Langkah kaki Aira terasa berat saat ia melangkah masuk melewati gerbang besi yang kini kembali menutup di belakangnya. Angin berembus dari sela-sela pepohonan, membawa aroma lembap dan tanah basah. Bangunan rumah sakit tampak lebih besar dari luar, dengan arsitektur tua bergaya kolonial yang catnya sudah mengelupas di banyak bagian.
Halaman depan yang luas tampak kosong. Tak ada pasien, tak ada satpam, bahkan tak ada suara. Hanya detak jantung Aira yang bergemuruh dalam d**a. Ia menatap papan nama kecil di dekat pintu masuk bertuliskan “Administrasi.” Dengan ragu, ia melangkah ke sana, tas ransel masih tergantung di punggung dan surat penempatan masih tergenggam erat di tangannya.
Di dalam ruangan administrasi yang remang-remang itu, Aira langsung disambut bau kertas tua dan udara pengap dari AC lama yang berdengung lirih. Dindingnya penuh rak besi berisi map-map lusuh, dan komputer tabung yang masih menyala di sudut meja. Di balik meja resepsionis, seorang pria muda tengah membalik-balik berkas dengan wajah serius.
Aira ragu-ragu melangkah lebih dekat.
"Permisi..."
Pria itu menoleh. Ia berusia sekitar awal dua puluhan, berambut pendek rapi, mengenakan kemeja putih dan name tag bertuliskan: **FARHAN – Staff Administrasi**. Matanya tajam, namun raut wajahnya tenang.
"Magang ya?" tanyanya dengan suara datar namun tidak ketus.
"Iya... Aira, dari Universitas Bina Sehat," jawab Aira sambil menyerahkan surat penempatan.
Farhan menerima surat itu, matanya menelusuri tiap baris dengan cepat. Ia mengangguk pelan, lalu mengetikkan sesuatu di komputer tua di depannya. Suara keyboard mekanik memecah keheningan ruang.
"Harusnya kamu langsung ke bagian perawat, tapi kebanyakan mahasiswa baru nyasar ke sini dulu," ujarnya sambil mengisi data.
Aira mengangguk kecil. "Rumah sakitnya... agak sepi ya."
Farhan berhenti mengetik sesaat, lalu menatap Aira. "Kamu akan terbiasa. Kalau sudah beberapa hari, kamu malah nggak akan merasa aneh lagi."
Nada bicaranya seolah menyimpan sesuatu. Tapi sebelum Aira sempat bertanya lebih lanjut, Farhan berdiri dan menunjuk ke arah koridor samping.
"Lewat lorong kiri, belok kanan, nanti ada ruang jaga suster. Cari Suster Santi, dia yang akan bimbing kamu hari ini."
"Terima kasih, Mas Farhan," ucap Aira dengan sopan.
Farhan mengangguk pelan, lalu kembali tenggelam dalam tumpukan berkas yang seolah tak pernah habis. Namun sebelum Aira benar-benar pergi, ia menambahkan lirih, “Kalau kamu mulai merasa ada yang ganjil, jangan bilang ke siapa-siapa dulu. Lihat dan dengarkan saja.”
Ucapan itu membuat langkah Aira sempat terhenti, namun ia memilih untuk diam dan meneruskan perjalanan.
---
Aira melangkah menyusuri lorong rumah sakit. Suara langkahnya bergema samar di lantai keramik tua yang mulai retak di beberapa bagian. Lampu-lampu di langit-langit menyala redup, seperti enggan menerangi keseluruhan koridor. Dindingnya penuh dengan poster kesehatan yang sudah memudar warnanya. Beberapa bingkai foto dokter lama masih tergantung miring, seolah lupa dirapikan selama bertahun-tahun.
Saat berjalan, Aira melewati beberapa pintu yang tertutup rapat. Ada satu pintu bertuliskan “GUDANG OBAT” yang terdengar seperti ada suara bisikan samar dari baliknya, tapi saat ia menoleh, suara itu menghilang begitu saja.
Ia membelokkan langkah ke kanan dan menemukan sebuah ruangan dengan papan nama: **Ruang Jaga Keperawatan**. Dari balik kaca jendela buramnya, tampak bayangan seorang wanita tengah menyusun botol-botol kecil ke dalam lemari.
