Angin malam mengguncang crane tua itu pelan, seolah mencoba menguji seberapa kuat besi berkarat bisa menahan tiga sejarah yang saling bertabrakan.
Di bawah, suara tembakan mulai jarang.
Kekacauan pelabuhan perlahan turun intensitasnya, tapi bukan karena damai—lebih karena peluru dan tenaga mulai habis.
Di atas, justru hal yang lebih berbahaya terjadi:
percakapan.
Sugar berdiri dengan jarak yang tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh. Pas di tengah-tengah antara “bisa meraih” dan “masih bisa kabur”.
Eidgar menatapnya, rahang mengeras.
“Gue nggak nyangka,” kata Erlangga pelan, “bab baru lu dimulai di atas crane tua, bukan di rumah besar.”
“Rumah besar sudah selesai,” jawab Sugar, suaranya tenang. “Kalau gue bertahan di situ, gue cuma ngulang bab lama dengan ending yang sama.”
“Endi