Setelah kata-kata itu, mereka terdiam cukup lama.
Angin sore menggeser daun, bayangan pohon bergoyang pelan di tanah.
Orang-orang masih lalu-lalang di taman belakang perpustakaan, tapi di bangku paling ujung, waktu seakan menahan napas.
Airin yang pertama bangkit.
Bukan berdiri, tapi menarik dirinya kembali dari pusat percakapan.
“Aku harus pulang sebelum senja,” katanya pelan. “Yael Sadewa dan Yuri Sadewa belum pernah ditinggal lama. Tubuh mereka masih terlalu kecil untuk… menunggu terlalu lama tanpa aku.”
Sekilas, ada sesuatu seperti luka di mata Sugar saat nama anak-anaknya disebut.
Ia mengangguk perlahan.
“Boleh aku…” suaranya ragu sesaat, “…lihat foto mereka?”
Pertanyaan sederhana itu menghantam Airin di titik paling sensitif.
Selama ini, foto-foto Yael Sadewa dan Yuri Sadewa hanya ada di ponsel miliknya.
Beberapa kali ia hampir menghapus semuanya, takut kalau ponselnya terlacak dan Sugar bisa melihat, bisa memakai, bisa menjadikan mereka titik lemah.
Namun setiap kali ia melihat wajah Yael Sadewa yang mirip ayahnya, dan Yuri Sadewa yang seperti versi lembut dirinya sendiri, ia tidak sanggup menekan tombol hapus.
Sekarang, pria yang wajah anak lakinya salin minta satu hal: sekadar melihat.
Airin menghela napas.
“Kalau aku kasih lihat,” pikirnya, “itu sekaligus mengakui keberadaanmu sebagai ayah.
Tapi kalau aku tidak kasih lihat, aku akan selalu bawa gambar mereka sendirian, tanpa pernah membiarkan ayahnya tahu wajah yang sangat ia cari.”
Ia menatap Sugar, ingin memastikan satu hal.
“Kalau aku tunjukkan,” katanya pelan, “kamu janji tidak akan pakai foto ini untuk melacak, mengirim orang, atau menjadikan mereka umpan.
Tidak ada tangkapan layar, tidak ada kirim ke Bram, tidak ada kirim ke siapa pun.
Hanya ke mata kamu.”
Sugar mengangkat dua tangannya, seolah menyerah.
“Airin,” ucapnya lirih, “kalau aku sampai menjadikan foto anakku sebagai alat buruan, aku sudah benar-benar tidak pantas lagi disebut manusia.
Aku janji.
Hanya aku yang melihat.
Hanya kali ini.”
Airin menunduk, menerima jawaban itu bukan karena percaya sepenuhnya, tapi karena ia tahu: kalau ia terus memagari semuanya, mereka tidak akan pernah keluar dari lingkaran saling menghindar.
Pelan-pelan, ia mengeluarkan ponsel dari tas.
Layar menyala, galeri terbuka.
Di sana, berderet foto-foto: bayi yang tertidur, menangis, tertawa kecil, dirangkul dua tangan yang sudah akrab dengan lelah.
Ia memilih satu foto yang diambil beberapa hari lalu:
Yael Sadewa dan Yuri Sadewa berbaring berdampingan di kasur tipis, mata Yael Sadewa menatap kamera dengan tatapan jauh, mata Yuri Sadewa sedikit menyipit seolah tertawa, tangan keduanya saling menyentuh.
“Ini…” Airin memutar ponsel pelan ke arah Sugar, “…anakmu.”
Sugar menatap.
Untuk beberapa detik, tidak ada suara dari dirinya.
Matanya menyapu wajah kecil Yael Sadewa terlebih dulu.
Garis alis itu—bahkan di foto sederhana—terlihat jelas. Bentuk mata yang, meski masih bayi, punya intensitas tertentu.
Bibit wajah yang sangat ia kenal, disalin dalam versi lembut.
“Yael…” suaranya nyaris tidak terdengar. “Dia… benar-benar…”
“Mengambil wajahmu,” sambung Airin pelan. “Iya.”
Sugar mengalihkan pandang ke Yuri Sadewa.
Wajah kecil yang lebih bulat, mata lembut yang tampak seperti menahan tawa, mulut yang sedikit terbuka.
“Yuri…” ia mengulang. “Dia… kamu.”
Airin mengangkat bahu tipis. “Mungkin.”
Sugar menelan ludah, dadanya terasa berat.
Dalam satu bingkai kecil, ia melihat dua versi: dirinya yang mungkin bisa tumbuh tanpa darah, dan perempuan yang pernah bertahan di nerakanya.
“Aku…” suaranya goyah, “…tidak ada saat mereka lahir.”
Airin tidak menyela.
“Aku tidak ada saat mereka menangis pertama kali,” lanjutnya. “Tidak ada saat mereka pegang jariku.
Aku tidak ada saat dokter bilang mereka sehat.
Aku tidak ada saat kamu hampir tidak punya apa-apa di negara asing, menggendong dua bayi sendirian di kamar sempit.”
Setiap kalimat itu seperti pengakuan kegagalan yang paling dalam.
“Sadewa…” Airin mengucap namanya pelan. “Kamu sendiri yang memilih.”
Sugar mengangguk.
“Ya,” ia tidak mencoba lari. “Aku memilih tetap jadi Sugar.
Dan konsekuensinya… aku tidak ada di foto-foto ini.
