Pagi setelah malam itu datang dengan cahaya yang sama,
tetapi bagi beberapa orang, dunia sudah bergeser sedikit.
Di rumah kecil di pinggiran kota, suara burung terdengar biasa,
namun di dalam, napas tiga orang masih belum sepenuhnya tenang.
Airin duduk di meja makan dengan cangkir teh yang belum disentuh.
Matanya merah, bukan karena begadang,
melainkan karena ia baru saja melewati malam ketika ketakutan lamanya disentuh lagi.
Yael Sadewa duduk di kursi, memeluk lutut, pandangannya kosong ke lantai.
Yuri Sadewa bersandar di bahu Airin, jemarinya meremas ujung sweater ibunya.
Sugar berdiri di dekat jendela, menatap ke luar, memastikan tidak ada lagi bayangan asing di halaman kecil mereka.
Suasana hening, sampai akhirnya Airin bicara duluan.
“Semalam,” katanya pelan, “semuanya hamp