Bram duduk di bagian belakang sebuah truk kecil yang berjalan pelan melewati jalanan sempit.
Lukanya di lengan sudah diperban seadanya.
Darah sudah berhenti mengalir deras, namun rasa perihnya tetap konsisten, seperti pengingat bahwa malam tadi bukan mimpi.
Di seberangnya, Raka duduk membisu.
Tidak ada rantai, tidak ada borgol,
hanya keheningan yang kental di antara mereka.
“Aku tidak menyangka,” ujar Raka akhirnya, tanpa menatap Bram, “kau akan menawarkan diri seperti itu.”
Bram menatap ke luar, pada lampu-lampu jalan yang bergeser perlahan.
“Aku tidak menyangka,” balas Bram, “kau masih memberi ruang pada pilihan lain.”
Raka tersenyum tipis, namun lelah.
“Jangan terlalu cepat memujiku,” katanya. “Aku belum menjadi orang seperti yang kalian harapkan.
Aku hanya… terlalu lelah mel