Jam menandakan Pukul 07.00 Pagi , dengan suasana langit yang kelabu dan embun yang masih menggantung di daun-daun pepohonan sekitar rumah sakit.kita diperlihatkan Aira terbangun di atas ranjang asrama, masih mengenakan pakaian perawatnya yang sudah kusut dan penuh lipatan. Tubuhnya terasa berat, seperti baru saja berlari jauh dalam tidurnya , Tapi ia tidak bisa mengingat mimpinya secara utuh, hanya potongan-potongan samar: lorong gelap, pintu logam, dan suara-suara berbisik dari dinding.
Di bawah matanya ada lingkaran gelap, wajahnya pucat dan rambutnya kusut. Ia bangkit perlahan, menatap ke luar jendela. Kabut tipis menyelimuti taman belakang rumah sakit. Di balik kabut itu, bayangan seseorang berdiri diam, tapi saat Aira mengedipkan mata, bayangan itu lenyap begitu saja.
Ia mengambil nafas panjang, mencoba menenangkan dirinya. “Aku harus kembali normal,” gumamnya. “Aku harus tetap waras.”
Hari itu, Aira dijadwalkan membantu di bagian logistik medis, bagian yang jarang ia sentuh.lalu Ia berjalan menuju ruang penyimpanan barang-barang rumah sakit , yang terletak di gedung belakang di dekat ruang gizi. Tempat itu lebih tenang dari bangsal pada umumnya , tapi justru itulah yang membuatnya merasa semakin terasa asing.
Di antara tumpukan karton dan lemari besi ada sebuah penyimpanan alat-alat bekas, Aira mendapati seorang wanita tua sedang duduk di kursi rotan kecil. Wanita itu mengenakan seragam pudar dengan papan nama kusam bertuliskan **Ibu Nani**. Rambutnya digelung sederhana, dan wajahnya penuh keriput namun tampak hangat.
“Permisi, Bu... Apakah saya boleh mengambil stok masker dan alkohol medis di sini?” tanya Aira sopan.
Wanita itu mengangguk pelan. “Silakan, Nak. Laci ketiga dari kiri. Tapi hati-hati dengan yang di bawah... kadang ada yang bergerak sendiri.”
Aira berhenti sejenak, aku bergumam aku tidak yakin apakah itu lelucon atau peringatan. Ia menunduk dan tersenyum canggung.
Saat Aira mengambil barang-barang yang diperlukan, Ibu Nani memandangnya dengan sorot mata dalam, seolah sedang menimbang sesuatu.
“Kamu baru ya di sini?”
“Iya, Bu. Saya mahasiswa magang.”
“Namamu Aira?”
Aira menoleh, sedikit kaget. “Iya, Bu... bagaimana Ibu tahu?”
Ibu Nani tidak langsung menjawab. Ia menatap jendela kecil di sudut ruangan.
“Dulu... pernah ada perawat bernama Aira juga. Dia seperti kamu. Lembut, sopan, dan sering bertanya.”
Aira menelan ludah. “Apa... perawat itu masih di sini?”
Ibu Nani tersenyum tipis, namun sorot matanya kosong. “Mungkin iya... dalam cara yang tidak biasa.”
Detik itu juga, Aira merasa ruangan menjadi lebih dingin. Cahaya dari jendela tampak lebih redup, dan udara menjadi lembap. Suara kipas angin terdengar lebih pelan, hampir seperti bisikan.
“Bu... boleh saya tahu lebih banyak tentang Aira yang dulu itu?”
Ibu Nani mengangguk perlahan. “Tapi kamu harus janji, jangan cerita ini ke siapa pun. Tidak ke perawat, tidak ke dokter, apalagi ke Suster Sumi.”
Aira mengangguk cepat. “Saya janji.”
Wanita tua itu berdiri perlahan, mengambil sebuah map tua dari rak yang nyaris lapuk di sudut ruangan. Ia menyerahkannya pada Aira dengan tangan bergetar.
“Ini... catatan yang pernah dia tinggalkan. Aku simpan diam-diam. Waktu itu, semua barang miliknya mau dibakar. Tapi aku tahu... suatu saat seseorang akan datang mencarinya.”
