Langkah Fahmi menggema dalam lorong bawah tanah Rumah Sakit Mulya Sejahtera yang kini sudah tak menyerupai bangunan dunia nyata. Setelah apa yang terjadi di Ruang Proyeksi, retakan antara dunia dan cermin kesadaran mulai melebar. Waktu dan ruang bergulung seperti kain lusuh, dan jam tangannya telah berhenti bekerja sejak ia memasuki gerbang Omega.
Di sampingnya, Aira berjalan dengan langkah perlahan. Sosoknya masih transparan, tapi jauh lebih stabil daripada sebelumnya. Setelah eksperimen proyeksi dibalikkan oleh aktivasi inti sistem, Aira mulai membentuk eksistensinya di antara dua dunia. Namun, kehadirannya tidak menjamin mereka aman. Justru sebaliknya.
“Pintu Omega,” ucap Aira, menatap ujung lorong yang kini dihiasi pilar-pilar gelap menjulang dari lantai hingga langit-langit. “Bukan