Sugar menatap layar ponselnya cukup lama setelah pesan Airin masuk.
Kalimat pendek itu, meski tidak mengandung kata “benci” atau “rindu”, punya sesuatu yang selama ini jarang diberikan Airin kepadanya:
Batas.
[Kamu tidak akan mudah menemukan aku.
Tapi kalau kamu benar-benar mau lihat mereka… kamu harus siap dengar semua yang selama ini kamu tutupi dari dunia.]
Bram duduk di kursi dekat jendela hotel, memperhatikan perubahan tipis di wajah bosnya.
“Dia balas?” tanya Bram, hati-hati.
Sugar mengangguk pelan, masih memandangi layar.
“Ya,” jawabnya. “Dan… ini bukan balasan orang yang panik. Ini… balasan orang yang sudah siap perang.”
Bram berdiri, mendekat sedikit. “Perang seperti apa?”
“Perang dengan kebenaran,” sahut Sugar lirih. “Airin bukan cuma lari. Sekarang dia tawarkan syarat: kalau aku mau lihat anak-anakku, aku harus siap lihat diriku sendiri dari sisi yang paling… kotor.”
Bram menghela napas.
“Bukankah itu memang yang selama ini kamu hindari?”
“Aku tidak menghindar,” bantah Sugar otomatis, lalu terdiam sendiri. “Atau… mungkin, iya.
Selama ini aku mengatur dari belakang. Aku tarik tali, tapi tidak pernah aku ijinkan orang lihat tangan yang memegangnya.
Airin ingin aku lepaskan tangan itu di depan dunia.”
“Kalau dia bawa urusanmu ke polisi di sini… itu akan lain cerita, Bos,” Bram mengingatkan. “Negara ini bukan tempatmu bisa lempar uang dan masalah selesai.”
Sugar tahu.
Justru itu yang membuat Airin berani bicara seperti itu.
“Aku sedang berada di tempat di mana kekuasaanku tidak utuh,” gumamnya. “Dan dia tahu. Dia memanfaatkannya.”
Kali ini, suara Sugar bukan marah, tapi… sedikit kagum.
“Dia bukan perempuan yang dulu kau bawa ke rumah lama,” kata Bram pelan. “Dulu, dia ketakutan. Sekarang, dia ibu dari dua anakmu.”
Sugar menggenggam ponsel lebih erat.
“Ya,” ucapnya. “Dan itu membuatnya jauh lebih berbahaya. Karena ibu… kalau sudah bertahan untuk anak, bisa lawan siapa pun. Termasuk aku.”
Ia menghela napas, lalu mengetik balasan.
Kali ini, ia memilih kata-kata dengan hati-hati.
[Kalau yang kamu maksud “kebenaran” adalah soal aku, rumah lama, Erlangga, anaknya, dan semua yang pernah kamu lihat… aku tahu itu sudah saatnya jadi beban yang harus kupikul sendiri.]
Dia berhenti sebentar, lalu menambahkan:
[Tapi jangan seret Yael Sadewa dan Yuri Sadewa ke garis tembak.
Kalau kamu ingin buka semuanya, aku siap dengar.
Tapi biarkan mereka tetap pakai dunia kecil mereka dulu.]
Pesan terkirim.
Di kamar sempitnya, Airin membaca pelan.
“Siap dengar…” Airin mengulang dalam hati. “Apa itu artinya… dia mulai sadar?”
Bagian diri Airin yang dulu pernah mencintai Sadewa, bukan Sugar, ingin sekali percaya bahwa ada perubahan.
Tapi bagian lain—bagian yang pernah diikat, diancam, dan dipaksa—masih sangat waspada.
Ia membalas.
[Aku tidak mau Yael Sadewa dan Yuri Sadewa tumbuh dengan dunia yang penuh rahasia, ancaman, dan darah.
Kalau kamu benar-benar mau ketemu, satu-satunya cara adalah kamu berhenti berpikir sebagai Sugar.
Datang sebagai Sadewa. Tanpa anak buah. Tanpa ancaman. Tanpa permainan.]
Sugar membaca pesan itu, rahangnya mengencang.
“Tanpa anak buah,” ia mengulang. “Dia mau aku datang sendirian.”
“Berbahaya,” komentar Bram cepat. “Kalau itu jebakan? Kalau dia sudah bicara ke polisi? Kamu datang sendiri, mereka tangkap, kamu selesai.”
“Kalau aku kirim anak buah, aku tetap tidak akan tenang,” jawab Sugar. “Karena ini bukan sekadar negosiasi. Ini… konfrontasi antara aku dan dia.
Selama ada orang ketiga, Airin tidak akan bicara jujur.”
Bram menatap bosnya beberapa detik.
“Jadi kamu mau datang sendiri?”
“Pada titik ini,” Sugar menghela napas, “aku sudah memulai sesuatu yang tidak bisa kembali.
