Perjalanan pulang terasa lebih berat daripada ketika Sugar berangkat ke Jepang.
Saat pesawat menembus awan, ia menatap keluar jendela, tetapi yang ia lihat bukan langit—melainkan satu bangunan yang sudah terlalu lama menjadi simbol kekuasaannya:
Rumah lama.
Kursi besi.
Rantai.
Bau lembap bercampur darah.
Jeritan yang dulu menjadi musik latar kebanggaannya.
“Kamu harus membunuh sebagian dirimu sendiri,” terngiang lagi kata-kata Airin.
“Mulai dari rumah lama.”
Bram duduk di sebelahnya, menatap profil Sugar dari samping.
“Kamu akan benar-benar lakukan?” tanya Bram akhirnya, ketika pesawat sudah stabil di udara.
Sugar tidak langsung menjawab.
Ia mengusap wajahnya sekali, dalam, lalu mengangguk pelan.
“Aku sudah terlalu lama sembunyi di balik ancaman dan alasan ‘ini dunia kita’,” ucapnya. “Kali ini… kalau aku bilang ke Airin akan mulai dari rumah lama, aku harus betul lakukan.
Kalau tidak… semua yang kubicarakan di taman itu cuma sandiwara murahan.”
“Dan kamu bukan tipe yang pakai sandiwara murahan,” kata Bram singkat.
Sugar menoleh, sudut bibirnya terangkat tipis.
“Bukan soal gengsi,” katanya. “Ini… soal aku sendiri.
Kalau aku bohong lagi, aku akan muak sama diriku sendiri sebelum Airin sempat muak.”
Begitu mendarat, Sugar tidak langsung ke rumah baru atau kantor.
Ia meminta mobil langsung menuju tempat yang sudah lama menjadi pusat reputasinya di dunia bawah tanah.
Rumah lama.
Dari luar, rumah itu tidak pernah tampak terlalu istimewa: bangunan tua, pagar besi, cat kusam, jendela yang sering tertutup.
Tapi di kalangan orang bawah, nama rumah itu lebih menakutkan daripada kantor polisi mana pun.
Begitu mobil berhenti di depan, anak-anak buah yang berjaga di radius tertentu segera sigap.
Begitu melihat Sugar turun, mereka menunduk dalam.
“Bos,” salah satu menyapa. “Tidak ada pemberitahuan kalau Bos mau datang.”
“Memang,” jawab Sugar pendek. “Justru itu.”
Ia berjalan melewati pagar, langkahnya mantap.
Bram mengikuti agak di belakang, membiarkan jarak.
Di lorong yang masih bau lembap, Sugar bisa merasakan masa lalu menempel di setiap dinding.
Bekas-bekas suara, bekas-bekas tatapan memohon ampun, bekas-bekas ancaman yang pernah ia lontarkan tanpa ragu.
Ia turun ke ruang bawah tanah.
Pintu berat itu masih sama, besi tua yang sedikit berkarat, tapi kekuatannya tidak berkurang.
Begitu dibuka, udara dingin menyambut.
Di dalam, kursi besi itu masih ada.
Rantai masih bergelantungan.
Beberapa peralatan yang dulu biasa dipakai “mengajar” pengkhianat masih tertata rapi.
Sugar berdiri di tengah ruangan.
Ia tidak bicara beberapa menit.
Bram hanya mengawasi dari dekat pintu, menunggu.
Akhirnya, Sugar mendekat ke kursi.
Ia menyentuh sandaran besinya.
“Berapa banyak orang duduk di sini sambil menyebut namaku dengan benci?” batinnya. “Berapa banyak yang mati dengan mataku jadi wajah terakhir yang mereka lihat?”
Di kepala Sugar, sekelebat muncul bayangan:
Bukan hanya musuh dan pengkhianat, tapi Airin—perempuan yang pernah ia ikat di ruangan ini.
“Kalau kursi ini tetap ada…” pikirnya, “…maka bagian dari diriku yang menyekap Airin tidak pernah benar-benar mati.”
Ia menghela napas panjang, memanggil salah satu anak buah yang menunggu di atas.
“Turun,” perintahnya.
Anak buah itu turun tergesa, wajahnya kebingungan.
“Bos?”
“Tolong dengar baik-baik,” suara Sugar tegas, dingin, tapi berbeda. “Mulai hari ini, rumah ini berhenti beroperasi.”
Anak buah itu mengerutkan kening, tidak mengerti.
“Berhenti… maksudnya?”
“Tidak ada lagi tawanan dibawa ke sini,” lanjut Sugar. “Tidak ada lagi orang diikat di kursi ini.
Rantai itu—” ia menunjuk ke dinding, “—dilepas.
