Sejak hari itu di depan rumah lama, malam-malam Airin tidak pernah lagi benar-benar tenang.
Setiap kali memejamkan mata, bayangan anak kecil yang terikat di ranjang besi itu muncul lagi, bercampur dengan suara rantai yang bergeser pelan. Di sisi lain ranjang, Sugar tertidur pulas, napasnya teratur, seolah dunia mereka baik-baik saja.
Airin menatap langit-langit kamar, satu tangan di perut, satu lagi menggenggam selimut erat-erat.
Dalam hening malam, ia membuat keputusan yang tidak pernah berani ia bayangkan sebelumnya: ia akan pergi.
Bukan sekadar keluar dari rumah, tapi kabur dari hidup sugar. Dari kota ini. Dari negara ini.
Ia tahu, selama masih berada di bawah bayang-bayang jaringan mafia sugar, ia tidak akan pernah benar-benar aman.
Ia butuh tempat yang jauh, asing, ramai, tetapi cukup kecil untuk membuatnya tenggelam di antara keramaian: sebuah desa wisata di Jepang yang pernah hanya ia lihat di brosur dan internet—desa kecil dengan rumah kayu tradisional, lampion di malam hari, dan aliran sungai jernih yang sering dipenuhi wisatawan.
Jepang.
Nama negara itu berputar-putar di kepalanya beberapa hari, sampai akhirnya berubah dari sekadar angan jadi rencana.
Di siang hari, saat Sugar keluar bersama Bram, Airin mulai bergerak dalam diam.
Ia membuka laptop yang biasanya hanya dipakai untuk belanja perlengkapan bayi, lalu mulai mencari informasi: desa-desa wisata di Jepang, penginapan kecil, tempat yang jauh dari kota besar tetapi cukup sering didatangi turis sehingga satu wajah baru tidak terlalu mencolok.
Ia menemukan satu nama desa yang fotonya membuat dadanya terasa sedikit lega:
Gang sempit dengan toko-toko kecil, onsen (pemandian air panas), penginapan tradisional dengan papan kayu dan tulisan Jepang. Di musim tertentu, desa itu dipenuhi wisatawan, baik lokal maupun asing. Suara tawa, suara langkah di jalan batu, dan hiruk pikuk bahasa asing bercampur jadi satu.
Di tengah keramaian seperti itu, ia bisa menjadi siapa saja.
Pelan-pelan, Airin mulai menyalin informasi penting: nama desa, nama penginapan murah yang menerima pembayaran tunai, jadwal kereta dari kota besar terdekat.
Ia menyimpannya tidak di laptop, tapi di buku catatan kecil yang ia sembunyikan di antara buku resep masakan di dapur—tempat yang hampir tidak pernah disentuh Sugar maupun Bram.
Langkah berikutnya adalah yang paling sulit: uang.
Airin tahu semua rekening besar berada di bawah pengawasan Sugar.
Namun selama ini, Sugar sering memberinya uang tunai untuk kebutuhan harian, dan Airin tidak pernah menghabiskan semuanya. Diam-diam, ia menyisihkan sedikit demi sedikit—menyimpan di dalam tas kecil yang ia taruh di pojok lemari, di balik tumpukan baju bayi.
Setiap lembar yang ia lipat dan simpan membuat jantungnya berdebar.
Bukan hanya karena takut ketahuan, tapi karena setiap lembar uang itu adalah satu langkah menjauh dari pria yang, meski kejam, pernah membuatnya percaya bahwa keluarga itu mungkin.
Di malam hari, saat Sugar memeluk perutnya dan bergumam tentang nama bayi, Airin merasa seolah sedang tenggelam di dua lautan sekaligus:
Lautan hangat seorang suami yang tampak mencintai, dan lautan gelap seorang bos mafia yang menyiksa anak kecil di rumah lamanya.
“Apa kamu bahagia?” tanya Sugar suatu malam, suaranya pelan di dekat telinga Airin.
Airin terdiam.
Ia ingin menjawab jujur: tidak.
Tapi yang keluar hanya senyum tipis dan anggukan kecil.
“Selama kamu di sini bersamaku… kamu aman,” ujar Sugar, seolah itu satu-satunya kebenaran di dunia.
