Tubuh Aira membeku di tempatnya. Tatapannya tak lepas dari tabung kaca besar yang memuat sosok dirinya sendiri—tertutup cairan kental kehijauan, terhubung dengan berbagai kabel dan alat pemantau detak jantung yang terus berkedip lambat. Di layar monitor, angka-angka dan grafik bergerak seperti pasien yang masih hidup.
“Apa maksud semua ini?” bisik Aira, suaranya nyaris tak terdengar.
Fahmi perlahan mendekati tabung itu, menatap wajah Aira yang lain dengan ekspresi ngeri. “Ini... ini bukan kloning. Ini kamu. Yang sebenarnya. Atau... sebagian darimu yang tertinggal di sini.”
Aira menggeleng cepat, mundur beberapa langkah. “Enggak... aku hidup! Aku sadar, aku ada! Kalau itu aku... lalu aku yang ini apa?”
Suasana ruangan mendadak terasa lebih berat. Bunyi detak dari mesin pemantau berubah ritmenya, menjadi lebih cepat. Di luar ruangan, suara langkah-langkah berat terdengar mendekat. Fahmi langsung menarik tangan Aira.
“Kita harus keluar sekarang! Ada sesuatu yang datang!”
Mereka berlari meninggalkan ruangan, menyusuri lorong-lorong bawah tanah dengan napas memburu. Lorong tampak lebih gelap dari sebelumnya, dan suara langkah seakan membuntuti mereka dari segala arah. Ketika mereka tiba kembali di tangga sempit, Fahmi cepat-cepat mendorong Aira naik lebih dulu.
Begitu pintu tersembunyi di balik rak linen tertutup kembali, mereka berdua terjatuh di lantai ruang penyimpanan linen. Peluh membasahi wajah Aira, jantungnya nyaris meledak. Tapi mereka selamat. Untuk sementara.
Mereka kembali ke kamar asrama Fahmi yang terletak di lantai teknisi. Ruangan itu kecil dan sempit, namun penuh dengan peralatan komputer, kabel berserakan, serta tumpukan dokumen medis yang tidak biasa. Di dinding, ada peta rumah sakit yang ditandai dengan spidol merah di beberapa titik, terutama di area yang tidak terlihat dalam cetak biru resmi.
Fahmi menyalakan laptop tuanya, kemudian menyambungkan harddisk eksternal. Ia menoleh ke arah Aira yang masih terduduk diam di kursi, tubuhnya gemetar.
“Aku udah backup sebagian besar data dari sistem rumah sakit, termasuk file-file yang dihapus. Tapi beberapa file penting terkunci dengan enkripsi lama yang biasanya dipakai militer atau proyek rahasia.”
Aira menarik napas dalam, mencoba menenangkan dirinya. “Kalau itu aku yang sebenarnya... kenapa aku bisa ada di sini? Kenapa aku bisa hidup seperti biasa?”
“Karena kamu... bagian dari eksperimen. Kayaknya kesadaran kamu disalin. Atau mungkin, mereka mencoba menghubungkan antara tubuhmu yang tertidur dan sesuatu di luar dimensi ini.”
Aira menatap layar monitor yang menampilkan file dengan nama **SUBJEK_ECHO07_LOG**.
Fahmi mencoba membukanya, namun sistem meminta sandi akses.
“Coba nama direktur lama,” kata Fahmi sambil mengetik **drharlan1973**.
File terbuka.
Isi file itu berupa jurnal catatan harian. Sebagian teks terbaca jelas:
> *Hari ke-92: Subjek menunjukkan kemampuan melihat makhluk entitas non-biologis yang tidak terekam oleh alat medis biasa. Saat disimulasikan trauma, kesadaran subjek berpindah ke ‘ruang transisi’.*
> *Hari ke-107: Subjek mengalami gangguan identitas. Menolak kenyataan eksperimen dan mencoba menyerang tim medis. Diberi sedatif. Efeknya justru memperkuat koneksi dengan ruang antara.*
> *Hari ke-130: Subjek menyebutkan nama-nama staf yang sudah meninggal sejak 1998. Salah satunya adalah Suster Sumi.*
Aira menatap Fahmi dengan mata membesar. “Suster Sumi... dia masih ada sekarang.”
Fahmi membalik layar ke arahnya. “Mungkin bukan ‘masih ada’. Tapi dia yang kamu lihat... bukan manusia.”
Mereka terdiam lama.
“Jadi maksudmu... sebagian rumah sakit ini bukan bagian dari dunia nyata?”
“Bisa jadi. Atau kita yang udah masuk terlalu dalam ke dalam sistem rumah sakit ini. Aku gak tahu pasti.”
Tiba-tiba terdengar suara ketukan dari luar kamar Fahmi. Tiga ketukan. Lalu hening.
Aira dan Fahmi saling pandang. Tak ada yang bergerak.
Kemudian ketukan itu terdengar lagi. Kali ini lebih keras. Disusul suara wanita memanggil dari luar:
“Aira... Fahmi... kalian di dalam, kan?”
Itu suara Suster Sumi.
Fahmi memberi isyarat untuk diam. Lampu kamar dipadamkan. Dari bawah pintu, cahaya lorong berpendar samar. Bayangan kaki berdiri di sana. Lalu... suara helaan napas berat. Pintu tidak dibuka, namun ada suara kuku menggores pelan.
Kemudian... sunyi.
