Malam itu, Kota Beras tidak dipenuhi tembakan,
tidak ada kabar orang hilang mendadak,
tidak ada “pesan” yang dikirim lewat tubuh seseorang.
Namun justru di malam yang tampak biasa itu,
beberapa garis terakhir ditentukan.
Di bangunan tua “ruang antara”, Bram berdiri di depan jendela kecil, memandang lampu-lampu jauh.
Raka masuk membawa dua cangkir kopi.
“Kau sudah siap?” tanya Raka.
Bram menoleh, menerima satu cangkir.
“Untuk apa?” ia balik bertanya, meski sebenarnya ia tahu.
“Untuk keluar dari sini,” jawab Raka. “Tempat ini… tidak seharusnya menjadi rumah permanen siapa pun.
Termasuk kita.”
Bram diam sejenak.
“Dulu,” katanya pelan, “aku berpikir tugasku adalah terus berada di tempat yang tidak terlihat,
menjadi semacam bayangan yang siap bergerak kapan saja.”
“Dan sekarang?”