“Bos,” anak buahnya ragu-ragu, jemarinya gelisah mengetuk meja, “menurut orang kita… ini bukan sekadar dia ganti markas. Katanya, dia sengaja matiin rumah lama itu sebagai simbol. Kayak… nutup bab.”
Erlangga terdiam.
Asap rokok melayang pelan di udara, menggambar garis-garis yang buyar di tengah ruangan.
Ia menatap foto rumah besar yang pernah terbakar sebagian itu—rumah yang dulu jadi panggung pesan-pesan kejam Sugar.
Rumah tempat Eidgar pernah diikat, dipukuli, dan dibiarkan mendengar jeritan orang lain agar mengerti “bahasa” dunia bawah tanah.
“Nutup bab?” Erlangga mengulang pelan, seperti mencicipi kata-kata itu di lidahnya.
“Setiap orang yang nutup bab… pasti mau buka bab baru.”
Anak buahnya menelan ludah. Ia tahu, bagi orang seperti Erlangga, kalimat sederhana sering jadi awal badai.
“Bos… menurut Anda, dia mau apa?”
“Kalau dia nggak pakai simbol lamanya lagi,” jawab Erlangga pelan, “berarti dia nggak butuh ‘bahasa’ yang dulu. Dia mau cara lain buat kirim pesan. Cara yang lebih… langsung.”
Hening.
Di luar, suara mesin generator tua bergetar, seperti napas berat bangunan yang sudah terlalu lama menanggung rahasia.
Erlangga mematikan rokoknya di asbak, menghancurkan puntung sampai rata.
“Gimana kondisi Eidgar?” tanyanya tiba-tiba.
Anak buah itu sempat kaget.
“Eidgar? Dia… masih di kamar, Bos. Latihan tembak sama anak-anak, kadang turun, kadang ngilang sendiri. Tapi… ya gitu. Tatapannya…”
Tatapan itu yang selalu menghantui Erlangga.
Tatapan anak laki-laki yang pernah pulang dari rumah Sugar dengan mata kosong, seperti semua warna di dunia mendadak jadi abu-abu.
“Panggil dia,” kata Erlangga akhirnya. “Suruh ke sini.”
Anak buah itu langsung beranjak pergi.
Ruangan jadi lebih sepi.
Erlangga menyandarkan punggung. Kepalanya dipenuhi potongan masa lalu: suara perempuan yang menangis, kabar keguguran, suara Sugar yang dingin di telepon, dan tawa Eidgar kecil sebelum dunia merenggut kejernihan itu.
Rumah lama Sugar.
Kursi besi.
Rantai.
Simbol-simbol itu pernah jadi altar pengorbanan kecil dalam perang yang mereka jalankan.
Sekarang, altar itu dibakar.
Artinya: pengorbanan berikutnya mungkin tidak akan dilakukan di kursi itu—melainkan langsung di jalanan, di darah yang tumpah.
Pintu ruangan diketuk dua kali.
“Masuk,” kata Erlangga.
Seorang pemuda masuk. Tubuh tegap, bahu lebar, namun ada sesuatu di matanya yang tidak mengikuti tubuhnya tumbuh dewasa:
bekas trauma yang mengendap.
“Papa,” Eidgar menyapa singkat.
Erlangga mengamati anaknya.
Cara ia berjalan, cara ia melihat sekitar—waspada, tapi bukan keberanian murni.
Seperti seseorang yang setiap waktu menimbang: “Kalau aku mati sekarang, apakah lebih baik daripada hidup seperti ini?”
“Duduk,” kata Erlangga, menunjuk kursi di depannya.
Eidgar duduk tanpa banyak bicara.
Tangannya menggenggam lutut, jarinya sedikit gemetar, meski ia berusaha menyembunyikannya.
“Ada apa?” tanya Eidgar.
“Rumah lama Sugar,” Erlangga membuka langsung, “dia bakar kursinya. Dia copot rantai-rantainya. Rumah itu udah nggak dipakai lagi.”
Sekilas, sesuatu bergetar di mata Eidgar.
Seperti ada bayangan kursi yang muncul di kepalanya, besi dingin, bau darah, dan suara langkah-langkah di koridor gelap rumah itu.
Ia menelan ludah.
“Kenapa Papa bilang ke aku?” suara Eidgar pelan. “Aku nggak mau ingat lagi tempat itu.”
“Karena,” Erlangga menatapnya lurus, “dunia kita nggak peduli apa yang kamu mau ingat atau nggak. Dunia kita cuma peduli, kamu siap atau tidak.”
Eidgar mengepalkan tangan.
“Papa mau apa?”
Erlangga menarik napas.
“Kalau dia matiin simbol lamanya, Sugar pasti lagi siapin sesuatu yang baru. Dan aku nggak bisa ngadepin bab baru itu sendirian.”
“Papa mau libatkan aku?”
“Ya,” jawab Erlangga, tanpa berputar. “Karena kamu yang paling berhak.”
“Paling berhak… buat apa?” Eidgar mengerutkan kening.
“Buat memutus rantai,” kata Erlangga. “Rantai yang dulu pernah ngiket kamu, ngiket perempuannya, ngiket masa depan kita. Selama Sugar masih berjalan di dunia ini, rantai itu nggak pernah benar-benar putus.”
