“Pegangan… jangan terlalu banyak bergerak,” bisik Airin lembut sambil mengelus perutnya. “Kalau kita harus pergi lagi, maafkan Mama.”
Kata-kata itu menggantung di udara kamar kecil itu, menjadi batas tak terlihat antara rencana yang selama ini hanya ada di kepala dan kenyataan yang kini mengetuk pintu dengan keras.
Airin menarik napas panjang, mencoba menstabilkan detak jantungnya yang berlari tak karuan.
Ia meraih tas kecilnya, mengecek sekilas: paspor, sedikit uang tunai, buku catatan, ponsel yang masih mati. Semua sudah siap.
Tidak ada waktu untuk membawa pakaian banyak—hidupnya sudah terlalu sering diwarnai oleh hal-hal yang “harus ditinggalkan”.
Ia melangkah ke pintu, menempelkan telinga sebentar.
Lorong lantai dua sunyi. Tidak ada suara langkah, tidak ada suara pintu lain terbuka. Hanya suara festival yang samar dari luar, dan percakapan pelan dari lantai bawah.
Suara laki-laki itu…
Meskipun kata-katanya tidak terdengar jelas, nada dan ketegangan di dalamnya sangat familiar.
Bukan suara Sugar, tetapi suara tipe orang yang selalu ada di belakang Sugar.
Airin tidak yakin apakah itu Bram atau orang lain yang dikirim Sugar, tapi ia tahu satu hal: orang di bawah itu tidak datang untuk memesan kamar dan menikmati festival.
Dengan hati-hati, Airin membuka pintu. Kayu bergeser pelan, menimbulkan suara halus yang ia harap tidak terdengar ke bawah. Ia menyelipkan tubuhnya ke luar, satu tangan memegang kusen pintu untuk menjaga keseimbangan perutnya yang berat.
Lorong masih sepi.
Ia melangkah, pelan tapi pasti, menyusuri koridor menuju ujung yang mengarah ke tangga lain—tangga kecil yang menuju dapur, bukan tangga utama yang langsung tembus ke area depan.
Suara percakapan di bawah pelan-pelan mulai terdengar lebih jelas.
Suara pria asing—tenang, tapi mengandung tekanan.
Dan suara Takahashi—tetap lembut, tetapi dengan ketegangan yang Airin bisa rasakan meski tidak melihat wajahnya.
“Penginapan ini… banyak tamu,” suara Takahashi terdengar samar. “Perempuan hamil juga ada beberapa yang datang dan pergi. Saya tidak ingat satu per satu.”
“Kau pemilik tempat ini,” suara laki-laki itu membalas dengan nada datar. “Orang seperti kamu biasanya ingat tamu yang… tidak biasa.”
Langkah Airin terhenti sesaat di atas tangga kecil yang menuju dapur.
Nada itu. Cara bicara itu.
Ia terlalu sering mendengar nada seperti itu saat Sugar berhadapan dengan orang yang dianggap “menghalangi”.
Airin menggenggam pegangan tangga lebih erat. Ia memaksa dirinya turun.
Tangga kayu itu berderit pelan di bawah berat tubuhnya, tapi suara festival dan percakapan di depan cukup menenggelamkannya. Begitu sampai di dasar tangga, Airin menoleh ke kanan—ke arah dapur.
Dari celah kecil, ia bisa melihat sosok Takahashi berdiri di belakang meja penerima. Di depannya, seorang pria tinggi berjaket gelap berdiri dengan punggung menghadap dapur.
Bahunya tegap, sikapnya waspada.
Airin tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu: itu bukan orang yang datang untuk menikmati onsen dan festival.
Ia menahan napas.
Dapur tampak kosong. Kompor sudah dimatikan, piring sudah tersusun rapi, hanya ada satu pintu kayu kecil di belakang—pintu evakuasi yang disebut Takahashi.
Langkah Airin berubah jadi langkah mengendap. Ia bergerak mendekati pintu itu, tubuhnya sedikit membungkuk, seolah meminimalkan keberadaannya.
Setiap gesekan kain, setiap napas seakan terdengar berlebihan di telinganya sendiri.
Tangan kirinya meraih gagang pintu pelan, mencoba memutarnya tanpa menimbulkan suara.
