Kota yang bagi Sugar terasa asing dan menyesakkan, bagi Airin justru perlahan menjadi “biasa”.
Bukan rumah, tapi tempat singgah yang ia paksa untuk disebut aman.
Setelah keluar dari rumah sakit, Airin tidak punya banyak pilihan.
Ia tidak mungkin kembali ke desa wisata.
Ia tidak mungkin kembali ke penginapan Takahashi dan menyeret wanita itu ke bahaya.
Dengan bantuan pekerja sosial rumah sakit dan sedikit tabungan yang tersisa, ia menemukan satu kamar kecil di sebuah rumah sewa sederhana di pinggiran kota.
Rumah itu milik pasangan lansia Jepang yang ramah dan tidak banyak bertanya.
Mereka terbiasa menyewakan satu kamar untuk mahasiswa atau pekerja sementara. Kali ini, yang datang seorang perempuan asing dengan dua bayi kembar.
“Anakmu lucu,” kata sang nenek pemilik rumah, tersenyum saat pertama kali melihat Yael Sadewa dan Yuri Sadewa. “Kembar. Susah, tapi… hati hangat.”
Airin hanya bisa membalas dengan senyum tipis dan sedikit bahasa Jepang patah-patah yang ia pelajari dari perawat dan brosur rumah sakit.
Ia memperkenalkan dirinya sebagai “Aira”, seperti saat di desa.
Di kamar kecil itu, dengan jendela menghadap gang sempit dan tiang listrik, Airin membangun dunia baru:
– Kasur tipis di lantai, cukup untuk dia dan dua bayi tidur berdampingan.
– Lemari kecil untuk menyimpan pakaian seadanya.
– Rak sederhana untuk s**u, botol, dan popok.
– Sudut kamar yang didedikasikan untuk boks bayi bekas yang ia beli murah dari toko barang tangan kedua.
Malam-malam pertama adalah neraka yang berbeda:
Bukan jeritan di ruang bawah tanah, tapi tangis bayi bergantian.
Bukan suara rantai, tapi suara botol yang jatuh, air panas mendidih, dan napas Airin yang terengah karena kurang tidur.
Tapi di tengah semua itu, ia menemukan jenis kelelahan baru yang… tidak sepenuhnya menyakitkan.
Yael Sadewa yang suka terbangun tapi jarang menangis kencang, hanya merengek pelan dan menatap, seolah matanya ingin mencari sesuatu yang ia belum bisa namai.
Yuri Sadewa yang lebih vokal, jika lapar tangisannya bisa memenuhi kamar, tapi setelah digendong akan tenang sambil memegang jari Airin erat-erat.
“Yael…” bisik Airin suatu malam, saat semua lampu sudah dimatikan kecuali lampu kecil di sudut, “kamu mirip sekali dengan ayahmu.”
Wajah kecil itu, dengan alis yang sudah terlihat garisnya, hidung kecil yang tegas, dan bibir mungil yang sering diam tapi seolah menahan sesuatu, benar-benar mengingatkannya pada Sadewa.
“Kamu tahu?” Airin melanjutkan, suaranya pelan. “Kalau mama lihat kamu terlalu lama, d**a mama sakit. Karena di satu sisi… mama sayang. Di sisi lain… mama takut.”
Ia bergeser, mengelus pelan pipi Yuri Sadewa yang tidur dengan mulut sedikit terbuka.
“Yuri… kamu seperti campuran yang Tuhan buat supaya mama ingat, dunia bukan cuma tentang dia. Kamu ada banyak mamanya di wajahmu.”
Di hari-hari ketika rasa khawatir menghantam terlalu keras, Airin memaksa dirinya fokus pada hal-hal kecil:
– Menghitung berapa kali Yael Sadewa mengoceh pelan hari itu.
– Mengamati bagaimana Yuri Sadewa tertawa kecil saat melihat bayangannya sendiri di kaca.
– Menandai kapan mereka mulai bisa tengkurap, merangkak, dan mencoba berdiri.
Setiap gerak kecil adalah alasan untuk bertahan satu hari lagi.
Namun meski tubuhnya sibuk menjadi ibu, kepalanya tidak pernah benar-benar lepas dari Sugar.
“Dia pasti sudah sadar aku hilang,” pikir Airin berkali-kali. “Dia pasti sudah marah, mengamuk, menyuruh Bram atau anak buah lain mencariku.
Mungkin dia pikir aku pengecut. Mungkin dia pikir aku pengkhianat.
Atau… mungkin dia malah tidak peduli.”
Kalimat terakhir itu, diam-diam, justru yang paling menyakitkan.
