Pagi itu, kantor Sugar terasa berbeda.
Bukan karena jumlah orang yang datang atau jenis laporan yang masuk, tapi karena satu keputusan yang akhirnya diucapkan dengan jelas:
“Kita berangkat,” kata Sugar, berdiri di depan jendela, memandang kota yang selama ini ia kuasai. “Ke Jepang. Ke kota tempat Airin melahirkan.”
Bram berdiri di belakangnya, membawa dua paspor di tangan.
Satu atas nama Sadewa.
Satu lagi atas nama Bram.
“Kau benar-benar pakai nama asli?” tanya Bram, separuh heran, separuh khawatir.
“Nama asli tetap yang paling sah di dunia resmi,” jawab Sugar. “‘Sugar’ hanya berfungsi di dunia bawah tanah. Di negara lain, yang berlaku ‘Sadewa’. Dan kali ini… aku butuh dunia resmi.”
Ada ironi tajam di kalimat itu: bos mafia yang selama ini bermain di celah hukum, sekarang bersiap menggunakan jalur legal untuk mencari istri dan anaknya.
“Perusahaan sah kita punya alasan,” lanjut Sugar. “Aku bisa pergi sebagai direktur yang ‘survey peluang bisnis’ atau apa pun yang anak buah bagian legalmu mau tulis. Intinya: aku punya tiket bersih.”
Bram mengangguk.
“Kami sudah siapkan jadwal penerbangan,” katanya. “Tidak terlalu mencolok, tapi cukup cepat.”
Di meja, ada dua tiket pesawat menuju Tokyo, lalu satu tiket kereta cepat ke kota yang sudah mereka tandai sebagai lokasi rumah sakit.
Sugar menatap tiket itu lama.
“Dulu…” gumamnya, “aku buat paspor untuk Airin dengan alasan ‘biar gampang kalau liburan’.
Aku tidak pernah benar-benar berniat ajak dia liburan.
Paspor itu jadinya dipakai untuk kabur dari aku.”
Bram terdiam.
Ia tahu penyesalan di kalimat itu bukan hal sepele.
“Sekarang,” lanjut Sugar, “kalau aku naik pesawat ke kota yang sama, dunia mungkin melihat aku sebagai pria yang ke luar negeri untuk bisnis. Padahal… aku datang untuk sesuatu yang jauh lebih berantakan dari bisnis.”
“Airin,” kata Bram pelan. “Dan Yael Sadewa, Yuri Sadewa.”
Sugar menahan sejenak sebelum menjawab.
“Ya,” ucapnya pendek. “Nama mereka terdengar… terlalu lembut untuk masuk ke mulut orang seperti kita.”
Bram tidak membantah.
Beberapa jam kemudian, pesawat yang mereka tumpangi sudah berada di udara.
Sugar duduk di kursi kelas bisnis, tapi pikirannya jauh dari segala kenyamanan.
Di luar jendela, awan berlapis-lapis.
Di dalam dadanya, masa lalu berlapis-lapis.
Ia mengingat hari ketika Airin pertama kali dibawa ke rumah lama—mata yang penuh ketakutan, tubuh yang kaku tapi berusaha terlihat tegar.
Ia mengingat hari ketika Airin pertama kali memandang rumah baru—tatapan waspada yang perlahan diwarnai sedikit harapan.
Ia mengingat hari ketika Airin mengucapkan syarat: “Aku akan mencoba menerima kamu… kalau kamu tinggalkan dunia mafia ini.”
Ia tidak pernah benar-benar meninggalkan.
“Kalau saja saat itu…” batinnya, “aku benar-benar berhenti.”
Namun pikiran “andai” tidak pernah punya kuasa mengubah masa lalu.
Ia hanya memperberat penyesalan.
Bram di kursi sebelah sesekali melirik, memerhatikan gestur halus Sugar:
Jari mengetuk sandaran tangan, napas sedikit berat, mata tidak fokus meski tampak menatap luar.
“Bos,” panggil Bram pelan.
Sugar menoleh sedikit. “Hm?”
“Kalau kita sudah sampai kota itu… rencana awal?” tanya Bram. “Langsung ke rumah sakit? Atau kita sebar orang dulu?”
Sugar menghela napas, berusaha kembali ke mode strateginya.
“Rumah sakit dulu,” jawabnya. “Tidak mungkin kita datangi semua tempat tanpa tahu titik pasti.
Di sana, kita lihat apakah ada cara… untuk dapat informasi tanpa membuat mereka curiga.”
“Airin mungkin sudah tidak di sana,” Bram mengingatkan.
“Aku tahu,” balas Sugar. “Tapi rumah sakit punya jejak. Data. Nama.
Setelah itu… baru kita cari ke luar.”
Ia berhenti sebentar, lalu menambahkan pelan,
“Dan kalau… aku tidak menemukan dia…”
Sugar tidak melanjutkan, tapi Bram bisa menerka sisa kalimatnya:
Kalau ia tidak menemukan Airin, apa yang tersisa dari semua ini?
Kereta dari Tokyo ke kota tujuan berjalan mulus di atas rel.
Begitu mereka turun, kota terasa berbeda dari tempat Sugar biasa menjejak: tertib, rapi, dengan hiruk-pikuk yang teratur.
Tidak ada anak buah yang bersandar di gang dengan tatapan mengancam.
Tidak ada suara desingan peluru di kejauhan.
