Di dunia bawah tanah, ada hal yang lebih menakutkan daripada nama besar yang sedang berkuasa:
nama besar yang memilih mundur… tapi tidak pernah benar-benar hilang.
Sugar sudah tidak lagi duduk di kursi besi, tidak lagi berdiri di rumah lamanya.
Ia meninggalkan dunia bawah tanah secara terang-terangan—atau setidaknya, itu yang terlihat di permukaan.
Tidak ada lagi penampakan Sugar di pelabuhan, tidak ada rapat larut malam di gudang tua, tidak ada suara langkahnya di lorong-lorong gelap yang dulu jadi nadi kota.
Tapi meski sosoknya menghilang, bayangannya tidak.
“Buat kalian,” suara seorang anak buah senior bergema di ruangan sempit, “Sugar tidak lagi butuh tahta untuk disebut raja.”
Mereka duduk melingkar, wajah-wajah keras, beberapa dengan luka lama di tangan dan leher, beberapa dengan tatapan yang menahan rasa kehilangan.
Di dinding, peta kota terbentang, garis-garis wilayah berbeda warna: merah, hijau, biru, kuning.
Dulu, hampir seluruhnya berbau nama Sugar.
“Siapa pun yang bilang Sugar sudah selesai,” kata pria itu, bekas tangan kanan Sugar, “nggak ngerti cara kerja rasa takut di dunia ini.”
Di luar ruangan itu, dunia bawah tanah sedang berguncang.
Para ketua mafia lain mengira ini saat yang tepat untuk bergerak.
Mereka melihat kursi besi dibakar, rumah lama ditutup, Sugar tidak lagi menunjukan diri, dan menganggap itu tanda:
Raja turun tahta.
Tahta kosong.
Saatnya menggigit.
Di pelabuhan barat, kelompok bersenjata berkumpul di balik tumpukan kontainer.
Mereka bukan anak buah Sugar—mereka adalah gabungan beberapa mafia yang dulu ciut topinya setiap kali nama Sugar disebut. Kini, mereka saling bersekongkol… atau saling memanfaatkan.
“Target malam ini jelas,” kata salah satu bos kecil, menyalakan rokok.
“Kita serang wilayah timur. Orang-orang Sugar udah nggak punya pusat. Mereka cuma bertahan pakai nama, bukan pakai struktur.”
“Lu yakin?”
“Rumah lama udah mati. Sugar nggak kelihatan. Yang tersisa cuma sisa garis komando. Potong satu-satu, selesai.”
Mereka tidak tahu bahwa di tempat lain, jauh dari pelabuhan, Sugar sedang melukis ulang peta dunia bawah tanah… dengan cara yang tidak mereka duga.
Sugar memilih meninggalkan kursinya, tapi bukan meninggalkan kekuatannya.
Ia duduk di ruangan yang tidak berbau besi, tidak berbau darah.
Ruangan itu rapi, lampu lembut, jendela menghadap kota yang sama—kota penuh dosa yang membesarkannya—tapi dari sudut pandang yang berbeda.
Di hadapannya, ada beberapa orang yang bukan lagi “anak buah” biasa.
Mereka adalah orang-orang yang dulu tidak terlalu menonjol di mata dunia bawah tanah: akuntan gelap, kurir yang selalu tepat waktu, operator informasi, penyedia jalur aman.
Tidak banyak bicara, tidak banyak darah di tangan, tapi paling banyak tahu.
“Mulai malam ini,” kata Sugar tenang, “wilayah-wilayah yang dulu atas namaku… nggak lagi satu warna.”
Di meja, peta yang hampir sama dengan milik Erlangga terbentang.
Perbedaannya: Sugar tidak menandai wilayah dengan warna berdasarkan kekuatan, tapi berdasarkan kepercayaan.
“Zona utara,” ia menunjuk. “Kamu pegang,” katanya pada pria berkacamata dengan tatapan datar.
“Tanpa simbol, tanpa kursi, tanpa rumah lama. Tapi semua orang di sana tahu, kamu garis lurus dari aku.”
Pria itu mengangguk, tulang rahangnya mengeras.
Baginya, penugasan ini bukan sekadar kenaikan pangkat—ini semacam surat baptis dari dunia lama ke dunia baru.
“Zona pelabuhan dan jalur laut,” Sugar melanjutkan, menunjuk sisi lain.
