Langit berwarna kelabu saat Fahmi dan Aira kembali menapaki lantai retak Rumah Sakit Mulya Sejahtera. Retakan dimensi yang telah mereka lewati di Ruang Omega masih terasa membekas, bagai luka dalam yang belum mengering. Aira kini berjalan dengan langkah lebih mantap—wujudnya tidak lagi transparan, namun belum sepenuhnya manusia. Cahaya samar kadang menari di permukaan kulitnya, seperti pantulan air pada permukaan kaca.
"Ada yang belum selesai," gumam Aira.
Fahmi memandang lorong utama rumah sakit yang kini seperti tubuh mati—tak ada lampu, tak ada suara, hanya bayang-bayang menggantung. Mereka menuju ke bagian arsip lama—ruangan paling dalam, di mana file pasien dari puluhan tahun tersimpan.
"Kenapa ke sini?" tanya Fahmi.
"Karena kita harus menemukan siapa pencipta aslinya. Bukan ilmuw