Langkah-langkah Aira dan Suster Santi bergema di lorong saat menuju Bangsal Terlihat Dindingnya semakin lembap dan cat nya mengelupas di beberapa titik, dan ubin yang diinjak pun terasa dingin, seperti belum pernah terkena matahari bertahun-tahun. Bau karbol bercampur sesuatu yang anyir samar memenuhi udara, menusuk hidung Aira.
“Bangsal Timur ini jarang dipakai,” ujar Suster Santi tanpa menoleh. “Tapi kadang, untuk pasien-pasien yang tidak bisa dirawat di ruang utama... ya, kita pakai juga.”
Aira menelan ludah. Suaranya tercekat. Ia tak mengerti kenapa hatinya terasa berat saat menyusuri lorong ini. Ada kesan asing, seperti ruangan itu tidak menerima kehadiran mereka. Seperti rumah sakit ini sadar akan setiap langkah mereka.
Saat mereka tiba di ujung lorong, Suster Santi membuka pintu tua dengan kaca buram di tengahnya. Di balik pintu, bangsal itu tampak kosong. Beberapa ranjang terjajar rapi, namun sprei putih di atasnya seperti terlalu putih, terlalu bersih... atau terlalu baru untuk ruangan setua ini.
“Sini, kamu bantu aku rapikan alat-alat ini dulu,” perintah Suster Santi. Aira menurut, meski matanya terus mengamati sekitar. Di dinding, jam besar tua berdetak pelan... namun detaknya tidak sinkron. Seolah waktu di ruangan itu berjalan dengan ritme yang berbeda.
Sambil menyusun peralatan, Aira mendengar sesuatu. Tangisan lirih. Seperti suara anak kecil. Ia menoleh, namun ruangan tetap kosong. Suster Santi tidak bereaksi sama sekali.
“Sust... Sust, tadi... kayak ada yang nangis deh?” bisik Aira.
Suster Santi hanya berhenti sejenak, lalu menoleh dengan senyum tipis. “Jangan terlalu dipikirkan. Rumah sakit ini menyimpan banyak suara. Tidak semuanya untuk didengar.”
Aira merasa merinding. Ia melanjutkan menyusun tray perban dan botol infus dengan gerakan kaku. Di sudut ruangan, ada tirai putih tertutup. Di balik tirai, Aira merasa seolah ada seseorang yang berdiri... memerhatikannya. Tirai itu bergerak pelan, meski tidak ada angin. Ia nyaris memanggil Suster Santi lagi, tapi memilih diam.
---
Hari-hari berikutnya berlalu dengan ritme yang aneh. Setiap pagi, Aira bangun dengan perasaan tidak utuh. Seperti sebagian dari dirinya tertinggal di tempat lain. Ia mulai terbiasa dengan suasana sunyi rumah sakit, meski tidak pernah benar-benar nyaman.
Ia mulai mengenali rute-rute lorong, jadwal pasien, dan bahkan aroma khas tiap ruang rawat. Tapi ada yang terus-menerus mengganggu: suara-suara lirih dari ruang kosong, ranjang yang bergerak sendiri, dan nama-nama pasien yang tidak ada di daftar resmi.
Suatu malam saat piket, Aira memeriksa Bangsal Selatan. Tempat itu seharusnya kosong. Tapi dari catatan log, seseorang baru saja menyalakan lampu ruangan itu. Ia membawa senter, berjalan perlahan. Di dalam bangsal, ia melihat sosok perawat berdiri membelakangi.
“Suster?” panggilnya.
Sosok itu tak menjawab. Aira melangkah lebih dekat... dan sosok itu hilang begitu saja. Tidak ada suara. Tidak ada jejak. Hanya senter Aira yang bergetar di tangannya. Bahkan udara di ruangan itu terasa hampa, seperti suara pun enggan menetap.
Ia segera keluar dan kembali ke ruang jaga. Farhan yang kebetulan lewat menatapnya heran.
“Kamu pucat banget,” ujar Farhan.
“Aku... tadi lihat seseorang di Bangsal Selatan. Tapi dia hilang begitu saja.”
