Pagi pertama Sugar di rumah kecil itu terasa asing.
Bukan karena suara tembakan yang tak lagi terdengar,
bukan karena tak ada laporan yang menumpuk di meja,
melainkan karena ia terbangun bukan oleh dering telepon,
melainkan oleh suara piring dan sendok saling beradu pelan dari dapur.
Airin tengah menyiapkan sarapan sederhana: telur, roti, dan teh hangat.
Gerakannya teratur, tenang, tidak terburu-buru seperti orang yang setiap hari dikejar ancaman,
namun juga tidak sepenuhnya rileks seperti orang yang hidup tanpa beban.
Di meja makan, Yael Sadewa dan Yuri Sadewa sudah duduk.
Sugar berhenti di ambang pintu, seakan ada batas tak terlihat yang harus ia lewati dengan hati-hati.
Dunia bawah tanah mengajarinya cara masuk ruangan dengan wibawa,
tapi pagi itu, ia harus belajar masuk ruan