Kabar di dunia bawah tanah tidak butuh siaran TV untuk menyebar.
Cukup satu mulut di warung kecil, satu telinga di gudang, lalu malamnya sudah jadi bahan bisik-bisik di pelabuhan.
“Dengar-dengar, rumah lama Sugar udah nggak dipakai.”
“Apaan? Bohong lu. Itu ikon dia.”
“Serius. Kursinya dibakar. Rantai-rantainya dicopot.”
“Hah… Sugar yang kita kenal, itu Sugar yang sama?”
Dalam hitungan hari, berita tentang “rumah lama” yang dimatikan menyebar seperti asap ke segala arah—tidak padat, tapi cukup menyengat hidung orang yang peka.
Di suatu kota lain, jauh dari markas Sugar, seorang pria duduk di ruangan penuh asap rokok.
Di mejanya, ada beberapa foto lama yang sudah menguning, termasuk satu foto rumah besar yang pernah terbakar sebagian.
Nama pria itu: Erlangga.
Usianya sudah jauh dari masa prima, rambut memutih di beberapa bagian, tapi sorot matanya belum kehilangan taring.
Ia pernah jadi musuh utama Sugar—saling rebut wilayah, saling kirim pesan lewat mayat.
Sampai satu hari, perang itu lebih dari sekadar barang dan uang: melibatkan orang-orang yang mereka sayang.
Dalam salah satu perang itu, ia menculik perempuan yang dekat dengan Sugar.
Akibatnya, perempuan itu keguguran.
Sejak itu, dendam Sugar pada Erlangga tidak lagi soal wilayah—tapi soal darah, masa depan, dan “hak milik” yang direnggut.
Sekarang, di tengah rokok yang hampir habis, salah satu anak buahnya melapor.
“Bos,” kata anak buah itu, “informasi dari orang kita di kota sana… benar. Rumah lama Sugar sudah tidak berfungsi. Kursi besinya dibakar.”
Erlangga mengangkat alis pelan, menarik napas, menghembuskan asap.
“Rumah lama,” gumamnya. “Tempat yang selalu dia pakai untuk kasih ‘pesan’ ke musuh.
Tempat di mana… dulu anakku hampir…”
Ia menghentikan kalimat itu sendiri.
Di kepalanya, ia masih menyimpan bayangan tentang anak laki-lakinya, Eidgar, yang pernah dibawa Sugar ke rumah itu sebagai balasan.
Sejak kejadian itu, Eidgar tidak pernah benar-benar sama.
“Bos,” anak buahnya ragu-ragu. “Menurut kita… ini kelemahan, atau… apa?”
Erlangga tersenyum miring.
Senyum orang yang sudah terlalu lama hidup di dunia licik untuk percaya perubahan begitu saja.
“Buat orang yang cuma lihat permukaan, ini kelemahan,” jawabnya. “Buat orang yang sedikit pakai otak… ini pertanda.”
“Pertanda?”
“Ya,” lanjut Erlangga. “Sugar bukan orang yang matikan simbol tanpa alasan.
Kalau dia berhenti pakai rumah lama, artinya entah dia berubah… atau dia sedang persiapkan bentuk kekerasan lain yang lebih… halus.”
Anak buahnya diam, mencerna.
“Dan kalau Sugar tiba-tiba ‘berubah’…” Erlangga melanjutkan, “itu biasanya karena dua hal: dia ketakutan… atau dia jatuh cinta.”
Nama terakhir itu membuat sesuatu di matanya mengeras.
“Airin,” gumamnya pelan, hampir seperti berbicara pada diri sendiri. “Perempuan yang dulu… terseret ke dunia dia.”
Anak buah itu mengamati.
“Bos pikir… ini ada hubungannya sama perempuan itu?”
“Informasi terakhir waktu itu,” Erlangga menghembuskan asap lagi, “perempuan itu dinikahi Sugar, lalu… menghilang.
Kabarnya hamil, lalu tidak ada di kota lagi.
Kalau sekarang Sugar bakar rumah lama… aku curiga ini bukan soal bisnis.
Ini soal internal.
Soal… keluarga.”
Ia mengetuk abu rokok ke asbak, menatap peta di dinding.
“Orang seperti Sugar hanya punya dua kelemahan besar: dendam dan orang yang dia sayang,” ujarnya. “Selama ini dendamnya ke aku kuat, tapi tidak goyah.
Kalau sekarang ada yang menggoyahkannya dari dalam… itu bukan aku.
Itu perempuan dan anak yang dia sembunyikan.”
Anak buahnya menelan ludah.
“Kalau begitu… apa kita serang?” tanyanya, terlalu semangat.
Erlangga menoleh, tatapannya dingin.
“Anak-anak muda,” ia mendengus, “suka pikir kesempatan berarti langsung serang.
Padahal, kadang, kesempatan paling manis adalah ketika musuhmu sibuk dengan perang batin sendiri.”
Anak buahnya mengerutkan kening. “Maksud Bos?”
“Kabarkan ke orang kita,” perintah Erlangga. “Pantau gerak Sugar.
Kalau dia benar-benar mulai mengurangi kekerasan terbuka, kalau benar dia mulai lindungi sesuatu yang ‘bersih’ di tengah kotornya hidupnya…
kita tidak buru-buru tembak.”
“Tidak?”
“Tidak,” ulang Erlangga. “Kita tunggu sampai dia hampir punya sesuatu yang tampak seperti… kebahagiaan.
Seseorang seperti dia… layak merasakan sebentar.
Baru setelah itu…” ia tersenyum dingin, “…kalau perlu, baru kita cabut satu-satu.”
