Beberapa minggu setelah kepulangan Sugar yang tidak diumumkan itu, Kota Beras tampak seperti biasa di permukaan.
Namun kalau diperhatikan lebih dekat, ada perubahan kecil yang pelan-pelan menggeser arus.
Di warung kecil, pemiliknya mulai mendengar jenis bisik-bisik baru:
“Katanya… Sugar sudah sempat mampir kota lagi.”
“Masa?”
“Dilihat di warung, bukan di pelabuhan.”
“Kalau dia sudah datang, kenapa kota belum meledak?”
“Mungkin… karena sekarang dia memilih diam, bukan memerintah.”
Dulu, kabar tentang Sugar selalu diikuti ketakutan langsung.
Sekarang, kabar itu diikuti pertanyaan:
“Dia datang sebagai siapa?”
Di Batas, arus orang yang masuk dan keluar semakin jelas pola:
– Mereka yang datang untuk meminta “balas dendam kasar” pelan-pelan ditolak, dijelaskan bahwa tempat itu bukan