Malam pertama di “Batas” belum banyak tamu.
Bangunan itu masih setengah kosong: dinding bersih, lantai masih berbau cat, furnitur belum lengkap.
Tapi kadang, tempat belum jadi justru paling jujur.
Eidgar berdiri di tengah ruangan utama.
Di sana, hanya ada satu meja kayu panjang dan beberapa kursi biasa—bukan besi, bukan dipaku ke lantai, tidak ada rantai, tidak ada pengait di dinding.
Ia mengusap permukaan meja dengan telapak tangan.
Licin, dingin, tapi tidak mengancam.
“Lu yakin nggak mau bikin ruangan belakang khusus ‘urus masalah’?” salah satu anak buah barunya bertanya, setengah bercanda, setengah sungguhan.
“Biasanya kan markas besar punya ‘kamar khusus’.”
“Kamar khusus itu udah makan terlalu banyak masa depan,” jawab Eidgar tanpa menoleh. “Kalau orang datang ke sini, dia har