Bab 29 – Kota Beras yang Tidak Pernah Benar-Benar Tenang
Kota Beras selalu tampak sama dari jauh:
lampu-lampu pelabuhan berkilau di malam hari,
asap tipis dari gudang-gudang tua,
jalan-jalan kecil yang tampak biasa di siang hari namun menyimpan transaksi lain saat matahari turun.
Namun setelah Sugar “mundur”, ada sesuatu yang berubah di udara.
Orang-orang masih menyebut namanya dengan hati-hati,
tapi di sela-sela bisik-bisik, nama lain mulai bermunculan:
Batas.
Eidgar.
Mitra baru.
Struktur baru.
Dan di sela semua itu, ada satu nama yang tidak banyak disebut, tetapi tidak pernah benar-benar hilang:
Bram.
Di sebuah warung kecil dekat pasar malam, Bram duduk di kursi paling dekat dengan pintu, punggung tidak menempel ke dinding, pandangan tidak pernah benar-benar fokus pada satu titik.
Di mejanya hanya ada kopi hitam yang sudah seteng