Kota Beras malam itu tampak biasa-biasa saja di mata orang awam.
Truk masuk-keluar pelabuhan,
lampu di gudang menyala redup,
warung-warung kecil tetap penuh suara tawa dan bisik-bisik.
Namun di bawah semua itu, kota sedang menunggu sesuatu…
tanpa tahu apa yang sedang ditunggu.
Sebuah mobil berwarna gelap melambat di jalan yang mengarah ke pelabuhan.
Pengemudinya sopir lama yang sudah hafal ritme napas kota ini.
Di kursi belakang, Sugar duduk tanpa jas, hanya dengan jaket sederhana, seperti seseorang yang berusaha menyatu dengan malam.
“Sudah lama,” gumam sopir itu, melihat bayangan crane tua di kejauhan.
“Ya,” jawab Sugar pelan. “Terakhir kali… kota ini menjadi tempat aku mengikat terlalu banyak hal, termasuk diriku sendiri.”
Mobil berhenti di sebuah titik yang tidak terlalu men