Ia pernah melihat sisi Sugar yang mau mengantar ke dokter, membeli makanan khusus ibu hamil, dan menatap perutnya lama-lama seolah ada sesuatu yang berharga di situ.
Kalau semua itu hanya karena ego “bos mafia” yang bangga punya keturunan, bukan karena benar-benar peduli padanya sebagai perempuan… Airin tidak tahu apakah ia lebih lega atau lebih hancur.
Suatu sore, ketika Yael Sadewa dan Yuri Sadewa tertidur berdampingan di kasur, Airin duduk di dekat jendela dan menatap ke luar.
Langit kota itu berwarna pucat, dengan garis kabel listrik yang menyilang.
Ia memegang ponsel yang sudah lama ia matikan, memainkannya di tangan, ragu.
“Kalau aku menyalakan ini… apa yang terjadi?” batinnya.
“Lokasiku bisa terlacak. Kartu SIM ini masih sama. Nomornya masih sama. Sugar bisa menarik jejak. Bram bisa pantau. Dunia mereka bisa menembus dunia kecilku.”
Namun di sisi lain, satu bagian kecil dari dirinya ingin tahu:
Apakah Sugar pernah menghubungi lagi?
Atau setelah beberapa kali pesan dan panggilan yang dulu, ia berhenti?
Ia menyalakan ponsel.
Layar menyala pelan.
Logo operator muncul.
Sinyal kembali.
Detik pertama, tidak ada apa-apa.
Detik kedua, mulai muncul daftar notifikasi yang menumpuk seperti hujan batu.
Puluhan pesan.
Panggilan tak terjawab.
Beberapa dari nomor asing—mungkin nomor orang-orang Sugar, mungkin nomor lain yang ia tidak kenal.
Airin menggulir pelan.
Sebagian pesan dari hari-hari awal kepergiannya berisi kemarahan:
[Apa maksudmu kabur?]
[Airin, jangan paksa aku cari kamu dengan cara yang kamu tidak suka.]
[Kamu bawa anakku. Itu tidak main-main.]
Sebagian pesan berikutnya terdengar lebih… kacau:
[Di mana kamu?]
[Jawab, meski satu kata.]
[Aku tidak mau harus pakai cara lain.]
[Airin.]
[Airin, aku serius.]
Lalu, pada satu titik, nada pesan berubah.
[Airin, kamu melahirkan di mana?]
[Apakah kamu selamat?]
[Bagaimana dengan bayi-bayi itu?]
[Kalau kamu mau benci aku, bencilah. Tapi tolong… jangan hukum anak-anakku juga.]
[Airin, kalau kamu butuh uang, aku bisa kirim tanpa syarat. Hanya untuk memastikan kalian tidak mati di negara orang.]
Airin memejamkan mata.
Tangannya gemetar.
“Apa ini… benar-benar dia?” bisiknya. “Sadewa… menulis seperti ini?”
Ia menggulir lagi.
Pesan-pesan berikutnya jarang, tapi berat:
[Aku datang ke Jepang.]
[Aku tahu kalian lahir di sana.]
[Nama mereka… Yael dan Yuri, kan?]
[Kamu tetap pakai nama keluarga Sadewa. Kenapa?]
Airin terhenyak.
“Dia… sudah tahu,” pikirnya. “Tentang nama mereka. Tentang rumah sakit.”
Napasnya tercekat.
“Berarti… dia sudah pernah datang ke kota ini,” lanjut batinnya, rasa dingin menjalar ke tulang. “Dia mungkin… sedang di sini sekarang.”
Seolah menjawab pikirannya, satu pesan baru masuk tepat saat ponsel kembali terhubung penuh ke jaringan.
Nomor itu—tanpa nama—tapi Airin tahu siapa.
Kata-katanya singkat:
[Aku di kota yang sama denganmu.]
Airin menjatuhkan ponsel ke kasur, napasnya putus.
“Tidak…” desisnya. “Dia sudah sejauh ini…”
Ia menoleh cepat ke arah Yael Sadewa dan Yuri Sadewa yang masih tertidur tenang, tak sadar dunia di luar kamar kecil itu bergeser satu langkah lebih dekat ke mereka.
Airin memegang kepala, mencoba berpikir jernih di tengah panik.
“Kalau aku kabur lagi sekarang… ke mana?”
Tabungannya tipis. Uangnya menipis. Tubuhnya masih dalam masa pemulihan. Dua bayi butuh s**u, butuh tempat yang layak.
“Kalau aku diam di sini… mereka bisa ditemukan,” pikirnya.