Namun kayu tua jarang bisa diajak kompromi.
“Klik…”
Suara kecil itu terdengar jelas di telinga Airin sendiri, dan ia merasa darahnya seolah berhenti mengalir.
Percakapan di depan terhenti sepersekian detik.
Suara laki-laki itu bertanya, “Ada orang lain di sini?”
Airin membeku.
Suara Takahashi terdengar menyusul, sedikit terlalu cepat untuk bisa disebut santai.
“Sepertinya salah satu tamu… mungkin ke toilet atau ke dapur. Tempat kami kecil.”
Airin menutup mata sejenak.
Takahashi sedang berbohong untuknya, dan kebohongan itu hanya bisa bertahan kalau ia bergerak sekarang juga.
Ia mendorong pintu pelan-pelan, cukup untuk menyelinap keluar. Angin sore menerpa wajahnya begitu ia berada di luar, di gang sempit di belakang penginapan. Bau kayu basah dan sedikit aroma minyak dari dapur bercampur dengan udara dingin.
Airin menutup pintu dari luar dengan hati-hati.
Tidak terkunci, tidak tertutup rapat, tapi cukup agar tidak langsung terlihat terbuka oleh orang dalam.
Ia menoleh ke dua arah gang: kiri dan kanan.
Kiri mengarah ke jalan kecil yang ujungnya ia tahu tembus ke jalan utama. Kanan mengarah ke sisi lain desa, mendekati area perumahan warga dan jalan menuju stasiun.
Tanpa pikir panjang, ia memilih kanan.
Kakinya melangkah secepat yang ia bisa, tapi tubuhnya tidak lagi sekuat dulu. Setiap beberapa langkah, perutnya menegang, memaksa ia memperlambat.
Namun ketakutan jauh lebih kuat daripada rasa sakit.
Dalam beberapa menit yang terasa seperti selamanya, ia keluar dari gang ke jalan yang lebih lebar—jalan yang tidak penuh wisatawan, tetapi masih cukup ramai untuk membuatnya tidak mencolok.
Beberapa warga lokal mendorong kereta kecil, anak-anak berlari membawa balon festival, beberapa turis berjalan sambil melihat peta.
Airin mengatur napas, lalu mengubah ritme langkah.
Di depan orang-orang, ia tidak boleh terlihat seperti orang yang melarikan diri.
Ia harus terlihat seperti perempuan hamil yang sedang berjalan pelan, mungkin kembali ke penginapannya, mungkin ke stasiun, mungkin hanya menikmati udara sore.
Dalam kepalanya, satu rute terus menerus ia ulang:
Gang belakang – jalan kecil – belok kiri – lurus – stasiun.
Stasiun.
Itu satu-satunya tempat yang memberikan kemungkinan untuk benar-benar menjauh dari desa ini.
Namun sekaligus, stasiun adalah tempat yang akan dilihat pertama kali oleh orang yang sedang mencari.
“Kalau mereka menyebar…” ia bergumam dalam hati, “aku bisa bertemu mereka di mana saja.”
Saat mendekati tikungan yang mengarah ke jalan stasiun, ia hampir berpapasan dengan sekelompok wisatawan yang baru saja turun dari bus. Mereka tertawa, menarik koper, memotret papan desa.
Airin menepi sebentar, membiarkan mereka lewat. Detik-detik kecil ini memberinya waktu untuk berpikir.
“Kembali ke penginapan sudah tidak mungkin,” pikirnya. “Kalau Bram—kalau itu Bram—curiga, tempat pertama yang akan dia periksa lebih dalam adalah kamar. Aku bisa menyeret Takahashi ke masalah lebih besar.”
Ia mengepalkan tangan di atas perutnya.
“Kalau bukan ke penginapan, berarti aku memang harus pergi… sekarang.”
Dan satu-satunya jalan keluar yang ada hanyalah: stasiun.
Dengan tekad yang setengahnya adalah nekat, Airin melangkah ke arah stasiun.
Langkahnya pelan tapi pasti.
Di sisi lain desa, di penginapan, suasana mulai berubah.
Bram berdiri kaku di depan meja, matanya menyipit tipis saat mendengar suara kecil dari arah dapur tadi. Ia tidak bergerak langsung—orang seperti dia jarang bergerak spontan tanpa menilai situasi.
