ke poli kebidanan. Di ruang tunggu, ada beberapa perempuan hamil lain—sebagian ditemani suami, sebagian ditemani ibu, sebagian sendirian. Airin duduk di sudut, memegang tasnya erat.
Ketika namanya dipanggil—“Aira”—Airin berdiri dan masuk.
Dokter wanita, sekitar usia empat puluhan, menyapanya dalam bahasa Jepang, lalu beralih ke bahasa Inggris yang sederhana ketika menyadari Airin bukan orang lokal.
“Kamu hamil kembar?” tanya dokter itu sambil melihat formulir.
“Iya,” jawab Airin. “Saya… tujuh bulan.”
Dokter mengangguk, lalu memeriksa tekanan darah, detak jantung bayi, dan melakukan USG singkat. Saat dua detak jantung terdengar jelas, Airin hampir menangis karena lega.
“Keduanya baik,” kata dokter. “Tapi kamu terlihat stres. Kontraksi ringan mungkin karena kelelahan dan tekanan. Kamu harus lebih banyak istirahat, minum, dan jangan jalan terlalu jauh.”
Airin mengangguk cepat. “Saya akan jaga.”
Dokter menatapnya, seperti menimbang sesuatu. “Kamu tinggal di mana? Kamu punya asuransi? Kamu punya keluarga di Jepang?”
Airin membeku sejenak, lalu menjawab hati-hati, “Saya… tinggal di penginapan. Saya belum punya asuransi Jepang. Saya sendirian.”
Dokter tidak menghakimi. Ia hanya menghela napas kecil, lalu menuliskan beberapa saran dan vitamin.
“Kamu perlu rencana untuk melahirkan,” katanya tegas tapi lembut. “Tidak bisa sendirian tanpa persiapan. Kamu harus putuskan melahirkan di rumah sakit mana. Kamu punya paspor, kan? Statusmu legal?”
Airin mengangguk. “Iya. Saya… turis.”
“Baik,” kata dokter. “Untuk saat ini, jaga kondisi. Kalau ada nyeri kuat, pendarahan, atau air ketuban, langsung ke IGD. Jangan menunggu.”
Airin berterima kasih berkali-kali sebelum keluar ruangan. Ia menggenggam kertas resep seperti benda paling berharga.
Dalam perjalanan pulang ke desa, Airin merasa sedikit lebih tenang. Setidaknya bayi-bayinya baik. Ia masih punya waktu—meski tidak banyak—untuk menyusun langkah berikutnya.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Sore itu, ketika ia tiba kembali di stasiun desa, suasana terasa lebih ramai dari biasanya. Ada rombongan wisatawan yang baru datang, membawa koper, dipandu oleh seorang pria yang berbicara cepat dalam bahasa Jepang. Beberapa warga lokal menata papan petunjuk, menggantung lampion tambahan.
Airin berjalan pelan melewati kerumunan, tapi matanya menangkap sesuatu: di salah satu papan pengumuman, ada poster besar berwarna cerah dengan foto jalan desa dan tulisan yang ia tidak mengerti sepenuhnya—namun ada angka tanggal yang jelas.
Festival.
Takahashi menjelaskan malam itu ketika Airin bertanya.
“Besok lusa ada festival kecil,” kata Takahashi sambil menyiapkan teh. “Musim ini biasanya ramai. Banyak wisatawan datang untuk lihat lampion, pertunjukan, dan makanan jalanan.”
Airin menelan ludah. Keramaian bisa melindungi, tapi keramaian juga bisa mengundang orang asing lain—termasuk orang yang sedang mencari.
“Kamu tidak perlu keluar kalau tidak mau,” tambah Takahashi, seperti bisa membaca ketegangan di wajah Airin.
Airin mengangguk. “Saya mungkin… di kamar saja.”
Namun di dalam dirinya, ada konflik yang tidak selesai. Ia ingin menikmati hidup normal walau sebentar. Ia ingin melihat festival, merasakan kebahagiaan sederhana. Tapi ia juga takut.
Malam menjelang festival, Airin sulit tidur. Ia beberapa kali mengecek jendela, memastikan pintu terkunci, memastikan tasnya masih siap kalau harus pergi mendadak.
Di saat yang sama, jauh dari desa itu, di kota yang dulu mereka tinggali, Sugar sedang berubah menjadi sesuatu yang lebih berbahaya daripada biasanya.
Ketika Sugar pulang dari urusan pelabuhan hari itu, ia mendapati rumah kosong. Tidak ada Airin di ruang tamu, tidak ada suara langkah di dapur, tidak ada aroma makanan yang biasanya ia buat meski sedang kesal.