Farhan terdiam sejenak. “Jangan pernah masuk ke bangsal itu malam-malam. Kalau lampunya menyala sendiri, biarkan saja.”
Aira mengernyit. “Kenapa?”
Farhan menatapnya, serius. “Karena yang menyalakan lampunya bukan manusia.”
---
Keesokan harinya, Aira duduk di ruang jaga bersama Suster Santi. Ia menceritakan kejadian semalam. Tapi Suster Santi hanya mendengarkan sambil tetap menulis laporan.
“Kamu masih baru. Banyak hal yang belum bisa kamu pahami. Tapi satu hal yang perlu kamu ingat: jangan mencari tahu hal-hal yang sudah dikubur.”
“Apa maksudnya, Sust?”
“Kalau kamu mulai bertanya tentang suara, sosok, atau ruangan tertentu... rumah sakit ini akan mulai menatap balik padamu.”
Aira membisu. Ucapan itu seperti bukan nasihat, tapi peringatan.
Hari itu, ia mendapat tugas mengantar dokumen ke ruang arsip lama. Ruangan itu ada di lantai dua, sayap barat. Saat menaiki tangga, ia merasakan hawa dingin yang sangat menusuk. Tangga berdebu, dan lorong lantai dua tampak seperti tidak digunakan bertahun-tahun. Lampunya remang, dan cat dindingnya terkelupas.
Ruang arsip berada di ujung. Pintu kayu berat itu terbuka dengan suara decitan panjang. Di dalam, rak-rak besi menjulang tinggi, dipenuhi map-map tua. Sebagian label map sudah pudar.
Aira meletakkan dokumen di meja, lalu tanpa sengaja matanya menangkap satu map bertuliskan: *Pasien 113 – Status Tidak Lengkap.*
Tangannya meraih map itu. Di dalamnya, hanya ada satu lembar laporan dan sebuah foto hitam-putih seorang wanita muda. Di baliknya tertulis: *Ditemukan di lorong timur, tidak sadarkan diri. Tidak ada identitas.*
Namun yang membuat Aira membeku adalah wajah di foto itu... sangat mirip dengannya. Ia memandangi foto itu lama, merasa seolah sedang melihat cermin dari masa lalu yang kelam. Jantungnya berdegup tak menentu.
---
Aira kembali ke ruang jaga dengan langkah gemetar. Ia ingin melupakan apa yang dilihat, tapi gambar itu terus terbayang. Ia tidak tahu apakah ini kebetulan, atau rumah sakit ini sedang menunjukkan sesuatu padanya.
Malamnya, Aira terbangun di asrama karena mendengar suara ketukan di jendela. Padahal kamarnya di lantai dua. Saat ia dekati jendela, tak ada siapa-siapa. Tapi di kaca, ada bekas telapak tangan mungil. Seperti milik anak kecil. Embun pada permukaan kaca memperjelas bentuk jari-jari mungil itu, seolah tangan itu benar-benar menyentuhnya dari luar.
Ia gemetar. Tidak bisa tidur lagi malam itu.
---
Hari-hari magang Aira mulai terasa seperti mimpi buruk yang tak berujung. Ia terus menjalani rutinitas keperawatan seperti biasa, namun perasaannya semakin tidak tenang. Kadang, ia merasa lorong-lorong rumah sakit berubah bentuk. Seperti tidak sama antara pagi dan malam.
Di suatu malam lainnya, ia kembali mendengar tangisan bayi dari ruang bersalin yang sudah ditutup sejak dua tahun lalu. Tapi setiap kali ia hampiri, suara itu menghilang. Di dekat pintu, ia sempat melihat kereta bayi tua bergoyang pelan, padahal tidak ada angin.
Ia mencatat semua keanehan itu di buku kecil secara diam-diam. Tapi ia merasa... rumah sakit ini tahu. Buku catatannya pernah berpindah tempat. Bahkan ada coretan di halaman terakhir: *Jangan tulis tentang kami.*
Dan sejak malam itu, setiap kali ia melewati cermin di lorong, bayangannya tertinggal beberapa detik lebih lama dari gerakan tubuhnya.
--- Tamat Bab 3 ---