Langit sore memudar menjadi kelabu saat Aira duduk diam di ranjang asramanya. Jantungnya masih berdegup keras, pikirannya kacau. Bayangan panjang yang berdiri di halaman bawah terus menghantui benaknya. Ia tak tahu apakah ia sedang kehilangan akal sehat, atau memang rumah sakit ini memiliki sesuatu yang tidak bisa dijelaskan oleh logika manusia.
Telepon genggamnya tergeletak di samping bantal, tak pernah berbunyi. Ia ingin sekali menghubungi ibunya, menceritakan semua hal aneh yang terjadi. Tapi tiap kali tangannya menyentuh layar, hatinya menolak. Ia tahu, tak akan ada yang percaya. Bahkan dirinya pun ragu apakah semua itu nyata atau hanya bagian dari mimpi buruk yang tak kunjung usai.
Saat senja mulai merambat dan bayangan malam menyelimuti kamar, terdengar ketukan pelan di pintu.
Tok. Tok.
Aira menoleh, kaget.
Tok.
“Aira?”
Suara laki-laki, lembut dan tak asing. Aira mendekat, membuka pintu perlahan.
Di depan pintu berdiri pria muda dengan jaket denim yang sedikit lusuh dan wajah ramah yang terlihat sedikit cemas. Matanya tajam, namun sorotnya hangat.
“Maaf kalau ganggu... aku Fahmi. Kamu Aira, kan?”
Aira mengangguk perlahan. “Iya... kamu siapa?”
Fahmi menyodorkan tangan. “Aku relawan IT, bantu di ruang rekam medis dan arsip. Aku pernah lihat kamu waktu kamu nanya soal ruang catatan pasien.”
Aira mengangguk lagi, perlahan-lahan rasa cemasnya mereda. “Masuk aja.”
Fahmi duduk di kursi kecil dekat meja belajar. Ia membuka tas selempangnya dan mengeluarkan beberapa lembar kertas fotokopi yang sudah menguning.
“Aku tahu kamu mungkin belum siap dengar ini, tapi... aku udah lama menyelidiki rumah sakit ini. Bukan cuma kamu yang ngerasain hal-hal aneh.”
Aira terdiam. Akhirnya, seseorang yang mengerti.
Fahmi melanjutkan, suaranya nyaris berbisik. “Dulu rumah sakit ini punya proyek rahasia. Namanya Protokol ECHO. Eksperimen bawah tanah untuk menghubungkan kesadaran pasien koma dengan alam bawah sadar. Tapi semua itu dihentikan. Setidaknya, secara resmi. Tapi menurut catatan yang aku temukan... eksperimen itu nggak pernah benar-benar berhenti.”
Aira bergidik. “ECHO... kamu tahu tentang ECHO-07?”
Fahmi mengangguk cepat. “Itu salah satu eksperimen aktif terakhir. Pasiennya nggak pernah tercatat di sistem. Tapi laporan kematiannya... aneh. Ada tujuh pasien dengan kode ECHO. Yang ketujuh—entah kenapa—selalu dikaitkan dengan ‘penghubung’.”
“Penghubung?”
“Ya. Seseorang yang bisa masuk ke ruang antara hidup dan mati, dan... membuka jalan bagi entitas lain.”
Aira menahan napas. Ingatannya terputar kembali ke suara-suara, ke bangsal anak, ke gambar di bantal.
“Maksud kamu... aku?”
Fahmi menatapnya dalam-dalam. “Kamu mulai lihat mereka kan? Dengar suara-suara? Dan... ada luka atau rasa dingin di badanmu yang nggak bisa dijelaskan?”
Aira mengangguk perlahan. Ia merasa seperti diseret ke dalam pusaran kenyataan baru.
Fahmi menarik napas dalam. “Kita harus ke ruang bawah tanah. Tempat eksperimen itu dilakukan. Tapi nggak bisa sembarangan. Malam ini, jam dua pagi. Semua pengawas shift malam tidur. Aku tahu jalannya lewat lorong steril.”
“Lorong steril?”
“Lorong lama di balik ruang bedah. Sudah ditutup, tapi akses pintunya masih ada. Kita harus cepat, karena mereka... sudah mulai memperhatikanmu.”
Aira menatap Fahmi lama. Meskipun baru pertama kali bicara langsung, ada sesuatu dalam diri Fahmi yang membuatnya percaya. Mungkin karena keputusasaan. Atau karena akhirnya ia tidak sendiri.
“Baik. Jam dua pagi.”
