Pagi itu Pukul 07.30 , kabut masih menggantung rendah di halaman depan Rumah Sakit Mulya Sejahtera. Aira melangkah perlahan, matanya terlihat sayu sembab karna Aira semalaman kurang tidur. Karna kejadian Semalem Ketukan di jendela semalam masih menghantui pikirannya, begitu juga wajah wanita yang di dalam foto arsip itu terlihat sangat mirip dengannya. Tapi hari ini, ia dipanggil untuk menemui salah satu dokter senior.
Suster Santi, terlihat tampak lebih diam dari biasanya,saat menyerahkan sebuah map kepada Aira ia sambil berkata pelan, “Kamu harus menyerahkan ini ke Dokter Lazuardi. Ruangnya di lantai tiga.”
Aira mengerutkan kening. “Lantai tiga? Bukannya itu untuk ruang manajemen?”
Suster Santi hanya menatapnya, lalu membisik, “Dia tidak suka ditunggu.”
Dengan perasaan tak nyaman, Aira Mulai menapaki anak tangga menuju lantai tiga. Tangga itu terlihat sangat sempit dan berdebu, seperti jarang digunakan. Di tiap langkah, debu beterbangan, dan suara langkahnya menggema terdengar sangat keras. Tangannya meraba pegangan tangga tua yang dingin dan bergetar sedikit seolah tak stabil. Lorong di lantai tiga gelap, pencahayaannya redup meski jendela besar terbuka. Angin yang masuk justru membawa bau logam dan jamur.
Pintu dengan tulisan *Dokter Lazuardi – Kepala Penelitian Klinis* berdiri di ujung lorong. Plakat namanya berkarat, dan daun pintunya tampak seperti belum diganti sejak rumah sakit ini dibuka.
Dengan tangan gemetar, Aira mengetuk.
"Masuk," suara berat terdengar dari dalam.
Aira membuka pintu pelan. Ruangan itu besar dan penuh rak berisi buku-buku medis tua. Di balik meja besar dari kayu jati, duduk seorang pria berjas putih, rambutnya disisir rapi ke belakang, namun wajahnya tampak pucat dengan kantung mata gelap. Matanya tajam menelusuri sosok Aira saat ia melangkah masuk.
“Mahasiswa magang, ya?” suaranya dalam, tanpa ekspresi.
“I-iya, Dok... Saya Aira,” jawabnya sambil menyerahkan map.
Dokter Lazuardi tidak segera menerima map itu. Ia hanya menatap Aira dalam-dalam, seolah membaca isi pikirannya. Tatapan itu membuat Aira sesak.
“Kamu pernah bermimpi berjalan di lorong ini sendirian?” tanyanya tiba-tiba.
Aira terpaku. Jantungnya berdegup lebih cepat. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
“Ada sesuatu dalam dirimu,” gumamnya sambil menerima map. “Kita akan lihat, apakah kamu bisa bertahan lebih lama dari yang lain.”
Ucapan itu seperti bukan basa-basi. Lebih mirip ancaman.
---
Sejak pertemuan itu, Aira mulai lebih sering melihat sosok Dokter Lazuardi. Pria itu berjalan tenang di lorong-lorong rumah sakit yang sunyi, kadang muncul tiba-tiba tanpa suara. Tak jarang ia berdiri di ujung koridor, memerhatikan Aira dari kejauhan. Bahkan saat Aira berpaling, ia kadang masih merasa bahwa mata pria itu masih menembus punggungnya dari kejauhan. Kadang, langkah-langkah tak terlihat mengiringinya di lorong, tapi saat ia menoleh, lorong itu selalu kosong.
Aira juga mulai melihat pasien-pasien aneh—orang-orang yang tidak ada di daftar pasien resmi. Mereka sering terlihat duduk di ruang tunggu dengan tatapan kosong. Ada seorang ibu tua yang terus mengelus boneka rusak, seorang pria dengan kepala dibalut perban tapi tidak pernah bergerak, dan seorang anak kecil yang selalu berdiri di depan ruang bersalin yang sudah ditutup.