Hanya suara kendaraan, percakapan orang, dan pengumuman di stasiun.
“Dunia ini…” Bram menggumam, “tidak tahu siapa kau.”
Sugar tersenyum tipis, hambar.
“Bagus,” katanya. “Untuk sesaat… aku hanya Sadewa.”
Mereka menuju rumah sakit dengan mobil sewa yang tampak biasa.
Dari luar, rumah sakit itu seperti rumah sakit umumnya: gedung putih, halaman lapang, beberapa pohon, orang keluar-masuk dengan seragam dan pakaian pasien.
Sugar berhenti sejenak di depan bangunan itu.
Di dalam sana, beberapa minggu lalu, Airin berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan dua bayi yang kini punya nama.
Ia merasakan sesuatu di dadanya yang tidak biasa: tegang bercampur takut.
“Ini bukan gudang musuh,” katanya pelan. “Ini tempat di mana dia… hampir kehilangan nyawanya untuk melahirkan darahku.”
Bram mengangguk.
“Aku ke bagian informasi,” ia menawarkan. “Kamu… jangan langsung naik ke atas. Kita lihat dulu pola.”
Sugar menggeleng.
“Tidak,” katanya. “Aku ikut. Aku ingin dengar sendiri.
Kalau ada nama mereka disebut, aku tidak mau hanya mendengar dari mulut orang lain.”
Dua pria itu melangkah masuk.
Di lobby, suara bahasa Jepang mengalir, dengan sesekali sisipan bahasa Inggris untuk pasien asing.
Di bagian informasi, Bram berbicara dalam bahasa Inggris, pelan, terukur.
“Kami… keluarga jauh dari seorang pasien Indonesia yang melahirkan bayi kembar di sini,” katanya. “Kami terlambat datang. Kami hanya ingin tahu apakah… mereka masih tercatat di sini. Atau sudah keluar.”
Petugas di balik meja menatap mereka dengan sopan.
“Nama?” tanyanya.
Bram menahan napas sepersekian detik, melirik Sugar.
Sugar mengangguk pelan—ini saatnya.
“Airin,” jawab Bram. “Atau… Airin Sadewa.”
Petugas mengetik sesuatu di komputernya.
Beberapa detik terasa seperti menit.
“Ada catatan,” kata petugas itu akhirnya. “Pasien perempuan, warga negara Indonesia. Melahirkan bayi kembar. Tapi… ia sudah keluar beberapa hari setelah persalinan. Statusnya: turis. Tidak ada alamat permanen yang terdaftar.”
Sugar menggenggam sandaran kursi di depan meja informasi begitu kuat hingga kulit jarinya menegang.
“Bayi?” suaranya rendah.
Petugas kembali melirik layar.
“Dua bayi kembar,” jelasnya. “Nama keluarga mereka: Sadewa. Nama bayi laki-laki: Yael. Nama bayi perempuan: Yuri.”
Kalimat itu menembus langsung ke d**a Sugar.
Untuk pertama kalinya, nama anak-anaknya diucapkan oleh orang lain, di tempat yang bukan miliknya, dengan nada datar dan profesional.
“Yael Sadewa…” Sugar mengulang dalam hati. “Yuri Sadewa…”
“Nona itu sekarang di mana… kami tidak tahu,” lanjut petugas. “Kami hanya rumah sakit. Setelah keluar, kami tidak melacak kehidupan pasien.”
Sugar mengangguk tipis, mencoba menjaga ekspresi.
“Terima kasih,” ucap Bram cepat, sebelum Sugar bicara hal yang bisa berbahaya.
Mereka mundur dari meja informasi, duduk di salah satu kursi di sudut lobby.
Suasana rumah sakit tetap ramai, tapi bagi Sugar, semuanya mendadak memudar.
Hanya satu hal yang terdengar kuat di kepalanya:
“Aku terlambat,” batinnya. “Aku sampai di sini setelah semuanya selesai.
Airin melahirkan tanpa aku.
Yael dan Yuri menangis untuk pertama kalinya… tanpa aku.”
Bram menatap bosnya dengan hati-hati.
“Bos,” panggilnya. “Setidaknya sekarang kita tahu data pasti. Rumah sakit ini mengonfirmasi. Dia pernah di sini. Dia melahirkan di sini. Dia keluar dari sini.”
“Ya,” jawab Sugar, suaranya serak halus. “Dan sekarang… mereka semua berada entah di mana.”
Ia menengadahkan kepala, menatap langit lewat jendela rumah sakit.
“Kota ini…” gumamnya, “menyembunyikan tiga nyawa yang… seharusnya berada di bawah atap yang sama denganku.”
Bram tahu, setelah ini pencarian tidak akan berhenti.
Rumah sakit hanyalah titik.
Setelah titik ini, mereka akan menyebar ke penginapan, apartemen, jalan kecil—apa saja yang bisa menyimpan seorang perempuan asing dengan dua bayi kembar.
“Airin…” batin Sugar, yang selama ini memanggil nama itu dengan marah dan dendam, malam itu memanggilnya dengan nada yang berbeda:
Nada orang yang—meski gila, keras, dan penuh dosa—tidak bisa lagi menyangkal satu hal:
Ia merindukan perempuan itu.
Dan rindunya kini bercampur dengan rasa bersalah yang tidak ia tahu bagaimana cara menebus.