Beberapa tahun berlalu.
Rumah lama benar-benar runtuh,
bukan hanya secara fisik,
melainkan dalam cerita.
Kursi besi jadi bahan bisik-bisik tua,
rantai tinggal metafora.
Kota Beras masih keras,
tetap penuh kesalahan dan keserakahan,
tapi satu hal berbeda:
Anak-anak bisa berjalan di pelabuhan tanpa perlu mendengar cerita segelap dulu.
Dan setiap nama besar kini punya tempat barunya.
Sugar
Ia tidak lagi duduk di ruangan kaca setiap hari.
Kini ia jarang ke kota,
lebih sering berada di rumah kecil di pinggiran,
menyiram tanaman di pagi hari,
memperbaiki keran bocor,
mengantar atau menjemput anak dari sekolah ketika jadwalnya memungkinkan.
Nama “Sugar” di Kota Beras pelan-pelan berubah menjadi kalimat pembuka:
“Dulu, waktu masa Sugar…”
bukan sebagai ancaman,
melainkan sebaga