“Jadi,” ucapnya lagi kepada Takahashi, “kau bilang tidak tahu menahu tentang perempuan yang aku cari?”
Takahashi menjaga ekspresinya tetap sedatar mungkin.
“Kami hanya penginapan kecil, Tuan,” jawabnya. “Banyak tamu datang dan pergi. Orang asing, orang lokal. Kami tidak menanyakan urusan pribadi mereka.”
Bram menatapnya beberapa detik, cukup lama untuk membuat napas Takahashi sedikit tertahan.
“Penginapan kecil,” ulang Bram pelan. “Tapi kau cukup tahu untuk menelepon seseorang dan bilang ada perempuan asing hamil menginap di sini.”
Takahashi terdiam.
Ia memang pernah menghubungi kontak lokal yang “diatur” oleh orang desa, awalnya hanya untuk hal-hal administratif—pemberitahuan turis, promosi desa. Baru belakangan, kontak itulah yang menjadi saluran informasi Bram.
Takahashi tidak menduga bahwa perempuan hamil yang ia laporkan sebagai “turis yang mungkin butuh bantuan medis” ternyata istri bos mafia.
“Aku tidak tahu semua,” jawab Takahashi jujur. “Aku hanya pernah ditanya, apakah ada tamu asing yang tinggal agak lama. Aku jawab ya. Tapi aku tidak tahu… urusan selebihnya.”
Bram menunduk sedikit, seolah mengamini, tapi matanya tidak melunak sama sekali.
“Tadi di dapur ada yang membuka pintu belakang,” katanya datar. “Siapa?”
Takahashi menahan napas sepersekian detik. Itu cukup bagi Bram.
“Tidak tahu?” tanya Bram.
“Pegawai, mungkin,” jawab Takahashi. “Atau tamu yang turun ke dapur.”
“Pegawaimu ada di sini?” Bram melirik sekeliling.
“Hanya saya saat ini,” jawab Takahashi.
Hening.
Di dalam d**a Takahashi, ada dua ketakutan yang saling bertarung: takut pada orang asing dingin ini, dan takut pada kemungkinan ia menyerahkan seorang perempuan hamil ke tangan dunia yang ia tahu akan menghancurkannya.
Bram mendekat setengah langkah, menurunkan suaranya.
“Dengar, Ibu Takahashi,” ucapnya. “Wanita yang aku cari itu bukan korban. Dia istri bosku. Dia bawa kabur anak bosku. Dunia yang aku tinggali tidak menerima pengkhianatan dengan baik. Kalau aku pulang tanpa dia, bukan hanya aku yang kena masalah. Orang lain bisa ikut terbawa.”
Takahashi menangkap ancaman di balik kalimat itu: bukan hanya Airin yang akan kena, tapi siapa pun yang dianggap membantu.
“Lalu?” tanya Takahashi pelan. “Kamu mau apa?”
“Aku mau lihat semua kamar,” jawab Bram langsung. “Kalau kamu tidak mengijinkan… orang lain akan datang dengan cara yang lebih kasar.”
Ada getaran marah di d**a Takahashi, tapi ia menahannya.
Ia tahu, menolak terang-terangan mungkin hanya akan memperburuk keadaan.
“Kalau perempuan itu ada di sini dan dia lari karena takut,” kata Takahashi, menatap Bram, “apa kamu yakin membawa dia kembali adalah hal yang benar?”
Bram terdiam sesaat.
Pertanyaan itu menyentuh titik yang selama ini ia hindari.
“Kebenaran itu relatif bagi orang seperti kami,” jawabnya akhirnya. “Yang jelas: kalau aku tidak membawa dia pulang, akan lebih banyak darah yang tumpah. Dan aku tidak bicara soal darah musuh.”
Takahashi bisa membaca di situ: Sugar tidak hanya berbahaya bagi lawan, tapi juga bagi orang di sekelilingnya sendiri.
Ia menghela napas kecil.
“Baik,” katanya. “Aku akan antar lihat kamar. Tapi jangan sentuh tamuku tanpa alasan.”
Bram mengangguk singkat. “Kalau dia ada di sini, aku tidak butuh alasan lain.”
Mereka melangkah naik.
Di saat yang hampir bersamaan, Airin tiba di stasiun kecil desa itu.
