Pagi tidak pernah benar-benar “indah” di kota bawah tanah.
Tapi pagi setelah malam penuh darah selalu punya rasa berbeda: seperti bau besi dan asap yang dipaksa bercampur dengan aroma kopi murah.
Di pelabuhan barat, garis-garis polisi semu mulai dipasang—bukan oleh aparat, tapi oleh orang-orang yang menang semalam.
Mayat diseret, peluru yang berserakan disapu ala kadarnya, darah mengering di lantai seperti noda cat yang tak akan sempat dibersihkan sempurna.
Di sudut pelabuhan, satu mobil hitam terparkir menghadap laut.
Di dalamnya, Erlangga dan Eidgar duduk tanpa bicara beberapa menit, hanya menatap ombak kecil yang memukul badan kapal tua.
“Gimana rasanya,” Erlangga akhirnya bertanya pelan, “ngomong langsung ke orang yang bikin lu nggak bisa tidur bertahun-tahun?”
Eidgar menatap ta