Awalnya, Sugar pikir Airin mungkin keluar sebentar. Tapi ketika satu jam lewat dan tidak ada kabar, Sugar mulai memeriksa. Ponsel Airin tidak aktif. Kamera di sekitar rumah menunjukkan Airin keluar dengan tas kecil, naik taksi, dan pergi ke arah bandara.
Saat itu, wajah Sugar seperti membeku.
Bram berdiri di sampingnya, memutar rekaman beberapa kali. “Dia sudah rencana, Bos.”
Sugar tidak menjawab, tapi rahangnya mengeras. Di matanya, ada sesuatu yang berbahaya—bukan hanya marah karena ditinggalkan, tapi marah karena kehilangan kendali.
“Cari,” kata Sugar akhirnya, suaranya dingin. “Cari sampai ketemu.”
Bram mengangguk. “Kita mulai dari bandara.”
Sugar menyipit. “Dia hamil. Dia tidak akan bisa pergi jauh tanpa bantuan.”
Bram tidak berkomentar, tapi dalam hati ia tahu: perempuan yang terdesak bisa melakukan apa pun. Dan Airin bukan perempuan lemah seperti yang orang kira. Ia hanya terlihat rapuh karena sedang hamil dan terlalu lama menahan diri.
Dalam dua hari, Bram menemukan jejak tiket: penerbangan ke Tokyo. Nama penumpang memang “Airin” tercatat, karena paspornya demikian. Namun setelah itu, ponsel Airin mati total, dan sinyalnya hilang.
Sugar menatap data itu dengan wajah tanpa ekspresi.
“Jepang,” gumamnya. “Dia pikir dengan pergi ke negara lain dia bisa lepas dari aku.”
Bram berdiri tegak. “Kita bisa kirim orang ke sana.”
Sugar menatap Bram, perlahan. “Kamu yang berangkat.”
Bram sedikit terkejut, tapi ia mengangguk. “Baik, Bos.”
Sugar menambahkan dengan suara rendah, “Aku tidak peduli dia marah, aku tidak peduli dia benci. Tapi dia bawa anakku. Dan dia adalah milikku.”
Kata-kata itu membuat Bram diam beberapa detik. Ia tahu Sugar mencintai Airin dengan cara yang rusak—cara yang tidak bisa membedakan cinta dan kepemilikan.
Di sisi lain dunia, Airin tidak tahu detail itu. Tapi tubuhnya seolah bisa merasakan: sesuatu bergerak, mendekat.
Hari festival tiba dengan langit cerah. Sejak pagi, desa sudah dipenuhi wisatawan. Toko makanan jalanan mulai menyiapkan bahan: daging panggang, takoyaki, manisan, minuman hangat. Anak-anak berlarian memakai yukata kecil, tertawa dan menunjuk lampion yang digantung di sepanjang jalan.
Airin berdiri di depan jendela kamarnya, menatap semua itu dari atas. Ada bagian dari dirinya yang ingin turun—sekadar melihat, sekadar merasakan.
Ia menatap pantulan wajahnya di kaca. Wajah itu tampak lebih pucat daripada biasanya. Mata itu lebih waspada. Tapi di sana juga ada satu hal: tekad.
Kalau ia terus bersembunyi dalam kamar, ia akan hidup dalam ketakutan yang sama seperti saat bersama Sugar—hanya lokasi yang berbeda. Ia tidak mau itu.
Ia mengambil napas panjang, lalu turun.
Takahashi melihatnya dari dapur dan terkejut. “Aira-san… kamu mau keluar?”
Airin mengangguk pelan. “Saya cuma jalan sebentar. Tidak jauh.”
Takahashi menatapnya seperti ingin melarang, tapi akhirnya mengangguk. “Hati-hati. Jangan terlalu lama berdiri. Kamu bisa duduk di dekat toko teh. Di sana ada bangku.”
Airin tersenyum tipis. “Terima kasih.”
Di jalan, Airin bergerak pelan, menyatu dengan keramaian. Ia menahan diri untuk tidak memandang orang terlalu lama, karena itu bisa terlihat mencurigakan. Ia berjalan seperti wisatawan yang lelah, kadang berhenti, kadang tersenyum pada anak kecil yang lewat.
Di sebuah kios, ia membeli minuman hangat. Penjualnya tersenyum ramah, memberi kantong kecil. Airin mengangguk, mengucapkan terima kasih dalam bahasa Jepang yang ia pelajari dari Takahashi: “Arigatou.”