Stasiun itu tidak sebesar stasiun kota, tapi cukup untuk membuatnya merasa kecil.
Ada mesin tiket, beberapa bangku, dan papan jadwal kereta. Suasana lebih sepi daripada pusat festival, tetapi tetap ada beberapa orang: wisatawan yang bersiap pulang, warga yang menunggu kereta ke kota, dan beberapa petugas.
Airin berdiri sejenak di depan mesin tiket, kebingungan.
Ia membuka buku catatan kecilnya—halaman yang dulu ia pakai untuk merencanakan kedatangannya ke desa ini. Di bawah nama desa, ia pernah menulis: “Kereta kembali ke kota – jam kemungkinan.”
Tangannya bergetar saat menelusuri tulisan itu.
Jika ia naik kereta kembali ke kota besar, ia bisa mencari rumah sakit lain, penginapan lain, bahkan mungkin bantuan resmi. Tapi semakin besar kota, semakin besar juga kemungkinan jaringan Sugar bergerak.
“Kalau aku tetap di sini, mereka akan menemukan aku,” batinnya. “Kalau aku ke kota, mereka mungkin juga bisa menemukan aku. Tapi di kota, setidaknya ada lebih banyak tempat untuk bersembunyi.”
Ia mendengar pengumuman kereta lokal akan datang lima menit lagi.
Peluang itu kecil, tapi nyata.
Dengan napas tercekat, ia melangkah ke mesin tiket.
Ia memilih rute ke kota terdekat—kota yang sama dengan rumah sakit yang pernah ia datangi.
Jari-jarinya menekan tombol dengan cepat, seolah kalau ia bergerak lambat, waktu akan menelannya.
Tiket keluar dari mesin.
Airin menggenggamnya erat, seolah menggenggam satu-satunya tali yang menghubungkannya dengan kemungkinan hidup.
Di peron, angin bertiup lebih dingin.
Ia duduk di bangku, meletakkan tas di pangkuan, satu tangan mengelus perut.
“Sebentar lagi,” bisiknya. “Sebentar lagi kita jauh sedikit lagi.”
Matanya melirik ke pintu masuk stasiun, setengah berharap tidak ada sosok jaket gelap yang muncul, setengah yakin ia sudah terlambat.
Kereta masuk, remnya berdecit halus, pintu terbuka. Beberapa penumpang turun, beberapa naik. Petugas berdiri di ujung peron, mengawasi.
Airin berdiri.
Kakinya terasa berat, tapi ia memaksa melangkah.
Satu… dua… tiga langkah menuju pintu kereta.
Di saat yang sama, suara tawa beberapa anak kecil terdengar di belakang, bercampur dengan suara percakapan turis.
Matanya sekilas menangkap bayangan di pintu masuk stasiun:
Seorang pria tinggi berjaket gelap, baru masuk, menoleh ke arah peron.
Airin tidak menunggu apakah itu Bram atau bukan.
Ia melangkah masuk ke dalam kereta.
Begitu kakinya menyentuh lantai kereta dan pintu mulai menutup, ia merasa seperti melompati satu jurang tipis antara hidup dan sesuatu yang lain.
Pintu menutup penuh.
Kereta mulai bergerak.
Airin berdiri di dekat pintu, memegangi tiang, lututnya lemas.
Begitu kereta meninggalkan stasiun, air matanya jatuh tanpa bisa lagi ia tahan.
“Maafkan Mama…” ulangnya, lebih lirih dari sebelumnya—kali ini tidak hanya untuk bayi-bayinya, tapi juga untuk Takahashi, untuk anak kecil di rumah lama, dan bahkan untuk dirinya sendiri.
Ia tahu, setiap kali ia memilih hidup, selalu ada sesuatu yang tertinggal di belakang.
Namun kali ini, ia juga tahu: kalau ia berhenti bergerak, bukan hanya hidupnya yang berhenti—hidup dua bayi di dalam dirinya juga ikut padam.
Dan entah di desa itu, Bram melihat kereta yang baru saja berangkat, atau belum sampai stasiun sama sekali—yang jelas, jarak antara mereka dan Airin baru saja bertambah.
Bukan jarak yang aman.
Tapi cukup untuk memberi Airin satu bab lagi kesempatan bernapas.