Tidak ada pengumuman resmi tentang perubahan besar di rumah kecil itu.
Yang ada hanya hari-hari biasa yang pelan-pelan berbeda dari sebelumnya.
Pagi-pagi, suara piring dan sendok mulai menjadi latar yang akrab bagi Sugar.
Bukan lagi suara senjata dicek, bukan suara pintu besi berat yang ditutup.
Suatu pagi, Yael Sadewa berdiri di ambang pintu, memegang tas sekolah.
“Ayah,” panggilnya pelan.
Sugar yang sedang membuka jendela berhenti.
Panggilan itu keluar lebih cepat daripada beberapa hari sebelumnya, tanpa jeda panjang di antara niat dan kata.
“Ya?” jawabnya.
“Ayah… akan di rumah hari ini?” tanya Yael Sadewa. “Atau… pergi?”
Pertanyaan sederhana, namun jelas membawa sisa-sisa ketakutan lama: ketakutan bahwa sosok yang baru saja mereka izinkan ada, tiba-tiba hilang lagi.
“Ayah di