Hanya kamu.”
Ia memalingkan wajah sebentar, menelan semuanya.
Untuk orang seperti Sugar, menghadapi kenyataan bahwa dunia bisa berjalan tanpa dirinya adalah salah satu pukulan terbesar.
“Kalau aku… tetap jadi Sugar,” ia kembali menatap foto, “aku bahkan tidak pantas minta apa-apa.
Kalau aku mau mulai jadi Sadewa… aku harus mulai dari menerima bahwa dua bayi ini… hidup tanpa merasa butuh kehadiran Sugar.”
Airin mengunci layar, memasukkan ponsel kembali ke tas.
Gerakannya pelan, seperti menutup pintu kecil.
“Sadewa,” katanya, “kamu bilang mau waktu.
Aku akan kasih.
Tapi waktu itu bukan untuk kamu menguatkan jaringanmu, mengumpulkan anak buah, atau menyiapkan perang.
Waktu itu untuk kamu… memutuskan sendiri: kamu mau tetap jadi Sugar sampai mati, atau kamu mau perlahan mati sebagai Sugar dan coba hidup sebagai Sadewa.”
“Kalau aku pilih tetap jadi Sugar?” Sugar masih ingin menguji batas.
“Kalau kamu pilih tetap jadi Sugar,” jawab Airin datar, “kita berhenti di sini.
Aku akan anggap pertemuan ini… sebagai bab terakhir antara kita sebagai suami istri.
Sisanya hanya urusan dunia hukum dan dunia bawah tanah—bukan dunia keluarga.”
Kata “bab terakhir” menggores halus.
Sugar menarik napas panjang, seperti orang yang baru saja menyelesaikan lari jarak jauh.
“Aku tidak bisa janji penuh,” ucapnya jujur. “Tapi… untuk pertama kalinya, aku akan benar-benar mempertimbangkan untuk… membunuh sebagian besar dari diriku sendiri.”
Airin mengangkat alis tipis. “Maksudmu?”
“Kalau aku… tutup rumah lama,” kata Sugar perlahan, “kalau aku kosongkan ruang bawah tanah, kalau aku hentikan siklus dendam yang paling kotor… itu sama saja dengan membunuh bagian yang selama ini menopang Sugar.”
Airin menatapnya, tidak berkedip.
“Lakukan,” katanya. “Bukan untuk aku.
Untuk Yael Sadewa dan Yuri Sadewa.
Agar suatu hari, kalau mereka tanya siapa ayahnya, aku bisa jawab tanpa harus memotong separuh cerita.”
Sugar memejamkan mata.
Rumah lama.
Kursi besi.
Rantai.
Darah di lantai.
Semuanya berputar seperti film di kepalanya.
“Kalau aku tutup itu semua…” batinnya, “…aku kehilangan senjata terbesar.
Tapi mungkin… aku menyelamatkan sesuatu yang jauh lebih kecil dan jauh lebih berharga.”
Ia membuka mata lagi, menatap Airin.
“Baik,” katanya, kali ini dengan suara yang lebih mantap. “Aku akan pulang.
Dan aku akan mulai dari satu hal:
Rumah lama tidak lagi dipakai.”
Airin menatapnya, mencoba membaca apakah itu sekadar kalimat manis, atau benar-benar keputusan.
“Aku akan tahu kalau kamu bohong,” ia mengingatkan. “Dunia bawah tanah lebih cepat menyebar kabar daripada berita resmi.
Kalau masih ada yang disekap di sana, kalau masih ada rantai yang bergerak… cepat atau lambat, aku dengar.”
Sugar mengangguk.
“Kalau begitu… anggap ini… awal kecil,” ujarnya. “Bukan permintaan maaf, bukan pembuktian.
Hanya… satu langkah yang aku lakukan bukan karena bisnis, bukan karena dendam, tapi karena dua nama: Yael Sadewa dan Yuri Sadewa.”
Airin menunduk sedikit.
Kata-kata itu, meski belum cukup untuk menebus semua dosa, setidaknya menandai sesuatu:
Sugar—yang selama ini hanya tahu cara menghancurkan—untuk pertama kalinya bicara tentang menghentikan satu sumber kehancuran, bukan memperkuatnya.
Ia bangkit, bersiap pergi.
“Aku harus pulang,” katanya. “Mereka menunggu.”
Sugar berdiri juga, tubuhnya terasa lebih berat dari ketika datang.
“Airin,” panggilnya. “Aku tidak minta kamu percaya penuh.
Tapi kalau suatu hari… aku datang lagi, dengan alasan yang bukan untuk membawa kamu pulang, tapi untuk menunjukkan apa yang sudah aku hentikan…
Aku harap… kamu masih mau duduk di bangku seperti ini.”
Airin menatapnya lama, lalu mengangguk tipis.
“Asal kamu datang sebagai Sadewa,” jawabnya. “Bukan sebagai Sugar.”
Keduanya berbalik, melangkah ke arah yang berbeda.
Satu menuju gang kecil, kamar sempit, dan dua bayi yang tertidur.
Satu menuju hotel, bandara, dan rumah lama yang kini membawa beban keputusan baru.
Dan di antara mereka, di udara kota asing itu, menggantung satu janji kecil yang belum sepenuhnya terucap:
Bahwa mungkin, untuk pertama kalinya, darah dan cinta tidak lagi berdiri di kubu yang sama.