Kursi ini—” ia menepuk sandarannya sekali, “—keluar. Hancurkan kalau perlu.
Semua ruangan di bawah ini bersih.
Fungsinya sebagai ‘rumah pelajaran’ selesai.”
Kebisuan mematung di wajah anak buah itu.
“Bos…” suaranya pelan, nyaris ketakutan. “Kalau tidak ada rumah ini… kalau ada yang berkhianat… kalau ada musuh yang tertangkap… kita… pakai apa?”
Dulu, pertanyaan itu akan membuat Sugar tertawa sinis.
Kali ini, jawabannya berbeda.
“Pakailah otak, bukan hanya kursi dan rantai,” sahut Sugar. “Bukan berarti aku jadi malaikat.
Pengkhianat tetap dapat hukuman. Musuh tetap kita bereskan.
Tapi bukan di sini.
Bukan lagi dengan cara yang hanya mengulang apa yang dilakukan orang-orang yang lebih biadab dari kita.”
Anak buah itu menelan ludah.
Baginya, perintah ini terasa aneh—bahkan menakutkan, karena artinya perubahan.
“Kalau ada yang tanya…” lanjut Sugar, matanya menajam, “bilang saja: Bos sudah tidak butuh rumah lama.
Kalau mereka tidak bisa hormat tanpa rumah ini, mereka tidak pantas kerja untukku.”
Bram memperhatikan dengan seksama.
“Kalau mereka anggap ini kelemahan?” tanya Bram setelah anak buah itu keluar untuk memanggil orang lain.
“Biarkan,” jawab Sugar tenang. “Kalau ada yang memanfaatkan ini untuk coba naik… kita punya seribu cara lain untuk menjatuhkan tanpa kursi besi.
Aku tidak buang semua senjataku, Bram.
Aku hanya buang senjata yang setiap kali kulihat, mengingatkanku pada bagaimana aku menghancurkan perempuan yang paling berharga dalam hidupku.”
Bram menatap kursi itu.
Selama ini, ia sendiri terlalu terbiasa dengan keberadaan benda itu, sampai-sampai lupa betapa gilanya fungsi kursi itu jika dilihat dengan mata orang biasa.
“Airin,” gumam Bram, “berhasil menyentuh sisi yang tidak pernah disentuh siapa pun.”
Sugar menghela napas pelan.
“Dia bukan cuma menyentuh,” koreksinya. “Dia menampar. Keras.
Dan… mungkin… aku memang perlu ditampar.”
Dalam beberapa jam berikutnya, orang-orang dipanggil.
Perintah disampaikan berkali-kali agar tak salah tafsir:
– Ruang bawah tanah dibersihkan.
– Rantai dilepas.
– Kursi dibawa keluar.
– Peralatan “pelajaran” dihancurkan atau dibuang.
Sebagian anak buah tampak bingung, sebagian cemas, sebagian bahkan lega diam-diam—mereka yang pernah bangun tengah malam karena mimpi buruk, meski wajah mereka keras.
Saat kursi itu diangkat empat orang, besinya mengeluarkan suara gesekan di lantai.
Sugar mengikuti mereka sampai halaman belakang.
Ia berdiri ketika salah satu anak buah menaruh kursi di tengah halaman.
“Lalu, Bos?” tanya mereka.
Sugar mendekat, menatap kursi itu terakhir kali.
“Bakar,” katanya.
Anak-anak buah saling pandang, tapi tidak berani membantah.
Mereka mengambil bahan bakar, menyiram secukupnya, lalu menyalakan api.
Lidah api pertama menjilat kaki besi, lalu merambat ke sandaran, menyelimuti seluruh bentuknya.
Suara logam yang memuai bercampur dengan bau cat terbakar.
Sugar berdiri diam, tidak mengalihkan pandang.
Di matanya, api itu bukan hanya membakar kursi.
Ia membakar semua bayangan:
Airin dengan tangan terikat.
Musuh yang menatap dengan mata penuh benci.
Para pengkhianat yang menjerit.
Dan bayangan anak kecil di rumah lama yang pernah ia sekap.
“Aku tidak bisa menghapus apa yang sudah terjadi,” batinnya. “Tapi aku bisa mencegah kursi ini menyentuh orang lain lagi.”
Sesekali, bekas Sugar yang lama ingin menyela:
“Tindakan ini sentimental. Lemah. Tidak ada bos mafia yang membakar simbol kuasanya.”
Tapi suara itu pelan, seperti mulai kehilangan tenaga.
Saat api mengecil, besi mulai hitam dan bengkok, Sugar berbalik.
“Mulai hari ini,” katanya keras, cukup untuk didengar semua orang di halaman, “rumah ini hanya jadi rumah kosong.
Kalau perlu dipakai sebagai tempat simpan barang biasa, terserah.