“Ada tiga nama yang layak, tapi aku cuma pilih satu. Sisanya jadi penyeimbang. Kalian bukan b***k, bukan pion. Kalian mitra.”
Kata itu—mitra—jarang sekali diucapkan Sugar di masa lalu.
Dulu, semuanya “anak buah”, “orang gue”, “bawahan”.
Sekarang, setelah dunia bawah tanah memakan terlalu banyak orang yang ia sayang, Sugar mulai mengerti bahwa kekuasaan yang hanya bertumpu pada rasa takut… cepat atau lambat, berujung pada kehancuran yang bahkan ia sendiri tidak bisa kendalikan.
“Kalian akan pegang wilayah bukan atas nama ketakutan terhadapku,” Sugar berkata pelan, “tapi atas nama kepercayaan yang nggak semua orang layak dapat.”
Salah satu dari mereka memberanikan diri bertanya.
“Kalau begitu, Bos… kalau suatu hari kami dikhianati atau kami goyah… apa yang akan terjadi pada nama Anda?”
Sugar tersenyum tipis.
“Nama gue—Sadewa—sudah cukup lama digosipin,” jawabnya. “Hancur, diagungkan, diceritain setengah bohong, setengah bener. Gue nggak lagi peduli di titik ini.”
“Terus… Anda peduli apa?”
“Gue peduli,” kata Sugar, menatap peta lagi, “seberapa jauh gue bisa menjaga agar dunia kalian nggak jatuh ke tangan orang-orang yang cuma tahu cara menguasai, tapi nggak tahu cara bertanggung jawab.
Sementara Sugar mengatur ulang wilayah dengan tenang, di pelabuhan barat, neraka kecil mulai terbuka.
Suara tembakan pertama meletus saat seorang penjaga gudang sedang menyalakan rokok.
Peluru menembus pundaknya, membuatnya jatuh menabrak pintu besi.
“Serbu!” teriak seorang bos kecil.
Puluhan orang berlari keluar dari balik kontainer, senjata terangkat, wajah tertutup sebagian oleh masker dan penutup kepala.
Mereka menembak membabi buta ke arah gudang, ke arah kapal yang sedang bersandar, ke arah bayangan apa saja yang bergerak.
Balasan tidak butuh waktu lama.
Dari lantai dua gudang, kaca pecah dan beberapa orang melompat keluar, senjata otomatis berkilat.
Suara peluru saling menjawab, menghantam dinding, kontainer, lantai, bahu, kaki, dan kadang kepala.
“Awas kiri!” seseorang berteriak.
Terlambat.
Granat kecil meluncur dari arah yang sama, meledak di dekat tumpukan kontainer, menghempaskan dua tubuh ke udara, jatuh dengan cara yang hanya dimengerti orang-orang yang sudah terlalu sering melihat mati.
Pelabuhan berubah jadi simfoni brutal:
dentuman, jeritan, seruan, napas berat, dan desah terakhir orang-orang yang tidak akan sempat tahu siapa yang memenangkan malam itu.
Mereka adalah para mafia yang dulu gemetar kalau mendengar nama Sugar.
Malam ini, mereka tidak lagi menyebut nama itu.
Mereka sibuk saling bunuh… untuk memperebutkan wilayah yang mereka kira kosong.
Di sisi lain kota, dua ketua mafia yang dulu berdiri di bayang-bayang Sugar sekarang berhadapan di jalan sempit dengan tembok penuh grafiti.
“Wilayah tengah milik gue sekarang,” kata satu, menodongkan pistol.
“Lu punya hak apa?” balas yang lain, senjata juga terangkat. “Sugar nggak lagi pegang. Ini sudah jadi bebas rebut.”
“Nama lu dulu cuma numpang hidup di bawah bayangan dia,” sindirnya. “Tanpa Sugar, lu bukan apa-apa.”
“Tanpa Sugar, lu juga bukan apa-apa,” jawab yang satunya. “Jadi kita lihat malam ini… siapa yang bisa berdiri tanpa bayangan itu.”
Sekelompok orang di belakang mereka saling menodong, ujung senjata bergetar, jari siap menarik pelatuk.
Udara tegang.
Satu peluru lepas tanpa sengaja—tidak jelas dari tangan siapa.
Tiba-tiba, pertengkaran verbal berubah jadi baku tembak jarak dekat.
