Malam itu, kantor Sugar lebih sepi dari biasanya.
Di luar, kota masih ramai, lampu-lampu jalan menyala, suara kendaraan tidak pernah benar-benar berhenti.
Di dalam, hanya ada tiga orang: Sugar, Bram, dan seorang pria berkacamata yang bukan bagian langsung dari dunia mafia, tapi sudah lama menjadi “hantu” di balik layar: ahli data milik mereka.
Pria itu menjentikkan beberapa jari di atas keyboard, menampilkan beberapa dokumen di layar besar yang menghadap meja Sugar.
“Sesuai permintaan,” kata pria berkacamata itu pelan, “saya saring semua data rumah sakit di kota yang Anda sebut. Fokus pada: pasien perempuan asing, kisaran usia yang Anda berikan, dan catatan persalinan kembar dalam periode dua minggu setelah tanggal kedatangan pesawat yang Anda incar.”
Sugar mencondongkan tubuh.
Matanya menyipit, menunggu.
Di dalam dirinya, sesuatu terasa mengeras—campuran harapan dan takut.
“Awalnya ada banyak,” lanjut pria itu. “Tapi setelah saya cocokkan dengan kebijakan rumah sakit yang memang menerima pasien internasional, tersisa tiga rumah sakit. Dari tiga itu, hanya satu yang punya catatan kelahiran bayi kembar dari ibu asing Asia Tenggara yang masuk sebagai ‘turis’.”
Ia menekan satu tombol.
Layar berubah, menampilkan halaman data yang sebagian besar teksnya dalam bahasa Jepang, dengan beberapa kolom berbahasa Inggris.
Nama pasien di bagian atas tidak ditampilkan sepenuhnya—hanya inisial karena peraturan privasi.
Tapi ada beberapa hal yang bisa dibaca jelas:
Nationality: Indonesian.
Status: Tourist.
Type: Twin birth (Boy & Girl).
Father’s information: – (Not present / not registered).
Sugar mengepal tangan tanpa sadar.
Bram menahan napas.
“Ini,” kata pria berkacamata, menunjuk layar, “kemungkinan besar ibu dari anak kembar yang Anda cari.”
“Data namanya?” suara Sugar terdengar tenang, tapi Bram yang mengenalnya tahu, di balik tenang itu ada letupan.
“Karena kebijakan rumah sakit dan negara, saya tidak bisa menarik nama lengkap tanpa membangunkan terlalu banyak alarm,” jelas pria itu. “Tapi… saya bisa tarik sebagian.”
Ia memperbesar satu kolom kecil di bawah.
Patient ID: M–A R I – –
Name (Romanized): A R I N – – –
Bram mendekat.
“Arin?” gumamnya. “Airin.”
Sugar menutup mata sejenak.
Nama itu, meski hurufnya dipotong dan sebagian disamarkan, cukup untuk menghempaskan sisa keraguannya.
“Ini dia,” suaranya merendah. “Dia melahirkan di sana.”
Pria berkacamata menambahkan, “Tanggal persalinan cocok dengan waktu yang secara logika dibutuhkan dari kaburnya dia dari sini, plus perjalanan dan masa akhir kehamilan. Dan… ada satu hal lagi.”
Ia menggulir layar ke bawah, ke bagian yang mencatat data bayi.
Baby 1: Male – Family name: Sadewa – Given name: Yael
Baby 2: Female – Family name: Sadewa – Given name: Yuri
Sugar membeku.
Bram terpaku.
Nama “Sadewa” di sana terasa seperti tebasan pedang yang langsung menembus d**a Sugar.
“Dia…” suara Sugar nyaris tidak keluar. “Dia tetap pakai nama keluarga ‘Sadewa’.”
Pria berkacamata menambahkan, “Artinya, secara hukum di rumah sakit itu, anak-anak ini tercatat sebagai keturunan keluarga Sadewa. Tapi tidak ada data ayah yang terdaftar. Hanya ibu dan nama keluarga.”
