Malam itu, dunia bawah tanah masih berdebat soal wilayah, garis, dan bab baru.
Tapi di satu sisi kota, jauh dari pelabuhan, jauh dari Batas, jauh dari ruangan kaca penuh peta dan laporan, ada satu tempat yang tidak tahu apa-apa soal semua itu:
Rumah kecil di pinggiran kota, dengan pagar rendah dan lampu teras kuning lembut.
Sugar menatap rumah itu dari dalam mobil yang berhenti beberapa meter di seberang jalan.
Ia tidak lagi memakai jas gelap, tidak membawa dua atau tiga orang di belakangnya.
Hanya sopir lama yang masih setia, duduk diam di kursi depan, pura-pura fokus ke setir.
“Lu yakin nggak mau gue nunggu?” tanya si sopir pelan, matanya tetap ke depan.
“Lu nunggu,” jawab Sugar. “Gue nggak tahu gue bakal keluar dengan kepala penuh atau kosong.”
“Penuh apa kosong, Bos?”
“Penuh h