Airin tidak pernah membayangkan dirinya akan berdiri di depan seorang bos mafia sebagai pengantin.
Ia bukan bagian dari transaksi, bukan bagian dari jaringan, tetapi masa lalu keluarganya menyeretnya ke pusat dunia yang paling ia benci.
Semua dimulai dari satu kesepakatan kotor.
Ayah tirinya, yang menjadi tawanan Sugar di rumah lama itu, tidak punya lagi apa pun untuk ditukar selain nama Airin.
Di atas meja kayu panjang, di antara berkas-berkas dan senyap dingin kantor, pernikahan itu bukan tentang cinta—itu tentang penghapus dosa yang tidak pernah benar-benar menghapus apa pun.
Sugar menerima kesepakatan itu dengan tatapan dingin, seolah hanya menambah satu lagi bagian dari hidup yang sudah penuh hitam.
Airin menerima dengan d**a sesak, matanya kosong, tapi di dalam hatinya ada satu hal yang masih ia genggam: kebencian pada dunia mafia dan mimpi untuk suatu hari keluar dari sana.
Di malam setelah pernikahan, ketika gaun sudah tergantung dan riasan wajah tinggal sisa tipis di sudut mata, Airin menatap pria di depannya—bos mafia yang pernah membuat hidupnya hancur, sadewa yang di dunia bawah tanah dikenal sebagai Sugar.
Ia menarik napas panjang, dan dengan suara bergetar tapi tegas, mengajukan satu syarat:
“Aku akan mencoba menerimamu… kalau kamu meninggalkan dunia mafia ini.
Semua sabu, senjata, tawanan, rumah lama itu… kamu tinggalkan.
Kalau tidak, aku tidak akan pernah benar-benar jadi istri kamu.”
Untuk pertama kalinya, Sugar menatap seseorang bukan sebagai bawahan atau musuh, melainkan sebagai perempuan yang berani menantang dunianya.
Di antara rasa kesal, gengsi, dan sesuatu yang pelan-pelan tumbuh di dadanya, ia menjawab, pelan namun cukup untuk mengikat satu janji yang akan menghancurkan mereka di kemudian hari:
“Kalau itu yang kamu mau… aku akan keluar dari dunia ini.”
Kalimat itu menanam harapan pertama di hati Airin.
Beberapa minggu kemudian, Sugar memutuskan keluar dari rumah lama dan memindahkan Airin ke rumah baru yang lebih terang, lebih jauh dari bau lembap ruang bawah tanah. Ia hanya membawa Bram sebagai tangan kanan yang masih ia percayai, dengan alasan urusan bisnis sah belum bisa sepenuhnya dilepaskan.
Di rumah baru itu, hari-hari Airin sedikit berbeda.
Dindingnya tidak penuh bekas darah, tidak ada rantai yang dingin, tidak ada jeritan yang menggema dari ruang bawah tanah.
Airin mulai belajar memasak, menata ruang tamu, menambahkan sedikit tanaman di sudut rumah—hal-hal kecil yang membuatnya merasa, mungkin, hidup normal itu bukan hal mustahil.
Pelan-pelan, Airin mulai percaya.
Saat ia mengetahui dirinya hamil, dunia yang dulu gelap mulai punya sedikit warna.
Ketika dokter mengatakan ia mengandung anak kembar, Airin menangis, bukan karena takut, tetapi karena untuk pertama kalinya ia bisa membayangkan masa depan yang tidak diwarnai darah dan ancaman.
Sugar, yang selama ini dingin, mendadak terlihat berbeda di depan Airin.
Ia masih kasar dan keras dalam kata-katanya, suka memaksakan kehendak, tetapi di depan perut Airin yang membesar, ia menjadi pria yang bucin—mengantar ke dokter, memastikan makanan, dan pulang dengan tas belanjaan berisi hal-hal kecil untuk bayi yang bahkan belum lahir.
Namun satu hal tidak pernah benar-benar hilang:
Sugar masih sering pulang larut malam, dengan alasan lembur di kantor.
Bram masih sering datang, duduk di ruang kerja, dan berbicara pelan tentang “proyek” yang tidak pernah Airin mengerti.
Pada mulanya, Airin memilih percaya.
Ia menutup matanya pada rasa curiga, berkata pada dirinya sendiri bahwa Sugar sudah berusaha, bahwa janji untuk meninggalkan dunia mafia itu butuh waktu.
Sampai suatu siang, ketika perutnya sudah besar dan langkahnya semakin berat, Airin memutuskan melakukan satu hal sederhana: mengantar makan siang ke kantor Sugar, hanya untuk melihat suaminya bekerja sebagai pria biasa.
Airin datang ke kantor dengan dua kotak makan di tangannya, satu untuk Sugar satu untuk Bram.
Ia berharap menemukan berkas-berkas biasa, suasana kantor yang tenang, dan Sugar yang benar-benar tenggelam dalam pekerjaan sah.
Namun dari balik pintu yang sedikit terbuka, ia justru mendengar percakapan yang membuat dunia di sekelilingnya berhenti.
“Dia masih di rumah lama?” suara Sugar, datar tapi tajam.
“Masih, Bos,” jawab Bram pelan. “Anak itu tidak banyak bicara. Kadang menangis. Tapi tidak merepotkan. Kameranya sudah dicek, semua aman.”
Airin mematung.
Tangannya bergetar, kotak makan di genggamannya terasa berat.
“Anak itu.”
“Rumah lama.”
Dua kata yang cukup untuk mengembalikan semua kenangan buruk yang berusaha ia kubur.
