Langit di luar RSMS seolah berhenti bernafas. Saat Fahmi dan Aira melangkah keluar dari Ruang Jantung, batas antara dunia nyata dan proyeksi terasa semakin tipis, nyaris tidak ada. Cahaya matahari yang seharusnya menghangatkan justru menciptakan siluet panjang dan aneh di lorong-lorong rumah sakit yang terbengkalai.
Aira menggenggam tangan Fahmi. Ia tidak lagi seperti entitas kabut sebelumnya, tubuhnya kini terlihat lebih padat, lebih nyata. Namun matanya tetap menyimpan bayang-bayang yang hanya bisa dimiliki seseorang yang pernah berada di antara hidup dan kematian.
“Kita harus keluar,” ujar Aira. “Tapi kita tidak bisa begitu saja meninggalkan sistem yang terbuka. Kalau kita biarkan, dunia nyata bisa terperangkap dalam ruang proyeksi yang tidak stabil.”
Fahmi mengangguk, walau pikirann