Bab 30 – Pertarungan yang Tidak Sekadar Soal Menang
Gudang timur malam itu terasa seperti paru-paru kota yang menahan napas.
Lampu-lampu redup menggantung rendah, cahayanya kuning pucat, cukup untuk mengenali wajah, namun tidak cukup untuk membuat orang merasa aman.
Di tengah ruangan, kurir yang tadi dipaksa berlutut masih gemetar.
Di sekelilingnya, orang-orang yang berkumpul memegang senjata, sebagian berwajah muda, sebagian membawa wajah lama yang sudah terlalu sering melihat darah.
Bram dan Raka berdiri berhadapan.
Tidak ada musik dramatis,
hanya suara logam yang kadang bergesek, napas berat yang ditahan, dan detakan jantung yang merasa terlalu keras di d**a masing-masing.
“Masih sama,” kata Raka pelan. “Tatapanmu tidak berubah sejak di rumah lama.”
“Sedangkan matamu,” balas Bram, “lebih dingin daripada dulu.”
Raka tersenyum tip