Malam telah berganti pagi, namun kesan kelam tidak pernah benar-benar meninggalkan Rumah Sakit Mulya Sejahtera. Kabut masih menggantung rendah, seakan menolak untuk dibubarkan oleh sinar matahari yang bahkan enggan menembus jendela-jendela berkabut.
Aira terbangun lebih awal dari biasanya. Ia belum memejamkan mata semalaman. Map catatan tua itu masih tergeletak di atas meja belajarnya, terbuka pada halaman yang ia baca berulang kali. Matanya sayu sembab dan wajahnya lebih pucat dari sebelumnya. Segalanya terasa tidak nyata, seperti hidupnya sudah masuk ke dunia lain sejak bertemu Ibu Nani kemarin.
Di luar kamar, suara langkah kaki perawat-perawat lain terdengar seperti gema. Aira bangkit, menyeka wajahnya, dan merapikan seragam putihnya. Ia belum siap menghadapi hari itu, tapi sesuatu di dalam dirinya mendorongnya untuk melanjutkan.
Selama perjalanan menuju ruang bangsal, Aira merasa hawa di koridor lebih dingin dari biasanya. Lampu-lampu langit-langit berkedip perlahan. Sesekali, suara-suara samar muncul dari arah yang tidak jelas: suara kursi roda berderit, tangisan pelan, atau bunyi ketukan seperti kuku di cakar ke dinding. Aira berusaha mengabaikannya, namun semua terasa lebih nyata hari itu.
Ia ditugaskan di bangsal anak anak , menggantikan perawat utama yang mendadak izin sakit. Bangsal itu terletak di sisi paling barat rumah sakit, dekat dengan taman yang tidak pernah dirawat lagi. Tempat itu dikenal lebih sepi dan memiliki reputasi sebagai ‘bangsal yang tidak ramai pasien’.
Begitu memasuki ruangan, Aira langsung merasakan sesuatu yang tidak beres. Lampu ruangan padam dan hanya disinari cahaya redup dari luar jendela. Hawa dingin menyengat seperti ditiupkan langsung dari dinding-dindingnya.
Ada lima tempat tidur dalam bangsal itu, tapi hanya satu yang terisi. Di ranjang nomor tiga, seorang anak laki-laki sekitar sepuluh tahun berbaring diam. Kulitnya pucat, matanya terbuka menatap langit-langit, tapi tidak berkedip. Namanya tertera di papan kecil di depan tempat tidur: **Dimas**.
Aira menghampiri perlahan, menyesuaikan dirinya dengan suasana yang sunyi. “Selamat pagi, Dimas,” sapanya lembut.
Anak itu tidak menjawab. Tapi perlahan, bola matanya bergerak menoleh ke Aira. Tidak ada senyum, tidak ada emosi di wajahnya. Hanya tatapan kosong yang seperti menembus ke balik tubuh.
Aira menggigit bibirnya. Ia duduk di kursi kecil di sisi ranjang.
“Kamu sendirian di sini?” tanyanya lagi.
Dimas hanya mengangguk sekali. Masih tanpa kata-kata.
Aira menarik napas dalam-dalam. Ada sesuatu dalam ruangan itu yang membuat bulu kuduknya berdiri. Ia merasakan seolah ada tatapan lain dari balik tirai kosong yang memisahkan ranjang-ranjang lain.
Tiba-tiba, suara tawa anak kecil terdengar dari sudut ruangan. Suara itu ringan, seperti candaan polos, tapi menggema dengan nuansa yang tidak menyenangkan. Aira menoleh cepat ke arah suara, namun tidak ada siapa pun di sana. Tirai-tirai tempat tidur lainnya diam dan tidak ada tanda kehidupan.
“Ada pasien lain di sini?” tanya Aira spontan.
Dimas, untuk pertama kalinya, berbicara. Suaranya pelan dan datar.
“Dulu ada. Tapi mereka tidak suka dokter di sini.”
Aira terdiam. “Siapa mereka?”
Dimas tidak menjawab. Ia menatap langit-langit lagi.