Fahmi tersenyum tipis. “Persiapkan dirimu. Bawa senter, dan jangan lupa... jangan bicara apa pun kalau kamu dengar suara memanggil namamu.”
Aira mengangguk. Dan malam pun kembali menelan dunia dalam keheningan. Tapi kali ini, Aira tahu—ini belum berakhir. Ini baru permulaan.
Ketika malam mencapai puncaknya, Aira mengenakan jaket dan membawa senter kecil. Ia melangkah keluar asrama pelan-pelan, memastikan tak seorang pun melihatnya. Suasana rumah sakit sangat lengang, lebih sepi dari malam-malam sebelumnya. Lampu lorong hanya menyala sebagian, memberikan kesan remang yang memeluk setiap sudut dengan bayangan gelap.
Fahmi sudah menunggunya di ujung lorong steril. Ia membuka pintu kecil tersembunyi di balik rak linen. Tangga sempit menurun ke bawah tanah terbuka di hadapan mereka. Bau lembap dan besi tua segera menyergap hidung.
“Turun pelan-pelan. Tangga ini sudah rapuh,” bisik Fahmi.
Langkah mereka menggema di dalam lorong bawah tanah yang dingin dan gelap. Dindingnya terbuat dari batu bata kuno, berlumut, dan basah. Sesekali, terdengar tetesan air jatuh ke genangan tak terlihat.
Di sepanjang lorong, Aira sempat melihat papan nama yang sudah hampir terhapus. Salah satunya bertuliskan: **Uji Klinis Subjek Non-Identitas**. Nafasnya tercekat. Ada rasa sesak, seolah udara menjadi semakin tipis. Bahkan Fahmi pun terdiam sejenak, menyalakan kembali senternya yang mulai meredup.
“Kalau kamu merasa seperti ada yang menyentuh, jangan berhenti jalan,” katanya pelan. “Beberapa lorong ini punya... residu.”
“Residu?” bisik Aira.
“Jejak energi dari percobaan gagal. Kadang mereka hanya diam, kadang ikut jalan di belakangmu.”
Aira merinding. Tapi ia terus melangkah.
Di ujung lorong, mereka menemukan pintu baja berkarat bertuliskan: **RUANG EKS-PROTOKOL ECHO**.
Fahmi menggeser pintu itu dengan tenaga penuh. Bunyi gesekannya melengking seperti teriakan dari masa lalu. Di dalam ruangan, lusinan tempat tidur berderet. Semua kosong. Tapi dinding-dindingnya penuh coretan tangan, simbol aneh, dan catatan dalam bahasa medis yang dicoret-coret.
Aira berjalan ke salah satu meja kerja, membaca dokumen bersampul merah.
> "Subjek 07 menunjukkan tanda stabilisasi di antara dua alam. Dapat berinteraksi dengan entitas. Tapi belum bisa dikendalikan. Status: tidak diketahui.”
Tiba-tiba, lampu senter Aira berkedip. Udara mendadak menjadi dingin. Dari balik lorong yang gelap, terdengar langkah kaki. Bukan hanya satu, tapi banyak. Dan bunyi roda logam yang berputar perlahan.
Fahmi menarik tangan Aira. “Sembunyi!”
Mereka berdua berjongkok di balik meja besi. Suara-suara itu semakin dekat. Dalam temaram, terlihat sosok-sosok berpakaian pasien rumah sakit berjalan perlahan tanpa mata, tanpa wajah. Di antara mereka, sosok tinggi dengan jas dokter berdiri diam, menatap langsung ke arah mereka—meskipun ia tak punya mata.
Aira menahan napas. Sosok itu mengangkat tangannya dan menunjuk ke arah tempat mereka bersembunyi. Namun anehnya, ia tidak bergerak maju. Ia hanya menghilang perlahan, seolah menyatu dengan dinding.
Ketika semua kembali sunyi, Fahmi dan Aira keluar dari persembunyian.
“Kita harus pergi dari sini,” bisik Fahmi. “Sekarang juga.”
Namun sebelum mereka sempat berbalik, dinding di belakang mereka bergerak. Ternyata itu bukan dinding, melainkan pintu geser yang terbuka perlahan, memperlihatkan ruangan kecil berisi satu tempat tidur dan monitor yang masih menyala. Di atasnya, ada sebuah tabung kaca besar—dan di dalamnya, seorang perempuan dengan wajah sangat mirip Aira tertidur dalam cairan kental.
Aira mundur. Napasnya tercekat.
“Itu... aku?”
Fahmi menatap layar monitor yang berkedip. Tercetak di sana: **ECHO-07: AIRA MULYANI**.
--- Tamat Bab 8 ---