Hening menekan ruangan.
Adik-adik generator, suara jauh orang tertawa di lorong, semuanya seakan mengecil.
Eidgar menatap meja, lalu foto rumah lama Sugar.
Foto dinding hangus, jendela pecah, garis-garis hitam di tembok.
Dalam satu detik, kepala Eidgar dipenuhi dua versi dirinya:
dirinya yang dulu, yang ketakutan; dan dirinya sekarang, yang merasa kosong tapi punya kesempatan untuk mengisi kekosongan itu dengan sesuatu—bahkan kalau sesuatu itu adalah balas dendam.
“Papa mau aku… balas?” suara Eidgar hampir berbisik.
“Aku mau,” jawab Erlangga pelan, “kamu siap kalau Sugar memutuskan untuk buka bab baru dengan nama kita di halaman pertama.”
Eidgar mengangkat pandangannya.
“Informasi apa aja yang kita punya?”
“Tentang rumah lamanya? Lumayan,” jawab Erlangga. “Tentang pola pergerakannya setelah matiin rumah itu? Masih samar.”
“Kalau dia matiin rumah lama,” Eidgar berujar pelan, seolah berpikir keras, “mungkin dia mau pastikan semua yang pernah terjadi di sana… nggak bisa dipakai lagi sebagai senjata psikologis. Dia mau menghapus jejak.”
“Kepadamu?” tanya Erlangga.
“Ke semua orang,” jawab Eidgar. “Termasuk aku. Mungkin… dia juga pengen nutup traumanya sendiri.”
Kalimat itu membuat Erlangga terdiam.
Selama ini, ia selalu melihat Sugar sebagai monster, bukan manusia yang punya luka.
Kemungkinan bahwa Sugar juga punya trauma terhadap rumahnya sendiri—ruang yang ia ciptakan sebagai tempat penyiksaan—membuat narasi di kepala Erlangga sedikit retak.
“Kalau dia mau nutup trauma sendiri,” Eidgar melanjutkan, “itu berarti dia nggak lagi mau main cara lama. Dia bisa lebih ekstrem… atau lebih ‘bersih’.”
“Bersih?” Erlangga mengerutkan dahi.
“Yang nggak banyak sisa, nggak banyak saksi, nggak banyak simbol. Cuma hasil.”
Erlangga menatap anaknya dengan cara baru.
Di antara patah-patah Eidgar, ada kecerdasan dingin yang terbentuk dari bertahun-tahun menahan rasa takut.
“Kalau begitu,” kata Erlangga pelan, “kita harus bergerak sebelum Sugar selesai nulis bab barunya.”
“Papa mau nyerang duluan?”
“Bukan nyerang asal,” bantah Erlangga. “Aku mau kirim salam.”
Eidgar terdiam, menunggu.
“Kita cari orang yang paling dekat sama lingkaran baru Sugar,” lanjut Erlangga.
“Orang yang akhir-akhir ini sering keluar-masuk kota tempat rumah lama itu berdiri. Kita tangkap, kita tanya… tanpa kursi besi, tanpa rantai.”
Eidgar mengerutkan kening.
“Tanpa kursi besi, tanpa rantai?”
“Kamu pikir,” Erlangga menatapnya, “aku nggak belajar apa-apa dari apa yang dia lakukan ke kamu?”
Ada getir yang samar di suara itu.
Bukan sepenuhnya penyesalan, tapi lebih seperti pengakuan bahwa batas-batas lama yang pernah ia anggap normal, sekarang terasa terlalu mahal.
“Kalau kita pakai cara yang sama kayak dia,” Erlangga pelan, “rantai itu nggak pernah putus. Kamu cuma jadi versi lain dari dia.”
“Jadi… Papa mau nyerang, tapi nggak mau jadi Sugar?”
“Ya. Dan itu lebih susah,” kata Erlangga. “Tapi kalau kamu ikut, kita punya peluang.”
Eidgar memandang foto itu sekali lagi.
Di benaknya, ia membayangkan rumah yang kini berubah: kursi mereka bakar, rantai dicopot, lantai dibersihkan, mungkin cat baru dipoles di dinding.
Rumah tanpa kursi.
Tanpa rantai.
Tapi tidak tanpa sejarah.
“Baik,” kata Eidgar akhirnya. “Kita mulai dari siapa?”
Erlangga tersenyum tipis, bukan senyum bahagia—lebih ke senyum orang yang baru menyadari bahwa langkah berikutnya akan menuntun mereka ke tempat yang lebih gelap, tapi mungkin lebih jujur.
“Mulai dari orang yang paling banyak bicara di warung kecil,” jawabnya.
“Karena di dunia bawah tanah, yang pertama kali menyebar kabar… jarang benar-benar ‘netral’.”
Eidgar mengangguk.
Dalam kepalanya, bab baru sedang ditulis:
bukan oleh Sugar saja, tapi juga oleh dirinya sendiri.
Dan di suatu tempat lain, jauh dari ruangan penuh asap rokok itu, Sugar berdiri menatap puing-puing kursi besi yang sudah jadi abu, memikirkan hal yang sama:
Bagaimana cara mengakhiri satu bab tanpa mengulang dosa yang sama di bab berikutnya?