Pukul 08.20 terlihat Langit mendung menggantung rendah di atas atap Rumah Sakit Mulya Sejahtera, saat Aira melangkah cepat ke ruang administrasi. Suasana hatinya gelisah sejak tadi malam. Bayangan cermin yang tak memantulkan dirinya, suara napas berat dari balik pintu tertutup, dan foto-foto perempuan dengan wajah yang menyerupainya membuat kepalanya seperti dihantam palu. Namun yang paling menghantui nya adalah kata-kata Farhan: "Ada yang sama tapi sebelum kamu, dia juga bernama Aira."
Siapa Aira yang dimaksud? Dan kenapa semua data tentang Dokter Lazuardi dikunci dengan sandi?
aku yakin ini pasti ada yang tidak beres.
Aira bejalan ke ruang administrasi, Di meja administrasi, komputer lama dengan layar CRT berkedip pelan. Suster Santi tidak ada di tempat, dan kesempatan itu digunakan Aira untuk menyusup masuk kembali ke sistem arsip. Jari-jarinya gemetar saat mengetik: **ECHO-07**. Kali ini, ia mencoba menebak kata sandi dari petunjuk-petunjuk yang ia lihat di ruangan Dokter Lazuardi. Ia mengingat ada tulisan samar di belakang map—*113ALIVE*.
lalu Ia mencobanya,...dan..
Sistem terbuka.
Folder ECHO-07 langsung menampilkan, sejumlah file PDF dan rekaman suara dengan label tanggal bertahun-tahun silam. Salah satu file berjudul: **Protokol Eksperimen Subjek AIRA-07**.
Dengan tangan dingin, Aira coba membukanya.
Layar menampilkan catatan medis: hasil pemindaian otak, kondisi mental, dan pengamatan perilaku dari seseorang bernama lengkap Aira N. Damayanti. Ia terpaku. Nama lengkapnya. Semua data cocok. Nomor induk mahasiswa, riwayat sekolah, hingga nama ibunya.
Namun tanggal dokumennya... bertahun-tahun sebelum ia lahir.
Tangan Aira mulai berkeringat dingin ,ia terus menggulir halaman demi halaman, hingga sampai pada kalimat yang membuatnya hampir pingsan..
*“Subjek menunjukkan gejala kejanggalan identitas temporal. Diduga mengalami siklus pengulangan ingatan berdasarkan paparan stimulasi ruang isolasi. Efek samping: kehilangan kesadaran realitas.”*
Di akhir dokumen, ada satu kata besar yang ditebalkan:
**STATUS: BELUM DIANGKAT DARI LOKASI**
---
Setelah beberapa menit Aira menggulir semua data dokumen,ia mendengar Langkah kaki dari ujung lorong membuyarkan fokusnya. Dengan cepat Aira menutup file dan keluar dari komputer. Ia kembali ke bangsal dengan langkah cepat, napas memburu. Tapi pikirannya tidak bisa tenang. Ia merasa seluruh keberadaannya kini seperti teka-teki yang diciptakan rumah sakit ini.
Ia mencari Farhan di gudang linen, tempat biasa mereka beristirahat diam-diam. Farhan ada di sana, duduk di lantai dengan punggung bersandar pada dinding, rokok menyala di ujung jari.
“Aku buka dokumen itu,” kata Aira tanpa basa-basi.
Farhan menoleh, sorot matanya berat. “Aku tahu kamu akan cari jalan untuk membukanya. Kamu harus keluar dari sini.”
“Aku tidak bisa. Nama lengkapku ada di situ. Semua data itu benar. Tapi tanggalnya... dua puluh tahun lalu.”
Farhan menghela napas panjang. “Rumah sakit ini bukan sekadar tempat. Ia hidup. Dan setiap beberapa tahun, ia memanggil seseorang dengan ‘frekuensi’ tertentu. Kamu... mungkin adalah pantulan dari seseorang sebelumnya.”
“Pantulan?”
“Seseorang yang pernah ada di sini. Atau mungkin... masih ada.”
Aira bergumam dalam hati “Pantulan?” Apa yang dia bicarakan?