Aira berdiri perlahan dan menyusuri bangsal. Ia membuka satu per satu tirai. Semua tempat tidur kosong. Tapi di tempat tidur terakhir, tirai digulung setengah dan seprei putihnya penuh bercak merah samar, seperti noda lama. Aira menyentuh kainnya—dingin dan lembap. Saat ia menarik tangannya, bau anyir menyusup ke hidungnya.
Terdengar suara Langkah kaki dari luar membuatnya menoleh. Suster Sumi muncul di ambang pintu, tersenyum tanpa memperlihatkan gigi.
“Bagaimana bangsalnya?” tanyanya.
“Sepi, Sus... hanya satu pasien,” jawab Aira cepat sambil menahan rasa tidak nyaman.
Suster Sumi menatap ke arah Dimas sejenak, lalu mengangguk kecil. “Kalau ada yang aneh, jangan ditanggapi. Mereka suka diperhatikan.”
“Mereka?”
Suster Sumi tidak menjawab, hanya melirik singkat dan melangkah pergi seperti bayangan yang menghilang.
Hari itu berjalan sangat lambat. Aira merasa seperti waktu berhenti di bangsal itu. Bahkan jam dinding tampak tak bergerak selama beberapa menit. Ia terus mencoba berbicara dengan Dimas, tapi bocah itu kembali diam.
Menjelang sore, Aira memutuskan ke ruang gizi untuk mengambil makanan bagi pasien. Lalu Ia berjalan cepat melewati koridor belakang. Di lorong itu, ia merasa langkahnya menggema terdengar dua kali. Seperti ada yang mengikutinya ,lalu Ia mencoba berhenti dan Suara itu berhenti. Ia melanjutkan dan Suara itu terdengar lagi.
Saat menoleh, lorong kosong. Tapi di cermin kecil di dinding, ia melihat bayangan lain berdiri di belakangnya. Ketika ia berbalik, tak ada siapa pun.
Napas Aira memburu. Ia berlari ke ruang gizi, mengambil makanan, dan kembali ke bangsal. Namun saat membuka pintu, tempat tidur Dimas kosong. Seprei rapi. Tidak ada tanda-tanda anak itu pernah ada di sana.
Aira panik, ia mencari ke seluruh ruangan. Tak ada Dimas, tak ada suara. Tapi di bantal, ada gambar yang digambar dengan krayon merah. Bentuk wajah perempuan, dengan mata hitam besar dan mulut robek dari telinga ke telinga. Di bawahnya tertulis:
**“Mereka sudah datang.”**
Aira terduduk di lantai. Kepalanya pening, dunia berputar. Saat ia menutup mata sejenak, suara napas berat terdengar dari belakang tirai tempat tidur paling ujung.
Ia menahan napas, berdiri perlahan, dan mendekati tirai itu. Tangannya terulur.
Saat tirai disibakkan—
Kosong. Tapi udara di sana lebih dingin, lebih berat. Di dinding, ada coretan samar:
**“ECHO-07 akan membawamu.”**
Aira mundur perlahan, lalu berlari keluar bangsal tanpa menoleh.
Saat melewati lorong kembali menuju asrama, Aira merasa langkahnya seperti diseret. Cahaya dari lampu langit-langit mulai berkedip liar, satu per satu padam saat ia melewati. Setiap langkah menjadi lebih berat, seolah gravitasi di lorong itu meningkat.
Ketika ia hampir mencapai tangga, ia melihat sesosok bayangan berdiri di ujung koridor. Sosok itu sangat tinggi, mengenakan jas dokter yang lusuh dan wajahnya diselimuti kabut. Meski tak terlihat jelas, Aira tahu sosok itu sedang memperhatikannya. Ia hanya berdiri diam, tapi auranya menusuk seperti pisau dingin.
Aira menutup matanya sejenak dan berlari melewatinya, berharap itu hanya halusinasi. Tapi saat ia melewati titik tempat sosok itu berdiri, hawa tubuhnya seperti melewati ruang kosong tanpa udara. Jantungnya berdegup keras, dan ia hampir tersandung ketika mencapai tangga.
Di kamar, Aira mengunci pintu dan merapatkan gorden. Tapi dari balik celah tirai, ia melihat bayangan panjang berdiri diam di halaman bawah.
--- Tamat Bab 7 ---