Untuk pertama kalinya, Bram melihat sesuatu yang benar-benar lain di wajah Sugar:
Bukan hanya amarah, bukan hanya dingin, tapi semacam campuran lega dan sakit dalam satu waktu.
“Yael Sadewa… Yuri Sadewa…” Sugar mengulang pelan, seolah mengecap setiap huruf. “Dia benar-benar… menamai mereka begitu.”
Dalam kepalanya, selama ini anak-anak itu hanya konsep: “anakku”, “darahku”.
Sekarang, mereka punya nama.
Mereka bukan lagi sekadar kemungkinan di dunia asing, melainkan dua manusia kecil yang resmi tercatat.
“Bos,” Bram berhati-hati, “ini kabar bagus. Kita punya nama. Kita punya rumah sakit. Kita punya titik yang jelas.”
“Kabar bagus…” Sugar tertawa pelan, suaranya pecah tipis. “Ya. Kabar bagus karena sekarang aku tahu pasti bahwa di negara asing itu, ada dua bayi yang membawa nama keluargaku. Dan aku tidak ada di sana saat mereka lahir.”
Ia bersandar di kursi, menutup wajahnya dengan satu tangan.
Pria berkacamata itu merasa suasana berat, tapi tugasnya belum selesai.
“Ada satu hal lagi,” katanya pelan. “Saya cek juga data keluar-masuk rumah sakit. Ibu atas nama ini tidak lagi terdaftar sebagai pasien rawat inap. Artinya… dia sudah keluar. Tapi… dia tidak tercatat sebagai pasien yang kembali ke rumah sakit lain dengan nama sama.”
“Keluar ke mana?” Sugar menurunkan tangan, menatap tajam.
“Itu…” pria itu menghela napas. “Di luar jangkauan sistem yang bisa saya jangkau tanpa membuat keributan. Bisa ke penginapan lain, bisa ke alamat sementara, bisa ke apartemen sewa. Negara itu punya sistem ketat soal alamat, dan saya tidak bisa menyentuh semuanya tanpa risiko tinggi.”
“Cukup,” potong Sugar. “Kamu sudah bawa aku ke pintu. Setelah ini, aku yang dobrak sendiri.”
Pria berkacamata mengangguk, sedikit lega.
Ia merapikan berkas elektroniknya, lalu pamit keluar, meninggalkan Sugar dan Bram dalam ruangan yang mendadak terasa lebih sempit.
Beberapa menit, tidak ada yang bicara.
Sugar hanya menatap layar yang masih menampilkan dua baris nama:
Yael Sadewa.
Yuri Sadewa.
“Kemungkinan besar,” Bram memecah sunyi, “wajah mereka sudah berubah sedikit sekarang. Bayi cepat sekali berkembang. Kalau kita mulai gerak sekarang, kita mungkin masih bisa…”
“Bram,” potong Sugar, suaranya pelan tapi dalam, “kalau suatu hari kamu bertemu anak laki-lakiku… dan dia mirip aku… apa yang pertama kali akan kamu lihat di wajahnya?”
Pertanyaan itu aneh, tapi Bram menjawab jujur.
“Wajahmu, Bos,” katanya. “Tapi tanpa semua luka.”
“Tanpa semua luka…” Sugar mengulang, tampak tersayat oleh kata-kata itu. “Ya. Itu yang paling menyakitkan.”
Bram mengerutkan alis.
“Kenapa menyakitkan?”
“Karena,” jawab Sugar, menatap lurus, “setiap kali aku lihat dia nanti—kalau aku bisa melihatnya—aku akan diingatkan pada versi diriku yang bisa saja hidup tanpa semua ini. Tanpa Erlangga, tanpa rumah lama, tanpa sabu, tanpa darah.”
“Versi ‘Sadewa’?” Bram menebak.
