Perubahan memang pelan.
Namun Kota Beras selalu punya cara untuk menguji apakah sesuatu benar-benar kuat… atau hanya terlihat baik di permukaan.
Ujian itu datang lewat satu hal yang paling mudah dipakai untuk mengembalikan dunia ke cara lama:
anak.
Kabar itu pertama kali muncul seperti bisikan kecil di pelabuhan.
“Katanya… ada yang nyari jalur ke pinggiran.”
“Pinggiran mana?”
“Ke arah rumahnya… Airin.”
Nama itu tidak seharusnya disebut di tempat seperti pelabuhan.
Karena begitu nama itu keluar, artinya ada orang yang mencoba menyentuh garis yang sudah disepakati banyak pihak:
keluarga tidak lagi dijadikan peluru.
Di ruangan kaca, telepon bergetar sebelum matahari benar-benar turun.
Orang kepercayaan berkacamata mengangkat, lalu wajahnya berubah.
“Ada pergerakan,” katanya singk