Anak buahnya bergidik.
Erlangga bukan hanya gila kekuasaan; ia juga punya selera sakit dalam hal balas dendam.
“Mungkin,” tambah Erlangga pelan, “balas dendam paling sempurna bukan yang bikin dia mati cepat.
Tapi yang bikin dia hidup cukup lama untuk kehilangan sesuatu yang dia jaga mati-matian.”
Di sisi lain kota, bukan hanya Erlangga yang mendengar kabar tentang rumah lama.
Gosip mengalir ke bandar-bandar kecil, kaki tangan bos-bos yang dulu pernah bermimpi menjatuhkan Sugar.
“Kalau Sugar mulai ‘jinak’…” bisik sebagian, “…ini waktu buat kita tumbuh.”
“Dia masih berbahaya,” bantah yang lain. “Tutup rumah lama bukan berarti dia buang senjata. Dia cuma ganti cara.”
Di markas Sugar sendiri, sebagian anak buah tidak nyaman.
“Bos kita… beneran berubah?”
“Gue nggak tahu. Yang jelas, gue nggak kangen teriak-teriak orang di bawah.”
“Ya, tapi… kalau nggak ada rumah lama, makin banyak yang berani naik kepala nanti.”
Sebagian diam-diam lega—mereka yang hatinya masih punya sedikit ruang takut pada dosa.
Sebagian resah—mereka yang terbiasa berlindung di balik reputasi kejam bosnya.
Bram, sebagai tangan kanan, berdiri di posisi paling sulit:
menjaga struktur tetap kuat, sambil menyaksikan fondasi lama diganti pelan-pelan.
Suatu malam, saat hanya mereka berdua di ruang kerja, ia bicara.
“Bos,” panggil Bram. “Kabar tentang rumah lama… sudah sampai ke banyak telinga.
Musuh lama… bangun.
Orang-orangmu… bingung.
Kalau kamu teruskan jalan ini, kamu bukan cuma berurusan dengan perasaan Airin.
Kamu akan berurusan dengan seluruh dunia yang tadinya takut padamu.”
Sugar menyalakan rokok, menghisap sekali, lalu mematikan di asbak tanpa benar-benar menghabiskan.
“Bram,” katanya, menatap sekeliling ruangan, “kalau seluruh dunia takut padaku, tapi anak-anakku takut menanggung namaku… apa gunanya?”
Pertanyaan itu membuat Bram terdiam.
“Kalau aku tetap jadi Sugar penuh,” lanjut Sugar, “Yael Sadewa dan Yuri Sadewa suatu hari akan hidup dengan beban:
‘Ayah kami bos mafia, ayah kami punya rumah siksa, ayah kami musuh banyak orang.’
Kalau aku sedikit mengikis sisi itu, iya, mungkin musuhku akan merasa punya celah.
Tapi setidaknya… aku memberi peluang satu persen agar suatu hari anak-anakku bisa menyebut namaku—Sadewa—tanpa langsung dipandang seperti sampah.”
Bram bersandar, menghembuskan napas.
“Berarti,” simpulnya pelan, “kamu sadar kabar perubahanmu akan sampai ke Erlangga, ke Eidgar, ke lawan-lawan lamamu.”
“Tentu,” sahut Sugar. “Dan biar saja.
Kalau mereka pikir aku jadi lemah, silakan.
Kalau mereka datang cari masalah… aku hadapi.
Bedanya, aku tidak akan lagi menyeret orang tak bersalah ke kursi besi untuk ‘mengajar’.”
Ia mengangkat wajah, menatap Bram.
“Perangku ke depan,” katanya lirih, “bukan cuma menjaga wilayah.
Tapi juga menjaga agar Yael Sadewa dan Yuri Sadewa tidak jadi korban dari dosa-dosa yang kubuat sebelum mereka lahir.
Musuh bisa datang, dunia bisa berguncang, tapi kalau aku sampai pakai mereka sebagai alasan untuk kembali brutal seperti dulu… semua yang kulakukan sekarang sia-sia.”
Bram menatap bosnya lama, lalu akhirnya mengangguk.
“Kalau begitu,” ujarnya, “kita bersiap untuk dua front:
front luar—musuh yang mencium perubahanmu,
dan front dalam—perangmu sendiri melawan Sugar di dalam kepalamu.”
Sugar tertawa pendek, tanpa senyum.
“Perang dalam itu,” katanya pelan, “jujur saja, capeknya lebih parah daripada baku tembak.”
Di kota asing, Airin tidak tahu detail kabar yang beredar di dunia bawah.
Yang ia tahu hanya satu: pesan singkat,
[Aku sudah mulai dari rumah lama.]
Namun ia tidak bodoh.
Ia tahu dunia seperti Sugar tidak akan diam.
Musuh akan mencium perubahan.
Jaringan akan goyah.
Karena itu, malam itu, saat ia menidurkan Yael Sadewa dan Yuri Sadewa, ia berbisik:
“Kalau nanti dunia ayah kalian bergejolak karena pilihannya sendiri, tugas kita cuma satu: tetap hidup.
Kalau dia benar-benar berubah, mungkin suatu hari kalian bisa lihat sendiri.
Kalau tidak… kalian akan tahu bahwa kalian tumbuh bukan karena dia, tapi meski dia.”
Dan di suatu ruang penuh asap di kota lain, Erlangga tersenyum tipis sambil menatap peta dan nama:
“Sugar mulai potong kuku…” gumamnya. “Mari lihat… apakah singa yang potong kuku bisa tetap menggigit, atau akhirnya belajar… menyerah.”