“Eidgar tidak akan pernah tenang selama anaknya di sana,” lanjut Sugar. “Biar dia tahu rasanya kehilangan. Seperti yang dia lakukan pada Airin.”
Nama Airin disebut, tapi bukan dengan nada lembut seorang suami.
Nada itu penuh dendam, penuh luka masa lalu yang tidak pernah ia obati, justru ia pelihara.
Airin mundur pelan dari pintu, jantungnya berdebar begitu keras seolah ingin melompat keluar dari d**a.
Tanpa salam, tanpa menunggu Sugar atau Bram menyadari kehadirannya, Airin berbalik dan keluar dari gedung.
Ia menahan tangis, menundukkan kepala, dan menghentikan taksi pertama yang lewat.
Tujuannya hanya satu: rumah lama Sugar.
Di kejauhan, dari dalam taksi, Airin melihat rumah lama itu tidak lagi tampak kosong seperti yang selama ini dikatakan Sugar.
Jendela lantai dua yang dulu selalu tertutup kini remang-remang. Ada bayangan seseorang lewat di balik tirai. Pagar depan ada bekas jejak ban mobil yang masih baru, tanahnya masih lembap, seolah ada kendaraan yang baru saja masuk beberapa jam lalu.
Airin menyuruh sopir taksi berhenti agak jauh, sebelum belokan, lalu turun dengan napas memburu. Hamil besar, langkahnya pelan tapi dipaksakan cepat. Setiap langkah membuat perutnya terasa berat dan tegang, tapi rasa penasaran dan takut lebih kuat dari rasa sakit.
Ia memutar lewat sisi rumah, lewat kebun belakang yang dulu jadi tempat pelarian kecilnya saat masih beradaptasi dengan kehidupan bersama Sugar. Rumputnya tinggi, ilalang menyentuh ujung roknya, menimbulkan suara gesekan halus yang justru membuat jantungnya makin berdegup kencang.
Di dekat jendela samping, Airin mendengar sesuatu.
Bukan suara orang dewasa… tapi suara dan langkah anak kecil, lari-lari pelan… dan samar-samar, seperti suara anak kecil yang sedang menangis tertahan. Sesekali ada suara benda logam, seperti rantai yang bergerak pelan.
Airin memberanikan diri mengintip lewat celah jendela yang catnya sudah mulai mengelupas. Dalam remang cahaya, ia melihat:
Seorang anak, kira-kira berumur 6–7 tahun, duduk di lantai dengan tangan terikat ke ranjang besi. Mata anak itu bengkak, seolah sering menangis. Di sudut ruangan ada sisa makanan dan botol air minum yang diletakkan seadanya. Di dinding, masih ada bekas darah lama yang mengingatkan Airin pada malam ketika dulu ia sendiri disekap di rumah ini.
Saat itulah dunia Airin seakan runtuh untuk kedua kalinya.
Ia sadar: Sugar bukan hanya belum berhenti jadi mafia, tapi juga sudah mengambil jalan balas dendam yang sama kejamnya—menyiksa anak musuh mereka, seperti dulu ia diperlakukan.
Tangannya gemetar, memegang perutnya, merasakan gerakan halus dari bayi kembar yang dikandungnya. Air mata jatuh tanpa bisa ia tahan, mengaburkan pandangannya pada anak kecil yang bahkan mungkin belum mengerti mengapa hidupnya berubah jadi neraka.
Untuk beberapa detik, Airin hanya berdiri mematung.
Di kepalanya, suara-suara bercampur jadi satu: teriakan dirinya di masa lalu, janji Sugar untuk meninggalkan dunia mafia, dan suara langkah kecil anak itu yang berusaha mendekati pintu seakan meminta tolong.
“Aku… aku lagi apa di sini…” bisik Airin lirih, suaranya pecah.
Ia mundur selangkah, kedua tangannya refleks memeluk perut.
Bayi kembarnya bergerak pelan, seolah merespons kegelisahannya. Napas Airin tersengal, antara ingin lari sejauh mungkin dari rumah itu atau menerobos masuk dan melepaskan anak kecil itu saat itu juga.
Satu pikiran muncul di kepalanya, begitu tajam hingga membuatnya mual:
Kalau ia diam saja sekarang, apa bedanya dirinya dengan Sugar?
Airin menutup mulutnya dengan tangan, menahan isak, lalu memaksa dirinya menjauh dari jendela.
Ia tahu rumah ini penuh kamera dan orang-orang Sugar, termasuk Bram sebagai tangan kanan, bisa saja masih mengawasi dari kejauhan. Dengan perut sebesar itu, Airin tidak mungkin bertindak gegabah tanpa rencana. Tapi meninggalkan anak itu begitu saja juga bukan pilihan.
“Aku akan kembali… aku akan bawa kamu keluar,” ucap Airin pelan, meski anak itu tidak bisa mendengarnya.
Dengan langkah tertatih, Airin menyusuri kembali kebun belakang, ilalang menyapu kakinya seperti tangan-tangan kecil yang menahan. Setiap langkah menjauh dari rumah lama itu terasa seperti pengkhianatan pada dirinya sendiri, tapi ia memaksa terus berjalan.
Ada satu hal yang kini berubah di dalam dirinya:
Untuk pertama kalinya, Airin tidak hanya ingin keluar dari dunia mafia.
Ia ingin menghancurkan dunia yang selama ini dilindungi Sugar—meski itu berarti menghancurkan pernikahan dan keluarga yang baru saja mereka bangun.