“Kalau aku lari ke polisi… aku harus buka semua, termasuk siapa Sugar, siapa Erlangga, rumah lama, anak kecil yang pernah kusaksikan disekap. Itu berarti perang besar.
Dan di tengah perang besar… anak-anakku bisa terseret.”
Ia memejamkan mata, menahan air mata yang mulai menumpuk.
“Sugar… kenapa kamu tidak berhenti di saat kamu masih bisa?” bisiknya lirih, bukan pada ponsel, tapi pada bayangan di kepalanya. “Kalau dulu kamu benar-benar tinggalkan dunia itu… mungkin sekarang kita bukan saling memburu, tapi saling menunggu di ruang yang sama.”
Ponselnya bergetar lagi.
[Kalau kamu baca ini, berarti kamu hidup.]
[Aku tidak akan tanya di mana kamu, belum. Aku hanya ingin kamu tahu satu hal dulu.]
Pesan berikutnya masuk.
[Aku marah karena kamu pergi, iya. Aku marah karena kamu bawa anakku, iya.
Tapi aku juga… kehilangan.]
Kali ini, Airin tidak bisa menahan air mata.
Ia benci dirinya karena masih tergerak oleh kata-kata pria yang sudah begitu menyakitinya.
Tapi bagaimanapun, itu adalah ayah dari dua bayi yang tengah ia lindungi.
Pesan berikutnya masuk lagi, seperti tusukan lain yang halus tapi dalam.
[Aku tidak tahu bagaimana caranya mencintai tanpa merusak.
Kalau aku datang padamu nanti… kamu boleh benci.
Tapi jangan larang aku lihat anak-anakku sekali saja.]
Airin menutup mulut dengan tangan, agar isaknya tidak membangunkan bayi-bayi.
Di satu sisi, nalurinya berteriak: “Jangan biarkan dia mendekat. Satu langkah dan dia akan seret kalian semua kembali ke neraka.”
Di sisi lain, hatinya yang dulu pernah percaya—dan tubuhnya yang membawa dua nyawa yang sangat mirip pria itu—merasa terguncang.
“Kamu datang ke kota yang sama…” Airin bergumam, tatapannya kosong ke arah jendela. “Berarti waktuku untuk sembunyi tanpa strategi sudah habis.”
Ia menghapus air mata dengan kasar, memaksa dirinya duduk tegak.
“Aku tidak boleh cuma jadi perempuan yang lari dan lari,” kata Airin pada dirinya sendiri. “Aku punya dua anak. Aku harus jadi orang yang bisa mengatur, bukan hanya menghindar.”
Ia menatap Yael Sadewa dan Yuri Sadewa, napasnya mulai stabil.
“Mungkin…” gumamnya, “kalau aku terus diam, Sugar akan yang tentukan jalan cerita.
Tapi kalau aku mulai bicara—ke pihak resmi, ke orang yang bisa lindungi, ke sistem yang tidak bisa dia beli semudah itu—kali ini aku punya sedikit peluang.”
Namun itu berarti satu hal:
Airin harus siap untuk meletakkan nama “Sugar” di bawah cahaya terang dunia hukum.
Dan otomatis, ia juga menyeret dirinya sendiri sebagai saksi—bahkan mungkin sebagai tersangka dalam banyak hal.
“Airin…” ia berbicara pada dirinya sendiri, “kamu pernah jadi korban, tapi kamu juga pernah diam melihat orang lain disiksa.
Kalau kamu buka semua, kamu bukan hanya lindungi Yael Sadewa dan Yuri Sadewa, tapi juga anak kecil di rumah lama itu, dan mungkin banyak orang lain.”
Ia menggenggam ponsel erat-erat.
“Kalau… aku harus berperang,” batinnya, “aku akan berperang bukan sebagai istri Sugar, tapi sebagai ibu Yael Sadewa dan Yuri Sadewa.”
Dia mengetik pelan, jari-jarinya gemetar.
Satu pesan balasan, pendek, tapi sarat makna:
[Kamu tidak akan mudah menemukan aku.
Tapi kalau kamu benar-benar mau lihat mereka… kamu harus siap dengar semua yang selama ini kamu tutupi dari dunia.]
Pesan terkirim.
Di kota yang sama, di sebuah kamar hotel yang jauh lebih mewah, Sugar menatap layar ponselnya yang berisi balasan pertama dari Airin setelah sekian lama.
Untuk pertama kali sejak kepergian istrinya, Sugar sadar satu hal:
Perburuan ini tidak lagi hanya soal siapa lebih kuat.
Ini sudah mulai masuk ke ranah: siapa lebih siap menghadapi kebenaran yang selama ini mereka sama-sama sembunyikan.