Dengan ekspresi yang sangat kacau, Aira terus memikirkan perkataan Farhan tadi siang. Bahkan ketika kembali ke asramanya malam itu, kata-kata itu terus bergema di kepalanya. Ia membuka jurnal pribadinya, mencatat semuanya, termasuk isi file ECHO-07, seolah berusaha memastikan dirinya masih waras.
Namun saat menulis, lampu kamarnya sempat berkedip. Kaca jendela berembun dari dalam, dan untuk sepersekian detik, ia melihat pantulan dirinya di jendela... tersenyum, padahal ia sendiri tidak sedang tersenyum. Ia menjatuhkan pulpen. Nafasnya tercekat. Malam itu ia memutuskan untuk tidak tidur, hanya duduk di tepi ranjang dengan mata terbuka lebar, memeluk lutut dan menatap pintu kamar. Di luar kamar, ia bisa mendengar suara langkah kaki petugas malam. Tapi entah mengapa, suara itu terdengar seperti menyeret rantai.
---
Malam berikutnya, Aira kembali mengalami gangguan. Kali ini ia terbangun pukul tiga pagi di lorong rumah sakit yang gelap. Ia tidak tahu bagaimana bisa sampai ke sana. Sepatunya masih terpakai, bajunya masih seragam putih, dan di tangannya ada sebuah kunci tua berkarat.
Di dinding sampingnya, tulisan merah: **RUANG ECHO**.
Aira menelusuri lorong itu, kakinya berat seolah ada yang mengikat. Suara napasnya sendiri menggema, tapi ia merasa ada napas lain yang mengikuti. Saat ia sampai di sebuah pintu besi tua, kunci yang ia pegang tiba-tiba panas.
Ia memasukkannya ke lubang kunci.
Klik.
Pintu terbuka.
Ruang itu tidak besar. Hanya sekitar tiga meter persegi. Dindingnya dilapisi busa peredam suara, dan di tengah ruangan ada kursi logam dengan sabuk pengikat. Di sudut, monitor tua menyala menampilkan wajah... dirinya.
Tapi wajah itu tidak menatap lurus. Ia tertunduk, matanya merah darah. Di layar, ada catatan:
*“Subjek AIRA-07 menunjukkan penolakan terhadap realitas rekonstruksi. Pengawasan harus dilanjutkan.”*
Saat Aira hendak melangkah mundur, suara berderak terdengar dari balik dinding.
**“Aira... kamu belum selesai...”**
Dinding sebelah kiri terbuka. Di baliknya lorong lain muncul, lebih sempit, lebih gelap, dan terasa seperti berada di bawah tanah. Aroma tanah basah dan darah memenuhi udara. Aira ragu, tapi kakinya melangkah masuk.
---
Lorong itu menurun, membawa Aira pada bagian rumah sakit yang bahkan tidak tercantum di denah. Dindingnya rembes, dipenuhi jamur dan akar yang menjulur. Lampu-lampu neon menyala setengah mati, beberapa berpendar merah. Suara tetesan air yang jatuh dari langit-langit menjadi irama sunyi yang menegangkan.
Di salah satu sisi lorong, terdapat pintu-pintu logam kecil yang menyerupai loker mayat, namun ukurannya tidak lazim. Aira mendekat dan menyadari setiap pintu memiliki label nama—semuanya dengan nama perempuan. Ia membaca satu demi satu: Lestari, Widya, Aira...
Nama itu kembali muncul.
Di ujung lorong, Aira menemukan ruangan dengan pintu kaca buram. Di dalamnya ada meja logam panjang dan sejumlah tabung kaca. Di salah satu tabung, mengambang sosok wanita muda. Rambut panjang... wajah sangat mirip dengannya.
Tubuh Aira lunglai. Kepalanya berdenyut.
Ia mendekat.
Wajah di dalam tabung itu membuka mata perlahan... dan tersenyum.
Aira mundur ketakutan, menabrak rak besi di belakangnya hingga berderak. Lampu padam. Ruangan menjadi gelap total.
Dalam gelap itu, ia mendengar langkah kaki... dan bisikan dari segala arah.
*“Kamu bukan yang pertama...”*
*“Kamu bagian dari kami...”*
*“Selamat datang kembali...”*
Aira berteriak.
Tapi suaranya tidak terdengar.
--- Tamat Bab 5 ---