BAB 35 : SELAMAT TINGGAL, RUMAH SAKIT MULYA SEJAHTRA
Langit pagi di atas Rumah Sakit Mulya Sejahtera tampak berbeda hari itu. Kabut yang biasanya menggantung pekat dan tak mau pergi, kini perlahan menguap, meninggalkan sinar matahari hangat yang menari di sela-sela dahan pohon flamboyan. Aira berdiri di depan gerbang rumah sakit itu, mengenakan seragam barunya yang bersih dan berwarna cerah. Di tangannya tergenggam map berisi surat resmi dari kementerian kesehatan—sebuah keputusan penting: rumah sakit ini resmi ditutup untuk renovasi besar-besaran dan akan dibuka kembali sebagai rumah sakit pendidikan bebas dari sejarah kelamnya.
Ia menarik napas panjang, lalu menoleh ke samping. Di sana, Fahmi berdiri dengan wajah tenang, membawa kamera dokumentasi dan tas ransel. Sejak kejadian di “Pintu Omega,” keduanya menjadi bagian dari tim khusus yan