Tapi tidak ada lagi jeritan di sini.
Kalau aku dengar ada yang berani bawa tawanan ke sini, orang pertama yang duduk di ruang apa pun… bukan musuh.
Tapi kalian.”
Anak-anak buah itu menunduk, “Siap, Bos.”
Bram berjalan di samping Sugar ketika mereka meninggalkan rumah lama.
“Kamu sadar,” ujar Bram, suara pelan, “kabar tentang ini akan menyebar cepat.
Orang akan bilang: ‘Sugar sudah berubah’.
Sebagian mungkin takut, sebagian mungkin mencium kesempatan.”
“Biar saja,” jawab Sugar. “Untuk pertama kalinya, aku ingin rumor tentangku mengandung kata ‘berhenti’ selain ‘menghancurkan’.”
Bram mengamati wajah Sugar dengan mata yang berbeda:
Ada halus garis lelah, tapi juga sesuatu yang… entah bagaimana… lebih manusia.
“Dan Airin?” tanya Bram, akhirnya menyentuh topik yang tak terelakkan. “Apa kamu beritahu dia soal ini?”
“Bukan sekarang,” sahut Sugar. “Aku tidak mau mengirim pesan, ‘Hei, lihat, aku sudah bakar kursi’.
Aku tidak melakukan ini untuk pujian.
Aku lakukan ini karena kalau aku tidak hancurkan rumah lama, setiap langkahku menuju Yael Sadewa dan Yuri Sadewa akan selalu terikat pada lantai lembap itu.”
Bram mengangguk.
Untuk pertama kali, ia melihat bosnya melakukan sesuatu yang murni bukan untuk menakuti orang, bukan untuk memperkuat nama, tapi… untuk memutus rantai di dirinya sendiri.
Di malam hari, ketika Sugar duduk sendirian di rumah baru, ia melihat sekeliling:
Ruang tamu rapi, dinding bersih, tidak ada darah, tidak ada rantai.
Tapi kosong.
Di meja, ponselnya menyala.
Tidak ada pesan baru dari Airin.
Dan anehnya, ia tidak memaksakan diri mengirim foto kursi terbakar, tidak juga mengirim video rumah lama.
Ia hanya menulis satu pesan pendek:
[Aku sudah mulai dari rumah lama.]
Tanpa penjelasan detail.
Tanpa bukti.
Ia tahu, kalau Airin mau, ia bisa mencari tahu kebenarannya sendiri lewat jalur yang tidak bisa ia kontrol.
Dan mungkin itu lebih baik—agar tindakannya tidak terlihat seperti sekadar drama untuk menebus dosa.
Beberapa menit, tidak ada balasan.
Sugar menaruh ponsel, bersandar di sofa, menatap langit-langit.
Untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat lama, ia merasa… lelah dengan cara yang berbeda.
Bukan lelah setelah menghabisi musuh, bukan lelah setelah transaksi, tapi lelah karena merobek bagian dari dirinya sendiri.
Di kota lain, di kamar sempit, Airin membaca pesan itu setelah menyusui Yuri Sadewa dan menidurkan Yael Sadewa.
[Aku sudah mulai dari rumah lama.]
Ia menatap layar lama.
Tidak langsung percaya, tapi juga tidak langsung menolak.
“Kalau kamu bohong…” batinnya, “dunia bawah akan bilang lain.
Kalau kamu jujur… cepat atau lambat, aku dengar.”
Ia tidak membalas.
Tidak dengan kata-kata.
Sebagai gantinya, ia menoleh ke dua bayi yang tertidur, dan berkata pelan dalam bahasa yang hanya mereka bertiga pahami:
“Dia bilang… sudah mulai potong satu rantai.
Terserah dia mau lanjut atau tidak.
Tugas mama tetap sama: jaga kalian jauh dari semua itu.
Kalau suatu hari kalian bertemu dia dan dia sudah nggak bawa dunia lamanya… mungkin kita bisa duduk bertiga di taman seperti aku dan dia tadi duduk berdua.”
Untuk sekarang, langkah kecil itu cukup:
Rumah lama yang selama ini menjadi neraka bagi banyak orang, untuk pertama kalinya berhenti berfungsi.
Belum menebus apa pun.
Belum memutihkan dosa.
Tapi setidaknya, di suatu tempat di dalam diri Sugar, satu pintu menuju kekejaman utama sudah ditutup paksa—dibakar, dilumpuhkan.
Dan di atas abu besi yang bengkok itu, entah sadar atau tidak, seorang bos mafia bernama Sugar—atau Sadewa—sedang belajar sesuatu yang bertahun-tahun ia anggap kelemahan:
Berhenti menyakiti kadang adalah bentuk kekuatan paling besar.