‘Selama aku di sini, kamu aman.’
Kalimat itu terdengar seperti ancaman tersembunyi bagi Airin:
Kalau ia pergi, kalau ia mencoba lepas, mungkin keselamatannya—dan keselamatan bayi-bayinya—tidak lagi terjamin.
Justru karena itulah, rencananya harus sempurna.
Hari-hari berikutnya, Airin mulai memperhatikan pola hidup Sugar dan Bram.
Kapan Sugar bangun, jam berapa ia keluar rumah, kapan Bram datang, kapan para anak buah muncul di sekitar rumah, mobil mana yang dipakai untuk urusan kantor dan mana yang dipakai untuk urusan “lain.”
Ia menyadari, ada satu celah:
Setiap beberapa hari sekali, Sugar dan Bram pergi bersama untuk urusan yang tidak pernah mereka jelaskan secara rinci. Mereka menggunakan mobil tertentu, berangkat pagi, dan sering pulang menjelang malam. Pada hari-hari seperti itu, rumah relatif sepi—hanya beberapa anak buah yang berjaga di radius jauh, bukan persis di depan rumah.
Hari seperti itulah yang Airin tunggu.
Suatu sore, ketika hujan rintik-rintik membasahi jalan, Airin duduk di meja makan sambil memegang cangkir teh hangat. Bram baru saja datang, disambut singkat oleh Sugar, lalu mereka berdua masuk ke ruang kerja.
“Besok kita jalan pagi. Urusan di pelabuhan belum kelar,” terdengar suara Bram samar-samar dari balik pintu.
“Pakai mobil hitam. Suruh anak-anak jaga jarak, jangan terlalu mencolok,” jawab Sugar.
Airin pura-pura sibuk mencuci piring, tapi setiap kata itu tertanam di kepalanya.
Besok pagi.
Mobil hitam.
Anak buah menjaga jarak.
Malam itu, setelah Sugar tertidur lebih dulu, Airin kembali membuka buku catatan kecilnya.
Ia menuliskan tiga kata: Besok. Pergi. Jepang.
Ia tahu perutnya sudah besar, dan perjalanan jauh bukan perkara mudah.
Tapi setiap kali ia ragu, ia mengingat mata bengkak anak kecil di rumah lama, dan janji yang ia ucapkan di depan jendela: Aku akan kembali. Aku akan bawa kamu keluar.
Kalau ia tetap di sini, ia mungkin akan diam, membiarkan Sugar terus membalas dendam dengan cara yang sama kejamnya.
Kalau ia pergi, setidaknya ia punya kesempatan menyelamatkan diri… dan suatu hari, mungkin, menyelamatkan anak itu juga.
Rencananya sederhana di atas kertas, tetapi berbahaya di dunia nyata:
Saat Sugar dan Bram keluar rumah besok pagi, ia akan menunggu beberapa jam sampai ia yakin mereka cukup jauh. Lalu ia akan keluar dengan tas kecil yang sudah ia siapkan—berisi sedikit pakaian, uang tunai, buku catatan, dan dokumen penting yang diam-diam ia kumpulkan.
Ia akan menuju bandara dengan taksi biasa, membeli tiket tujuan kota besar di Jepang, lalu melanjutkan perjalanan dengan kereta ke desa wisata yang sudah ia pilih.
Di desa itu, di antara keramaian wisatawan, ia akan menjadi orang asing bernama baru.
Bukan istri bos mafia.
Bukan anak tiri dari tawanan.
Hanya seorang perempuan hamil yang datang ke Jepang untuk mencari ketenangan.
Airin menutup buku catatan, menyelipkannya lagi di antara buku resep.
Ia memeluk perutnya, membelai pelan.
“Besok… kita mulai hidup baru,” bisiknya pada bayi kembar di dalam kandungannya. “Jauh dari ayah kalian. Jauh dari rumah lama itu.”
Yang tidak ia tahu, di sudut lain kota, Sugar dan Bram juga sedang menyusun rencana mereka sendiri—dan di tengah semua itu, tidak ada satu pun yang mengira bahwa besok akan menjadi hari pertama mereka benar-benar saling mengkhianati.
Sekarang naskah ini sudah aman sepenuhnya dari masalah nama orang nyata.