Aira membuka map itu. Di dalamnya terdapat beberapa lembar kertas usang dengan tulisan tangan yang khas. Tinta sudah mulai pudar, namun masih bisa terbaca. Halaman pertama bertuliskan:
**"Catatan Harian Aira D. Hari ke-6 di Rumah Sakit Mulya Sejahtera"**
Dalam catatan itu, Aira membaca curahan hati seorang gadis muda yang penuh rasa takut namun tetap ingin bertahan. Ia menulis tentang suara-suara aneh di malam hari, tentang ruangan yang tidak pernah tercantum di denah, dan tentang perasaan bahwa dirinya sedang diamati oleh 'sesuatu'.
Catatan itu juga menyebut satu hal yang membuat jantung Aira nyaris berhenti:
*“Aku melihat seseorang di ruang ECHO. Dia mengenakan baju seperti milikku. Tapi ketika aku mendekat, dia tersenyum dengan wajah kosong. Dia... adalah aku.”*
Aira menutup map itu perlahan, tubuhnya mulai bergetar.
“Bu... perawat Aira itu... apa yang terjadi padanya?”
Ibu Nani memejamkan mata sejenak, seperti mencoba mengingat.
“Suatu hari, dia tidak muncul untuk dinas pagi. Semua barangnya sudah tidak ada. Catatannya disita. Dokter Lazuardi bilang dia dipindahkan. Tapi aku tahu, dia tidak pernah pergi dari rumah sakit ini.”
“Kenapa Ibu bilang begitu?”
Ibu Nani membuka matanya dan menatap Aira dengan tajam.
“Karena kadang aku masih mendengar langkah kakinya... suara napasnya. Bahkan kadang, aku melihat bayangannya di balik kaca. Tapi hanya orang tertentu yang bisa melihatnya.”
Aira menggigit bibir. Tangannya memegang map itu erat-erat.
“Bu... kenapa saya bisa melihatnya juga?”
Ibu Nani menggeleng pelan. “Mungkin karena kamu dipilih.”
“Dipilih?”
“Rumah sakit ini menyimpan banyak cerita. Tapi yang dipilih untuk mendengarnya... tidak bisa lari begitu saja.”
Aira merasa seluruh tubuhnya menggigil. Map itu seperti membakar telapak tangannya. Ia ingin pergi dari ruangan itu, tapi kakinya berat. Bahkan udara di ruangan itu mulai terasa semakin pekat, membuat setiap helaan napasnya terasa seperti melewati kabut.
“Bu... boleh saya simpan catatan ini?”
“Boleh. Tapi berhati-hatilah. Semakin kamu tahu, semakin dalam juga kamu masuk. Dan rumah sakit ini... tidak akan membiarkanmu pergi dengan mudah.”
Aira keluar dari ruang penyimpanan dengan langkah gontai. Ia kembali ke asrama sambil memeluk map tua itu yang di peluk erat-erat di d**a. Di sepanjang perjalanan, suara derit-derit aneh terdengar dari atas plafon, seolah ada sesuatu yang merayap perlahan mengikuti jejaknya. Ia menoleh, tapi lorong kosong. Tak ada siapa-siapa.
Di dalam kamarnya, ia mengunci pintu, menutup gorden, dan menyalakan lampu. Suara detak jam di dinding terdengar terlalu keras, seolah menghitung waktu yang berjalan mundur.
Ia membaca ulang catatan itu dari awal. Di halaman-halaman berikutnya, perawat Aira terdahulu mencatat nama-nama ruangan yang tidak pernah disebut dalam orientasi: **Ruang 17B**, **Koridor Bayangan**, **Ruang ECHO**, dan **Bangsal 0**. Setiap nama diiringi dengan peringatan—jangan masuk sendirian, jangan menatap cermin terlalu lama, dan jangan percaya pada semua dokter.
Aira menuliskan catatan tambahan di buku hariannya. Tangannya bergetar saat menulis:
*“Semua ini mulai masuk akal. Semua suara, semua bayangan... semua rasa deja vu. Tapi jika aku memang dipilih, aku harus tahu mengapa. Aku harus tahu siapa Aira yang lebih dulu. Dan yang terpenting, aku harus tahu... apakah aku ini nyata.”*
Saat malam kembali menyelimuti rumah sakit, Aira masih duduk di pojok kamar, map tua itu terbuka di pangkuannya. Di luar, angin meniup dedaunan dengan suara seperti bisikan yang menyebut namanya berulang-ulang. Jendela kamar berembun dari dalam, dan sesekali terlihat bayangan samar yang melintas cepat, terlalu cepat untuk sekadar pantulan pohon.
--- Tamat Bab 6 ---