Kalau aku mundur hanya karena takut jebakan… aku akan kalah sebelum perang dimulai.”
Ia mengetik balasan, jarinya mantap.
[Kalau kamu mau aku datang sebagai Sadewa, aku datang.
Tapi kamu tentukan tempatnya. Tempat umum. Ramai.
Kalau memang ini jebakan, setidaknya kita tahu siapa yang lebih dulu menodai nama siapa.]
Airin membaca pesan itu sambil menggoyang sedikit boks bayi Yuri Sadewa, yang mulai gelisah.
“Tempat umum, ya…” gumam Airin.
“Iya. Supaya kamu merasa aman. Dan aku juga.”
Ia memikirkan beberapa kemungkinan:
– Kafe kecil dekat rumah sakit, banyak orang, tapi sempit.
– Taman kota, lebih terbuka, tapi sulit awasi semua sudut.
– Dekat kuil, ramai wisatawan tapi terlalu banyak gang samping.
Pada akhirnya, ia memilih titik yang pernah ia lewati beberapa kali: area taman kecil di belakang perpustakaan kota.
Tempat itu cukup ramai di jam siang, sering dipakai orang istirahat dan membaca, tapi tidak terlalu padat wisatawan. Ruangnya terbuka, tapi punya kamera CCTV kota.
Tempat di mana, jika sesuatu terjadi, bukan hanya dunia bawah tanah yang lihat, tapi juga dunia resmi.
Ia mengetik.
[Besok. Pukul 11 siang.
Taman belakang perpustakaan kota.
Kamu datang sendiri. Tanpa Bram. Tanpa orang lain.
Kalau aku lihat ada bayangan lain, aku pergi. Dan kali ini, kamu tidak akan dapat apa-apa lagi dariku.]
Sugar membaca.
Nama “Bram” disebut jelas.
“Dia tahu aku tidak pernah jauh dari kamu,” kata Bram, sudut bibirnya miring sedikit. “Dia tahu pola kita.”
“Dia belajar dari kita,” jawab Sugar datar. “Dan itu… salah satu kesalahanku.
Aku terlalu sering menunjukkan cara kerja kepada seseorang yang ternyata akan menggunakannya untuk kabur dariku.”
Bram menghela napas. “Kamu akan tetap pergi?”
“Ya.”
“Sendirian?”
“Ya.”
“Bos—”
“Bram,” potong Sugar, tatapannya mantap. “Kalau aku tidak berani datang sendirian ke depan istri sendiri, bagaimana aku bisa berharap dia percaya satu kata pun yang keluar dari mulutku?”
Bram terdiam.
Dalam hati, ia tahu Sugar benar.
Tapi sebagai tangan kanan, instingnya berteriak.
“Kalau begitu,” ujar Bram pelan, “aku akan tetap di kota ini. Tidak jauh.
Kalau ada yang aneh… kamu tahu caranya hubungi aku tanpa terlihat.”
Sugar tidak membantah.
Setidaknya, itu kompromi yang masih masuk akal.
Malam itu, sebelum tidur, Airin duduk di samping Yael Sadewa dan Yuri Sadewa.
Lampu kecil menyala lembut di sudut kamar.
“Besok…” katanya pelan, “mama akan ketemu ayah kalian.”
Kata “ayah” terasa berat di lidahnya.
“Bukan sebagai suamiku,” lanjutnya. “Bukan sebagai bosku. Tapi sebagai orang yang harus dengar semua yang pernah dia lakukan padaku, dan semua yang pernah dia lakukan pada orang lain.”
Ia mengelus pipi Yael Sadewa.
“Kamu…” Airin tersenyum samar, “jangan ikut dulu, ya. Kamu terlalu mirip dia. Mama takut tidak bisa fokus kalau lihat kalian berdua dalam satu frame.”
Ia berpindah mengelus Yuri Sadewa.
“Kamu juga, Yuri. Kamu terlalu kecil untuk lihat cara orang dewasa saling menghadapi kesalahan masa lalu.”
Airin menunduk, menyatukan kedua telapak tangannya di atas lutut.
Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, ia berdoa dengan kata-kata yang tidak mengandung lari atau takut.
“Kalau besok ini adalah awal dari perang,” bisiknya, “tolong… jangan biarkan anak-anakku jadi korban. Biarkan mereka hanya jadi alasan aku maju, bukan alasan aku hancur.”
Di kamar hotel, di tempat lain di kota yang sama, Sugar duduk memandang langit kota dari jendela besar.
Lampu-lampu jalan menarik garis di matanya.
“Besok,” batinnya, “aku akan melihat lagi perempuan yang kucari sampai gila.”
Dan, untuk pertama kalinya, ia tidak hanya berpikir tentang bagaimana membawa Airin pulang.
Ia juga berpikir:
“Kalau dia menatap mataku dan bilang ‘aku benci kamu’… apakah aku punya hak untuk menyangkal?”