Di gang-gang belakang, orang berlarian, beberapa bersembunyi di balik tong sampah, beberapa jatuh di tangga besi.
Lampu jalan berkedip, seolah bingung apakah harus menerangi adegan itu atau justru padam dan pura-pura tidak melihat apa-apa.
Darah mengalir di lantai beton.
Dinding menyimpan jejak peluru yang tak terhitung.
Sugar tidak ada di sana.
Tapi nama dan warisan wilayahnya… sedang dijadikan alasan untuk saling bunuh.
Di sebuah ruangan yang jauh dari suara tembak, salah satu orang kepercayaan Sugar berdiri di depan jendela, menatap kota.
Telepon di tangannya bergetar.
Ia mengangkat.
“Ya.”
Suara di seberang:
“Pelabuhan barat kacau, zona tengah juga. Mereka saling makan. Semua mikir lu udah nggak ada.”
“Biarkan,” katanya tenang. “Gue cuma peduli satu hal: wilayah yang sudah dibagi sesuai perintah dia… jangan sampai jatuh ke tangan yang salah.”
“Gimana caranya, kalau mereka saling hajar begitu?”
“Kita nggak ikut turun di kekacauan hari ini,” jawabnya. “Kita cuma turun… kalau garis kepercayaan yang dia kasih ke kita mulai terancam.”
“Lu ngerti kan,” katanya pelan, suaranya mengeras, “meskipun dia nggak lagi duduk di kursi, dia tetap kokoh. Nama Sugar nggak ditentuin sama rumah lamanya, tapi sama orang-orang yang milih tetap berdiri di bawah langit yang dia bentuk.”
Telepon berdiam sebentar.
“Orang-orang kayak kita,” lanjutnya, “tidak takut kehilangan wilayah. Kita cuma takut kehilangan kompas.”
“Kompas?” suara di seberang mengulang.
“Ya,” jawabnya. “Sugar mungkin mundur dari depan panggung, tapi dia tetap jadi arah. Selama kita pegang arah itu, kita nggak butuh tahta buat tetap jadi yang terbesar.”
Di meja peta, Sugar menandai titik-titik tertentu dengan bolpoin.
Tanda bukan di pelabuhan, bukan di gang, bukan di gudang.
Tanda ada di tempat-tempat yang lebih kecil, lebih tidak mencolok:
warung kopi yang jadi tempat informasi pertama kali keluar,
rumah sakit bayangan yang sering menerima korban tembak tanpa catatan,
apartemen kumuh yang ditempati kurir-kurir senyap.
“Wilayah bukan soal garis di peta,” gumam Sugar, setengah pada dirinya sendiri.
“Wilayah itu orang-orangnya.”
Ia tahu, di luar sana, para mafia saling menyerang untuk memperebutkan blok-blok dan jalan-jalan dengan bangga.
Sedang ia, diam-diam, membagi wilayah kepada orang yang ia percaya—bukan untuk menguasai… tapi untuk menjaga struktur agar dunia tidak jatuh sepenuhnya ke tangan orang yang hanya tahu cara menarik pelatuk, bukan cara menahan diri.
Ketika satu anak buahnya masuk dan melaporkan kekacauan di pelabuhan serta baku tembak di zona tengah, Sugar hanya mengangguk.
“Biarkan mereka ribut,” katanya.
“Dunia butuh contoh betapa kosongnya kekuatan tanpa arah.”
“Dan kita, Bos?”
“Kita akan tunjukin,” Sugar menatap kota sekali lagi, “bahwa raja tidak perlu duduk di tahta untuk tetap jadi raja.”
Di mata anak buahnya yang paling setia, Sugar tidak pernah benar-benar pergi.
Ia hanya pindah tempat berdiri.
Di mata ketua mafia lainnya, yang pernah gemetar mendengar namanya, fakta bahwa Sugar tidak lagi tampak… justru lebih menakutkan.
Karena musuh yang terlihat bisa ditembak.
Musuh yang menghilang… hanya bisa ditebak.
Dan di tengah tembak-menembak, perkelahian, dan rebutan wilayah, satu hal diam-diam lahir:
bab baru dunia bawah tanah di mana kekuatan Sugar tidak lagi diukur dari seberapa banyak kursi besi ia miliki,
melainkan seberapa kokoh ia tetap berdiri… bahkan ketika ia memilih untuk tidak duduk.