Malam itu, kota seperti menahan napas.
Di layar-layar CCTV ilegal yang dipasang di sudut-sudut tersembunyi, dunia bawah tanah memperlihatkan wajah aslinya:
pelabuhan yang terbakar sebagian, gang sempit yang penuh jejak peluru, lampu-lampu jalan yang berkedip seperti sedang berdoa.
Di salah satu ruangan pengawasan, anak buah Erlangga menatap layar dengan rahang mengeras.
“Bos,” katanya cepat, “mereka saling habisin diri sendiri. Zona tengah kacau. Pelabuhan barat… lebih parah.”
Erlangga berdiri di belakangnya, tangan di belakang punggung, mata tajam mengamati.
Ia melihat kelompok yang dulu diketahui pro ke Sugar, sekarang mengamankan jalur mundur, tidak ikut turun ke tengah kekacauan.
Ia juga melihat kelompok-kelompok kecil lain yang nekat menerobos batas, mencoba mencuri satu-dua ko