Sugar tidak menjawab.
Ia hanya menoleh ke jendela, menatap bayangan dirinya.
“Kalau Airin menamai mereka dengan nama keluarga Sadewa,” lanjutnya pelan, “berarti dia… belum mau mencabut aku sepenuhnya dari hidup mereka. Meski dia lari. Meski dia benci. Dia masih mengakui bahwa mereka adalah darahku.”
Bram mengangguk pelan. “Itu artinya ada bagian kecil dari dirinya yang… masih mengakui keberadaanmu sebagai ayah.”
“Sakitnya di situ,” Sugar tertawa hambar. “Dia mengakui aku sebagai ayah di atas kertas, tapi dia tidak mau aku ada secara fisik di hidup mereka.”
Ruangan kembali hening.
Pelan-pelan, Sugar memutar kursinya, kembali menghadap Bram.
“Kita akan ke kota itu,” katanya akhirnya. “Bukan hanya kirim anak buah. Aku sendiri yang akan pergi.”
Bram sedikit terkejut. “Bos mau turun tangan langsung?”
“Selama ini aku bersembunyi di balik nama, uang, dan anak buah,” jawab Sugar. “Sekarang, yang kucari bukan narkoba yang hilang, bukan bandar yang kabur. Yang kucari adalah perempuan yang kucintai tapi kubuat trauma, dan dua anak yang bahkan belum pernah kupeluk.
Kalau aku masih sembunyikan diriku di balik orang lain… lalu apa bedanya aku dengan pengecut?”
Bram menatap bosnya lama.
Ada perubahan yang jelas:
Obsesi yang tadinya hanya marah dan sakit hati, sekarang bercampur dengan sesuatu yang ia enggan sebut, tapi tidak bisa ia ingkari: cinta yang terlambat disadari.
“Itu berbahaya,” kata Bram akhirnya. “Kalau kamu muncul langsung di negara seperti itu, kita tidak punya ‘rumah aman’ yang kuat. Kalau musuh lama mencium gerakanmu, kamu bukan cuma cari Airin—kamu bisa jadi target.”
Sugar mengangguk pelan.
“Aku tahu. Tapi aku juga tahu satu hal,” ia menatap lurus ke Bram, “kalau aku tidak memandang mata anak-anakku sendiri minimal sekali dalam hidup, semua yang kulakukan selama ini… benar-benar tidak ada artinya.
Aku sudah berdarah-darah untuk dunia yang bahkan tidak bisa memberiku momen itu.”
Bram terdiam.
Tidak ada argumen yang bisa ia ajukan melawan kalimat itu.
“Baik,” ia akhirnya berkata. “Kalau kamu pergi, aku ikut.”
Sugar mendengus ringan. “Aku tidak menyangka kamu akan biarkanku jalan sendiri.”
Bram mengangkat bahu tipis. “Kamu bosku. Tapi… aneh rasanya membayangkan kau jalan sendiri di negeri asing, cari istrimu seperti lelaki biasa.”
Sugar menatap sekali lagi nama di layar.
Yael Sadewa.
Yuri Sadewa.
Dalam hatinya, ia berbisik tanpa suara:
“Tunggu. Entah kalian nanti benci atau tidak… aku ingin kalian lihat sendiri bahwa aku benar-benar datang. Bukan hanya sebagai Sugar, tapi setidaknya… sebagai seseorang yang mencoba jadi ayah, walau terlambat.”
Dan di suatu tempat di kota asing, Airin menggendong Yuri Sadewa sambil menidurkan Yael Sadewa di boks kecil, tidak tahu bahwa di seberang laut, pria yang dulu hanya ia kenal sebagai Sugar kini perlahan-lahan—meski keras kepala—dipaksa oleh rasa kehilangan untuk mengakui satu hal:
Ia tidak hanya marah ditinggalkan.
Ia ternyata… juga sangat mencintai perempuan yang pergi itu.