Setelah beberapa menit, mereka berani bernapas kembali. Fahmi segera mematikan laptop dan membuka rak di belakang lemari. Ia menarik selembar cetak biru bangunan.
“Aku tahu satu tempat yang bisa kita tuju. Ruang arsip yang tidak terdaftar. Letaknya di bawah ruang rekam medis lama, terhubung lewat lift barang yang sudah mati. Tapi kita bisa akses lewat tangga darurat belakang dapur.”
“Di sana ada apa?”
“Ada semua berkas asli eksperimen. Nama-nama staf. Pasien. Subjek. Kalau kita bisa menemukan identitas semua yang terlibat... kita bisa tahu siapa yang masih hidup dan siapa yang... bukan.”
Aira menatap cetak biru itu. “Kalau ini satu-satunya cara, kita harus ke sana malam ini.”
Fahmi mengangguk. “Sekarang kita nggak cuma menyelamatkan kamu. Tapi semua orang yang pernah jadi korban.”
Mereka mempersiapkan diri. Aira mengenakan jaket hitamnya kembali, menyelipkan senter kecil ke dalam saku. Fahmi membawa alat perekam suara dan satu lembar catatan sandi yang ia temukan dari sistem lama. Mereka menunggu waktu yang tepat—jam dua dini hari—saat semua perawat dan penjaga tertidur di ruang istirahat.
Perjalanan menuju tangga darurat belakang dapur tidak mudah. Mereka harus melewati lorong penyimpanan makanan dan ruang pemotongan daging yang kini terbengkalai. Dindingnya ditumbuhi jamur, dan ada bau busuk seperti bangkai tua yang tak pernah ditemukan.
Tangga menuju bawah tanah berderit setiap kali diinjak. Di bawah, udara menjadi lebih dingin, hampir seperti masuk ke ruangan lemari es. Setiap napas menghasilkan uap tipis. Mereka menyalakan senter dan berjalan perlahan.
Lorong menuju ruang arsip terlihat seperti lorong biasa, namun dindingnya penuh bekas goresan kuku dan tulisan aneh dalam huruf yang tidak dikenali. Ketika mereka mencapai pintu logam yang tertutup rapat, Fahmi menggunakan obeng untuk membuka panel kecil di sampingnya, lalu menyambungkan dua kabel.
“Berdoa ini masih menyala,” gumamnya.
Pintu berderit pelan. Di dalamnya, mereka menemukan ratusan berkas kertas, rekaman mikrofilm, dan kaset VHS. Debu memenuhi rak-rak yang tinggi, dan langit-langitnya bocor.
Di tengah ruangan ada meja kerja besar dengan foto-foto para pasien dan staf rumah sakit dari tahun 1990 hingga 2010. Salah satu foto membuat Aira terpaku.
Itu dirinya. Tapi dengan pakaian rumah sakit. Di bawahnya tertulis: **Subjek ECHO-07 – Status: Tidak Stabil**.
Aira terdiam, matanya berkaca-kaca. “Aku... benar-benar bagian dari ini semua.”
Fahmi memegang bahunya. “Kita akan bongkar semuanya. Kebenaran akan keluar.”
Di pojok ruangan, sebuah lemari besi tampak terkunci. Fahmi membuka salah satu laci dan menemukan sebuah kaset mini DV dengan label: **Rekaman Evaluasi Subjek ECHO-07**.
Aira mengangguk, wajahnya mantap. “Putar sekarang.”
Fahmi mengambil kamera mini DV tua yang ia simpan di dalam tas. Ia memasukkan kaset itu dan menyalakan layar kecilnya. Gambar mulai muncul—buram dan hitam putih.
Rekaman menunjukkan Aira yang terbaring di ranjang rumah sakit, tubuhnya diikat dengan sabuk kulit. Beberapa dokter dan perawat berdiri mengelilinginya. Di sudut ruangan, tampak sosok Dokter Lazuardi—masih muda, namun dengan tatapan dingin yang sama.
Dalam rekaman itu, Aira menggeliat, berteriak-teriak dalam bahasa yang tak dikenali. Matanya mendelik putih, dan seluruh tubuhnya kejang. Monitor di samping tempat tidur menunjukkan denyut jantung yang tak stabil.
Salah satu perawat berseru, “Subjek mengalami resonansi. Dimensi paralel aktif!”
Dokter Lazuardi menulis sesuatu di clipboard-nya, lalu mendekat ke arah Aira.
“Subjek ECHO-07 menunjukkan peningkatan kontak dengan entitas lapis keempat. Protokol ECHO dapat dilanjutkan ke tahap integrasi.”
Tiba-tiba, layar monitor berkedip. Sosok Aira dalam rekaman menoleh langsung ke kamera dan tersenyum—senyum yang sangat mirip dengan Aira yang menonton sekarang.
Aira menjatuhkan kamera dari tangannya, tubuhnya gemetar hebat.
“Itu bukan aku...” bisiknya.
Fahmi menunduk memungut kamera, lalu menatap Aira. “Kamu masih punya pilihan, Aira. Kamu yang ini... bukan bagian dari eksperimen itu. Kita bisa hentikan ini semua.”
Aira memejamkan mata. “Kita harus cari cara keluar dari sini. Atau membakar semuanya.”
Fahmi menatap rak-rak penuh dokumen. “Atau kita sebarkan semua ini ke luar.”
Lampu ruang arsip tiba-tiba berkedip. Dari lorong, suara langkah kaki kembali terdengar—berat, menyeret. Kali ini... mereka tidak sendiri.