Ketika Aira bertanya pada Suster Santi tentang pasien-pasien itu, wanita itu hanya menjawab pelan, “Mereka sudah terlalu lama di sini. Kita tidak mencatat mereka lagi.”
Pernyataan itu membuat bulu kuduk Aira berdiri. Ia mulai merasa bahwa dinding rumah sakit ini menyimpan terlalu banyak rahasia yang sudah membusuk dan mengakar.
---
Suatu malam, Aira sedang menyortir obat di ruang penyimpanan. Lampu tiba-tiba mati. Hanya cahaya kecil dari koridor yang masuk melalui celah pintu. Saat ia hendak menyalakan senter dari ponselnya, seseorang membisikkan namanya dari dalam kegelapan.
“Aira...”
Suaranya berat, dan terlalu dekat.
Aira membalikkan badan. Tidak ada siapa-siapa. Tapi napasnya tercekat saat melihat siluet di balik rak obat. Sosok tinggi dengan jas putih... berdiri tanpa kepala.
Ia melangkah mundur, hampir jatuh, dan lampu kembali menyala. Rak-rak tampak normal, tidak ada siapa pun di sana. Tapi udara di ruangan itu masih dingin dan berbau aneh. Ia memperhatikan sekeliling, memastikan semuanya nyata, tapi hatinya tahu, tidak semua yang terlihat dapat dijelaskan.
Jantungnya masih berdebar saat ia kembali ke ruang jaga. Tangannya dingin dan gemetar. Ia mencoba menyibukkan diri agar tidak memikirkan kejadian barusan, tapi suara itu terus terngiang, membayang di telinganya seperti gema dari lorong yang tak berujung.
---
Besoknya, Aira mencoba mencari informasi tentang Dokter Lazuardi. Ia membuka komputer arsip dan mengetik namanya. Namun semua berkas tentangnya dilindungi sandi. Bahkan ada folder bertuliskan *ECHO-07* yang tidak bisa diakses. Ia mencatat nama itu diam-diam.
Saat ia kembali ke ruang jaga, Farhan sudah menunggunya.
“Kamu mencari data tentang Dokter Lazuardi?” tanyanya langsung.
Aira mengangguk pelan.
Farhan menghela napas. “Kamu harus berhenti. Semua orang yang mulai mencari tahu soal dia... hilang, atau gila.”
“Aku cuma ingin tahu kenapa aku selalu merasa diperhatikan di sini. Seolah aku bukan mahasiswa biasa,” ucap Aira lirih.
Farhan ragu-ragu, lalu berkata, “Kamu memang bukan yang pertama. Ada yang sebelum kamu. Juga bernama Aira.”
Aira terperanjat. “Maksud kamu?”
“Tanyakan saja pada lantai tiga... kalau kamu masih berani.”
---
Malam itu, Aira nekat kembali ke lantai tiga. Kali ini, ia tak mengetuk. Ia mendorong pintu ruang Dokter Lazuardi dengan cepat. Tapi ruangan itu kosong.
Di atas mejanya, terbuka sebuah map tebal. Di dalamnya, foto-foto pasien—semuanya wanita muda dengan wajah yang mirip... sangat mirip dengannya.
Beberapa foto bertanggal puluhan tahun lalu. Tapi wajah-wajah itu tidak menua. Seolah waktu tidak berlaku bagi mereka.
Aira merasa pusing, napasnya terengah. Ia berbalik dan melihat sesuatu di cermin besar di sudut ruangan. Sosok Dokter Lazuardi... berdiri di belakangnya. Tapi saat ia menoleh, ruangan itu kosong.
Di cermin, sosok itu masih ada. Tersenyum. Dan perlahan-lahan, bayangan Aira di cermin mulai berubah... menjadi salah satu dari wajah-wajah dalam foto di meja.
Telinganya berdesing. Suhu ruangan terasa menurun drastis. Bayangannya di cermin menatapnya dengan mata kosong dan senyum yang bukan miliknya.
Aira mundur dengan napas tercekat, meraih gagang pintu dan keluar tergesa-gesa, tak peduli apakah ada yang melihatnya atau tidak.
Dan saat pintu itu tertutup kembali... suara napas berat terdengar samar dari balik cermin.
--- Tamat Bab 4 ---