Dengan ragu, Aira mengetuk pintu perlahan. Pintu terbuka dan wanita paruh baya berseragam putih itu menoleh sambil tersenyum.
"Kamu pasti Aira, ya?" tanyanya hangat. "Aku Suster Santi. Masuk, yuk."
Aira mengangguk dan melangkah masuk. Ruangan itu jauh lebih terang dibanding lorong sebelumnya, namun tetap saja terasa aneh. Udara di dalamnya berbau antiseptik tua, seperti sesuatu yang tertinggal dari masa lalu. Suster Santi terlihat cekatan, tapi ada sesuatu dalam caranya berbicara yang membuat Aira merasa wanita itu menyimpan banyak hal.
"Ini tempat jaga utama kami. Dari sini, semua jadwal dan laporan disusun," jelas Suster Santi sambil menunjukkan papan tulis penuh coretan dan lemari catatan.
Meja panjang di tengah ruangan tampak usang, dan di atasnya terdapat tumpukan berkas-berkas yang beberapa sudah menguning. Di pojok ruangan terdapat dispenser air yang terlihat tidak pernah diganti galonnya.
"Kamu akan mendampingi aku minggu pertama ini. Nanti kalau sudah terbiasa, baru kita bagi shift sendiri."
Aira memperhatikan sekeliling. Di sudut ruangan, terdapat rak-rak berisi arsip dengan label tanggal yang sangat lama, bahkan ada yang tercatat dari tahun 1998.
"Kok masih disimpan semua ya, Sust?" tanya Aira penasaran.
Suster Santi hanya tersenyum tipis. "Kami... punya cara sendiri menjaga catatan. Jangan khawatir, kamu akan mengerti nanti."
Aira duduk di kursi kayu yang agak reyot. Ia memperhatikan kalender di dinding—tertanggal dua tahun lalu. Belum diganti. Ia hendak bertanya, namun Suster Santi sudah kembali sibuk dengan dokumen.
Di salah satu sudut meja, Aira melihat sebuah boneka kecil terbuat dari kain, tergantung di sisi lemari, seperti gantungan kunci. Bentuknya aneh, tanpa mata, dan bagian wajahnya dijahit silang dengan benang merah. Ia ingin bertanya, namun rasa ragu menahannya.
Tiba-tiba, suara pelan terdengar dari interkom di sudut ruangan: *"Bangsal Timur, butuh bantuan segera."*
Suster Santi langsung meraih clipboard dan memberi isyarat pada Aira.
"Yuk, kita ke sana. Kamu sekalian aku kenalin sama lingkungan bangsal."
Aira berdiri dan mengikuti langkah Suster Santi ke lorong rumah sakit yang lainnya. Semakin jauh mereka berjalan, semakin gelap penerangan di langit-langit. Dinding di sisi kanan mulai tampak lembap. Aroma obat berubah menjadi bau karbol tua yang menusuk hidung.
Saat Aira melangkah di belakangnya, ia merasa udara di lorong mulai berubah. Suhu seperti menurun, dan ada semacam tekanan halus di dadanya. Ia menoleh ke belakang—tak ada siapa-siapa. Tapi dari ujung lorong, seolah ada bayangan yang tadi berdiri... dan kini telah menghilang.
“Suster… rumah sakit ini kayak… nggak terurus ya?” tanya Aira pelan.
Suster Santi menjawab tanpa menoleh, “Rumah ini punya caranya sendiri menjaga siapa yang datang dan siapa yang tinggal.”
Aira tak menjawab. Ia hanya mengikuti langkah kaki suster Santi yang semakin menjauh, menuju bangsal yang akan menjadi tempat pertamanya bekerja—dan mungkin satu-satunya tempat ia akan bertahan. Di dinding lorong, jam tua berdetak lambat, seperti menghitung waktu dengan ritme yang tidak wajar. Seolah-olah waktu di rumah sakit itu tak berjalan seperti dunia luar.
Hari pertama magangnya baru saja dimulai, dan Aira tahu, ini bukan rumah sakit biasa.
--- Tamat Bab 2 ---