Sederhana, tapi rasanya seperti kemenangan kecil.
Ia duduk di bangku dekat toko teh, mengamati orang-orang. Angin membawa aroma makanan dan suara musik tradisional dari ujung jalan.
Untuk beberapa menit, Airin lupa bahwa ia sedang kabur.
Namun kemudian, sesuatu membuat bulu kuduknya berdiri.
Di ujung jalan, di antara kerumunan, ada seorang pria tinggi dengan jaket gelap. Wajahnya tidak jelas karena jarak, tapi cara ia berdiri—cara matanya bergerak memindai keramaian—terlalu familiar bagi Airin.
Itu bukan cara wisatawan melihat pemandangan.
Itu cara orang yang mencari.
Airin meneguk minumannya dengan tangan gemetar. Ia mencoba meyakinkan diri bahwa itu hanya paranoid. Di tempat wisata, wajar ada orang yang terlihat serius. Wajar ada orang yang berdiri memindai karena sedang menunggu temannya.
Tapi insting Airin menjerit.
Ia berdiri perlahan, mencoba tidak panik. Ia berjalan ke arah gang kecil di samping toko, seolah ingin melihat kios lain. Dari sudut mata, ia tetap memperhatikan pria itu.
Pria itu bergerak.
Langkahnya tidak cepat, tapi terarah, seperti mengunci arah.
Airin menelan ludah. Ia memegang perutnya, merasakan bayi kembarnya bergerak, seolah ikut gelisah.
“Tenang,” bisiknya. “Tenang, jangan lari.”
Ia masuk ke gang kecil yang mengarah ke belakang beberapa toko. Gang itu lebih sepi, hanya ada beberapa warga lokal yang membawa barang.
Airin berjalan lebih cepat, tapi tidak sampai berlari. Ia tahu, Kalau ia berlari, ia akan menarik perhatian. Dan ia tidak sanggup berlari jauh.
Di ujung gang, ada persimpangan: satu jalan kembali ke jalan utama, satu jalan menuju area penginapan, dan satu jalan menuju stasiun.
Airin ragu. Kembali ke penginapan berarti dekat Takahashi, dekat tempat aman. Tapi kalau orang itu benar-benar mengejar, membawa mereka ke penginapan berarti membahayakan Takahashi.
Ke stasiun? Terlalu terbuka. Terlalu ramai. Tapi mungkin ramai bisa melindungi.
Airin memutuskan ke jalan yang memutar, bukan langsung. Ia memilih rute yang melewati halaman belakang kuil kecil yang ia lihat beberapa hari lalu—tempat yang cukup ramai saat festival, tapi memiliki beberapa pintu keluar.
Begitu sampai area kuil, ia menyatu lagi dengan kerumunan. Orang-orang berkumpul menonton pertunjukan singkat. Lampion bergoyang di atas kepala. Suara musik tradisional menutupi langkahnya.
Airin berjalan menepi, mencari tempat duduk di pinggir. Ia berpura-pura melihat pertunjukan, padahal matanya menyapu orang-orang, mencari pria jaket gelap itu.
Dan ia melihatnya.
Pria itu berdiri sekitar dua puluh meter dari sana, lebih dekat sekarang. Wajahnya lebih jelas. Airin menahan napas.
Bukan Bram.
Tapi wajahnya asing—namun auranya… aura itu seperti anak buah Sugar. Cara bahunya tegang. Cara ia memegang ponsel di tangan, seolah menunggu instruksi. Cara matanya tajam.
Airin merasa darahnya turun.
Kalau bukan Bram, berarti Sugar mengirim orang lain lebih dulu. Pria ini mungkin hanya “pengintai.” Mungkin dia mencari jejak Airin sebelum Bram datang.
Airin tidak menunggu sampai pria itu mendekat. Ia bergerak pelan ke sisi kuil, menuju area tempat orang biasa menggantung doa kecil di papan kayu. Ia berpura-pura membaca, lalu bergerak ke pintu keluar samping.
Di luar kuil, jalan kecil mengarah ke belakang rumah-rumah kayu. Airin mempercepat langkah. Napasnya mulai berat.
“Jangan panik,” ia mengulang dalam hati. “Jangan panik.”
Namun panik adalah sesuatu yang menular. Semakin ia berusaha menahan, semakin kuat dadanya terasa sempit.
Ia mencapai tikungan kecil dan berhenti sebentar, menempelkan punggungnya ke dinding kayu, mencoba menenangkan napas.